Ironi Negeri Mayoritas Muslim.

 

Oleh: Nanang Hidayat*

Mengambil yang bukan hak.

promooktober1

Pada dasarnya manusia tidak bisa memenuhi semua kebutuhan secara menyeluruh oleh dirinya sendiri, apalagi di jaman sekarang di mana manusia dalam aktivitasnya mengarah kepada spesialisasi, dan untuk saling menukarkannya dalam bentuk transaksi perniagaan atau perdagangan. Di dalam perdagangan ini bisa barang yang jadi objek jual beli seperti perdagangan pada umumnya, ataupun jasa yang diperjual belikan. Adapun perdagangan jasa yang mudah dikenali diantaranya adalah pekerja yang mempunyai suatu kemampuan atau keakhlian menjualnya kepada suatu lembaga/perusahaan dalam bentuk dia bekerja di lembaga/perusahaan tersebut, termasuk di sini adalah para Pegawai Pemerintah, BUMN/D, ABRI dan juga para pejabat pemerintah baik yang berada di Eksekutif, Legislatif ataupun Yudikatif, kemudian mereka mendapat imbalan yang telah disepakati bersama dalam peraturan/perundangan.

Para pekerja termasuk para pejabat tersebut karena telah memberikan kemampuan dan keakhliannya kepada Negara, maka mereka mendapat imbalan dalam bentuk gaji dan atau pendapatan lain sesuai dengan peraturan perundangan. Jika mereka karena kekuasaan dan kewenangannya sengaja memperoleh sesuatu manfaat di luar yang telah ditentukan dan salah satunya adalah korupsi, maka jelas melanggar perintah Allah Swt karena telah berlaku batil dengan mengambil sesuatu yang bukan haknya, Negara dan rakyat dirugikan karena yang diambilnya itu adalah hak mereka. Allah Swt telah memerintahkan

Hai, orang-orang beriman! Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara haram, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya, Allah Maha Penyayang kepadamu “. (QS.An-Nissa:29).

Di dalam ayat tersebut Allah menggandengkan larangan memakan harta secara batil dengan larangan bunuh diri, hal ini pasti mempunyai suatu hubungan dan makna yang sangat mendalam, yang pasti dua-duanya adalah dosa besar. Kemudian di akhir ayat Allah Swt berfirman “Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu“, hal ini berarti bahwa kalau dalam perniagaan tidak ada kebatilan terutama korupsi maka Allah akan menurunkan karunia-Nya dalam bentuk kesejahteraan dan kemakmuran untuk semua fihak. Namun jika kebatilan terutama korupsi meraja lela pasti Allah akan menurunkan peringatan atau bahkan azab dalam bentuk kesengsaraan, kemelaratan/kemiskinan dan kekacauan tidak akan terelakkan.

Sehubungan dengan pengambilan sesuatu yang bukan hak, kita bisa baca dan renungkan serta diresapi antara lain yaitu ketika Nabi Syu’aib As berkata kepada kaumnya  “…Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”….(QS. Huud: 84).

Perkataan para Nabi disampaikan kepada umat manusia selalu berdasarkan perintah Allah, demikian juga dengan perkataan Nabi Syu’aib As pastilah berdasarkan tuntunan dan jadi hukum Allah Swt, dan kita lihat dalam ayat inipun ada suatu benang merah antara menyembah Allah dengan larangan perbuatan batil yaitu tidak mengurangi timbangan dan dengan azab di hari kiamat.

Bagaimana di negeri ini

Penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam, otomatis pemimpinnya baik di Eksekutif, Yudikatif ataupun Legislatif kebanyakan beragama Islam, dan sebelum memangku jabatan disumpah dengan mempergunakan Al Qur’an dan teks sumpah dimulai dengan ucapan “Demi Allah“, tapi secara faktual tidak bisa dipungkiri tidak sedikit yang melakukan korupsi, baik di Eksekutif, Legislatif ataupun Yudikatif, di Pusat ataupun di Daerah. Tidak usah disebut satu persatu kasus-kasus besar yang terjadi, karena semua media yang ada, baik cetak ataupun elektronik sudah sangat sering memberitakannya.

Sedangkan di sisi lain kemiskinan bukan berkurang akan tetapi terus bertambah, baik kualitas ataupun kuantitas, sarana publik antara lain sekolah tingkat dasar banyak yang memprihatinkan, jalan danbaik kualitas ataupun kuantitas, sarana publik antara lain sekolah tingkat dasar banyak yang memprihatinkan, jalan dan jembatan rusak, ada daerah yang sampai sekarang belum menikmati listrik dsb, inipun media sering memberitakannya.

Kembalilah kepada aturan hukum Allah.

Faktor utama dari kebatilan terutama korupsi adalah sifat tamak (al hirsh), ada yang berpendapat bahwa tamak, loba dan serakah adalah pada posisi dosa besar yang akibatnya lebih panas dari api neraka, di mana nilai seseorang makin rendah di mata masyarakat dan rijkinya tidak akan barokah bahkan akan jadi azab di yaumil akhir. Tamak akan menuai aib tapi bagi orang tamak tidak ada perasaan malu, dan umumnya tamak mengundang bencana tidak hanya kepada yang tamaknya saja tapi juga bisa kena kepada keluarga, masyarakat dan sebagainya. Allah Swt berfirman:

Sungguh, kamu akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi) sebagai manusia yang paling tamak pada kehidupan dunia, bahkan lebih tamak daripada orang-orang musyrik. Mereka ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan” (QS.Al Baqarah: 96)

dan dalam salah satu riwayat Rasul Saw bersabda “Tamak itu diharamkan dan dia bersama barang yang diharamkan itu hina dimana saja berada, betapa tidak karena sesungguhnya dia lari dari keyakinan kepada Allah Swt”.

Peradaban Islam pernah mengalami kejayaan karena para pemimpin Negara-negara Islam selalu menjunjung tinggi dan menegakkan hukum yang mengacu kepada akidah bahwa semua perintah-Nya harus dilaksanakan dan semua larangan-Nya harus dihindari dan dijauhi, serta orientasinya selalu untuk kesejahteraan umat. Kita sering dengar dan baca kisah seorang Khalifah yang memikul gandum dari Baitul Maal untuk diserahkan kepada seorang miskin dan dia tidak mau dibantu oleh pegawainya, atau kisah Khalifah yang sedang bekerja malam hari mempergunakan lampu yang dibiayai negara kemudian saat anaknya akan berbicara perihal yang tidak berkaitan dengan negara, maka Khalifah tersebut mematikan lampu negara dan diganti dengan lampu pribadi.

Ataukah kita sudah sampai pada suatu zaman yang telah diprediksi Rasul Saw yang bersabda “Akan datang suatu zaman ketika orang-orang tidak lagi peduli apakah ia memperoleh kekayaannya dengan cara halal atau haram“. Kalau sudah berada pada zaman ini jangan harap kemakmuran, kesejahteraan dan kemuliaan dapat dicapai, malah akan kita temui kesengsaraan, kemiskinan/kemelaratan dan kehinaan yang diikuti kekacauan. Wallahu’alam. [ ]

*Penulis adalah Ketua Zakatel Citra Caraka.

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

 

 

 

(Visited 25 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment