Cukup Dua Alasan Ini,Kasus ”KKN” Bisa Diterima Akal

 

Peristiwa kesurupan menjadi hal yang lazim terjadi di Indonesia. Bahkan, kejadiannya berlangsung secara massal, melibatkan banyak orang di suatu lingkungan tertentu. Di sebuah sekolah menengah atas, puluhan siswa secara tiba-tiba mengalami kejang-kejang dan kesurupan. Demikian juga di sebuah pabrik rokok, belasan karyawannya tiba-tiba menjerit, menangis, dan berteriak-teriak serta mengerang kesakitan dalam waktu yang hampir bersamaan. Fenomena ini kemudian memunculkan istilah plesetan dari KKN, bukan Kolusi,Korupsi dan Nepotisme yang sedang dibrantas pemerintah atau Kuliah Kerja Nyata yang menjadi syarat kelulusan seorang mahasiswa , melainkan Kasus Kesupuran Nasional. Kasus kesurupan bisa dilihat sebagai salah satu pintu masuk iblis dalam menggoda manusia.

”Iblis berkata, ’Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.’”(Q.S. Al Hijr 15: 39)

”Dia (iblis) berkata, ’Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil.’” (Q.S. Al Isra 17: 62)

Untuk mengkaji masalah kesurupan, paling tidak kita bisa melihatnya dari dua sudut pandang utama. Pertama, sudut pandang medis dan yang kedua sudut pandang agama.

  1. Sudut Pandang Medis

Dalam sudut pandang medis, kesurupan dikategorikan sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan manusia. Dalam hal ini, tidak ada kaitannya sama sekali dengan masalah gaib seperti kemasukan setan atau gangguan roh halus. Pandangan ini sangatlah wajar, rasional, dan memang harus begitu, mengingat dunia medis berusaha memahami berbagai penyakit dari sudut pandang ilmiah yang harus bisa diterima secara logika dan dibuktikan alasannya.

donasi perpustakaan masjid

Dalam sebuah perbincangan ,Dr. Teddy Hidayat SpKJ, Psikiater R.S. Hasan Sadikin dan Dosen FK Unpad, menjelaskan bahwa dalam psikiatri, kesurupan merupakan kondisi di mana seseorang mengalami reaksi disosiasi karena adanya penurunan kesadaran secara kualitatif. Orang yang mengalami reaksi disosiasi tetap punya kemampuan berjalan, berlari, berteriak, dan berbuat seperti manusia normal, hanya saja, kesadarannya tak lagi penuh. Dr. Syafari Soma SpKJ, Kepala Unit Rawat Jalan RSJ Cimahi, menambahkan bahwa kesurupan cenderung terjadi pada orang yang memiliki Histerycal Personality. Orang seperti itu sangat mudah tersugesti hal negatif sehingga saat keseimbangan mentalnya terganggu, muncullah tindakan tak terkontrol seperti berteriak, berontak, dan lain-lain yang disebut dengan reaksi disosiasi.

Apabila kesurupan yang terjadi pada diri seseorang merupakan suatu bentuk gangguan jiwa yang disebabkan adanya sugesti atau rangsangan dari dalam diri atau lingkungan sekitar, kesurupan seperti itu sebenarnya bisa dihindari dengan cara memberikan sugesti pula agar kesurupan itu tidak terjadi. Misalnya, setelah terjadi kesurupan di sebuah pabrik, pihak pabrik berusaha mensugesti karyawannya agar tidak kesurupan lagi di lain waktu dengan cara memberikan peringatan, misalnya ”Karyawan yang mengalami kesurupan berulang akan dipecat”. Dengan memberikan sugesti semacam itu, tentu para karyawan akan berusaha senantiasa menjaga kesadarannya ketika bekerja sehingga akan terhindar dari kesurupan.

  1. Sudut Pandang Agama

Dari sudut pandang agama, kesurupan berkaitan dengan urusan gaib, terutama gangguan setan kepada manusia. Namun, kita patut berhati-hati pula dalam menyimpulkannya karena sebenarnya bisa jadi kesurupan yang terjadi pada diri seseorang itu bukan berupa kemasukan setan tetapi benar-benar merupakan gangguan kejiwaan yang bisa dikaji dan ditangani secara medis. Dr. Tauhid Nur Azhar, M.Kes. M.Si. Med., seorang peneliti Patobiologi, mengingatkan hal tersebut karena banyak musuh-musuh Islam atau bahkan sebagian orang Islam sendiri beranggapan bahwa Islam adalah agama yang tidak rasional; salah satu buktinya adalah urusan kesurupan.

Apabila kesurupan yang terjadi pada diri seseorang memang merupakan satu bentuk gangguan setan, hal yang harus kita jadikan acuan pertama dan utama dalam memahaminya adalah Al Quran dan hadis. Ingat, manusia memiliki keterbatasan untuk mengetahui perkara gaib sehingga kita pun harus benar-benar menyandarkan sikap, pandangan, dan pola pikir berdasarkan informasi dari Al Quran dan hadis. Setan atau jin bisa melihat manusia sedangkan manusia tidak bisa melihat mereka. ”Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Q.S. Al A’raf 7: 27)

Berkaitan dengan apakah setan memang masuk ke dalam diri manusia yang kesurupan atau tidak, Ust. Aam Amiruddin dalam bukunya Menelanjangi Strategi Jin menjelaskan bahwa setan memang benar-benar bisa masuk ke dalam tubuh manusia, bahkan kepada diri orang saleh. Salah satu dasarnya adalah sebuah hadis yang diriwayatkan Hakim yang mengisahkan Rasulullah saw. menyembuhkan seorang anak yang mengalami gangguan jiwa dengan mengatakan, “Keluarlah wahai musuh Allah, Aku adalah Rasulullah!”

Hal lain yang harus kita sadari dan waspadai berkaitan dengan urusan kesurupan adalah bahwa setan memiliki sangat banyak cara untuk menggelincirkan manusia dari jalan yang lurus, dan salah satunya adalah kesurupan itu sendiri. Namun, bisa jadi pula peristiwa kesurupan tersebut sesungguhnya bukan tujuan utama dari setan dalam menggelincirkan manusia. Justru mereka berusaha menggelincirkan manusia dalam hal bagaimana manusia menyikapi kejadian-kejadian tersebut. Misalnya, kita mempercayai adanya kejadian ini karena tidak mengadakan syukuran yang disertai dengan sesaji ketika hendak membangun atau merombak suatu tempat. Sehingga di lain waktu, kita merasa harus memberikan sesaji ketika hendak melakukan tindakan serupa.

Kita dibuat ragu, setengah percaya, percaya tidak percaya, dan bahkan percaya sepenuhnya dengan hal tersebut, yang sesungguhnya kita sudah masuk dalam salah satu perangkap setan. Setan akan senantiasa berusaha menjadikan perbuatan jelek tampak seperti perbuatan baik dalam pandangan manusia. Kita memang bukan orang yang kesurupan, namun kita teperdaya dengan adanya peristiwa kesurupan dan keimanan kita kepada Allah pun menjadi luntur. Ingat, iblis akan berusaha sekuat tenaga mengajak manusia kepada kesesatan, caranya adalah dengan menjadikan perbuatan sesat tampak baik di pandangan manusia.

”Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.” (Q.S. An-Nahl 16: 63) . [ ]

 

Red: Agung

Editor: Iman

Ilustrasi foto:

 

promo-kalender

 

(Visited 11 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment