Tawaf Naik Monorail

 

Oleh: Ir.H.Bambang Pranggono MBA*

 

 “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah syiar-syiar Allah. Maka barangsiapa berhajji atau umrah, tidak mengapa baginya bertawaf antara keduanya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 158)

iklan donasi pustaka2

 

Ayat diatas menunjukkan bahwa tawaf bukanlah hanya mengelilingi Ka’bah saja, tetapi berjalan antara bukit Shofa ke bukit Marwah tujuh kali juga disebut tawaf.  Raghib al-Isfahani dalam Al-Mufradat mendefinisikan bahwa tawaf adalah berjalan kaki mengelilingi sesuatu. Tetapi, mungkin tidak harus berjalan kaki.

Rasulullah Saw. dikisahkan pernah bertawaf mengelilingi Ka’bah naik unta. Setiap melewati rukun Hajar al-Aswad beliau menyentuhnya dengan tongkat, sebagai ganti mencium batu hitam itu. Belasan tahun yang lalu kita biasa melihat orang-orang tua bertawaf digotong dengan tandu, terguncang-guncang diusung oleh 4 orang laki-laki kulit hitam. Sekarang, setiap hari kita melihat orang-orang yang didorong naik kursi roda bertawaf di Ka’bah atau Shafa Marwah. Biasanya, ketika Masjidil Haram padat, kursi roda dialihkan ke lantai dua. Terakhir, kita juga melihat orang-orang yang bertawaf sendiri menaiki kursi roda bermesin yang digerakkan baterai. Mereka mengemudikan sendiri tanpa dibantu orang lain yang mendorong. Teknologi transportasi tidak terbendung.

Konon tidak lama lagi pemerintah Saudi Arabia akan membangun tahap-tahap lanjutan dari sistem transportasi monorail. Dr. Muhammad Naji Kurdi, ahli monorail Mekah mengatakan bahwa monorail bukan hanya akan memudahkan ibadah haji, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia Saudi. Dari ketergantungan pada minyak bumi yang tidak terbarui, ke arah industri berkelanjutan di bidang manufaktur suku cadang, gerbong dan pengoperasian monorail modern yang tepat waktu.

Dicadangkan juga bahwa nantinya jalur-jalur monorail penghubung Mina-Muzdalifah-Arafah akan diintegrasikan dengan jalur monorail tawaf di sekitar Ka’bah dan antara Shafa-Marwah. Sehingga, ketika jamaah melaksanakan ritual manasik haji tidak perlu turun dari gerbong-gerbong monorail. Melontar jumrah Ula-Wustha-Aqabah cukup dari jendela gerbong. Lalu, para jamaah haji akan bertawaf dan bersa’i di atas gerbong. Dan akhirnya jalur itu terhubung dengan monorail ekspress kecepatan tinggi jurusan Mekkah-Madinah yang sedang disiapkan oleh Saudi Railway Organization (SRO).

Jarak 400 km akan ditempuh dalam 1,5 jam saja. Maka, umrah di Mekah plus ziarah ke masjid Nabawi bisa selesai setengah hari saja. Sedangkan haji besar bisa selesai dalam lima hari. Alangkah irit dan efisien, tidak mubadzir. Tentunya, tetap masih ada pilihan bagi mereka yang ingin berlama-lama di sana. Bagaimana pun halnya kita ucapkan, Selamat datang era monorail ultramodern ke daerah tradisi unta di Arabia. Ahlan wa sahlan, wa marhaban bikum ayyuhal monorail. [  ]

 

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku.

Editor: Iman

Ilustrasi foto : “A Monoril 800x600x300” by Monoril – .jpg. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons.

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected]om.  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

Promo-Kalender

 

(Visited 18 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment