Konsep dan Praktek Dakwah Islam Bukan Radikalisme

 

Dalam rangkaian kegiatan Qini Nasional ke 130 tahun, Tarekat Al Idrisiyyah yang berlokasi di Pagendingan  Desa Jatihurip Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya menyelenggarakan  acara seminar dengan mengambil tema “ Metode Dakwah Anti Radikalisme”, Sabtu (26/12/2015). Seminar yang diiikuti 100-an dai dan daiyah ini menghadirkan narasumber : Syeikh Muhammad Faturahman, M.Ag. (Mursyid Tarekat dan Pondok Pesantren Al Idrisiyyah), Muhammad Roinul Balad, S.Sos. (Sekretaris Umum Dewan Dakwah Jabar), serta Ali Abu Khotib, Lc. (Ketua Ikatan Dai Dewan Dakwah Pusat/IHDI).

Syeikh Faturrahman mengungkapkan bahwa ruh Islam itu ada pada dakwah, terbukti kita hari ini berislam karena ada aktivitas dakwah yang dilakukan oleh orang terdahulu. Untuk  itu aktivitas dakwah tersebut harus terus dilakukan oleh kaum muslimin dimanapun dan kapanpun serta kepada siapapun khususnya yang belum mendapat hidayah.

iklan donasi pustaka2

“Namun, harus diwaspadai bahwa pada diri manusia itu ada musuh yang terbesar yakni nafsu. Banyak orang yang hidupnya dikendalikan dan dituntun oleh nafsu, sehingga banyak manusia yang terjerumus ke lubang kenistaan,” imbuhnya.

Menurut Syeikh Faturahman, untuk mengalahkan musuh yang namanya nafsu tersebut salah satu caranya dengan mengikuti metode Rasulullah. Dalam metode ini yang pertama dilakukan yaitu mujahadah, menundukan nafsu, proses ini dilakukan Rasulullah dengan cara menyendiri di gua Hira. Kemudian yang kedua, dengan melakukan riadhah, mengolah jiwa untuk membersihkan penyakit hati dalam dirinya.

Sementara untuk metode dakwah, Syeikh Faturahman mengingatkan bahwa dakwah Islam harus dilakukan dengan bimbingan Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an, Allah dengan sangat jelas menyampaikan bahwa proses dakwah harus dilakukan dengan penuh hikmah dan menggunakan perkataan atau ajakan yang lemah lembut.

“Kuncinya dakwah di era sekarang ini adalah dengan melakukan silaturrahmi dan ukhuwah dengan berbagai elemen dakwah maupun ormas Islam. Lahan dakwah yang begitu luas dengan ragam permasalahan yang kompleks tidak bisa hanya dilakukan atau dipikul oleh kelompok atau satu ormas saja,” ujarnya.

Pembicara kedua, M. Roinul Balad dari Dewan Dakwah Jawa Barat menjelaskan tentang arti dan makna radikal. Ia menyampaikan bahwa pada dasarkan perilaku radikal ada pada semua penganut agama bahkan hingga berbentuk Negara. Hal itu ditandai dengan adanya aksi individu maupun kelompok yang bukan saja dilakukan kalangan umat Islam saja.

“Siapa pembakar masjid di Tolikara, pengrusakan masjid di Bali, pembantaian muslim di Rohingya dan sebagainya. Perlu dicatat bahwa saat ada Negara yang tindakannya paling radikal di seluruh dunia, bukan hanya terhadap warga Palestina, yakni Israel,” ungkapnya.

Sementara banyaknya tuduhan kepada umat Islam melakukan tindakan radikalisme dalam aktivitas dakwahnya, hal ini menurut M. Roin sebagai salah satu konspirasi musuh Islam yang ingin menghancurkan kekuatan umat Islam. Namun dalam makna yang lebih luas maka makna radikal bisa positif jika dilakukan dengan kaidah yang benar.

“Orang Islam bahkan penganut agama mana pun harus radikal dalam beragama artinya bersungguh-sungguh. Aktivitas seorang muslim yang melaksanakan aksi radikal yang negative tidak bisa mewakili Islam itu hanya tindakan individu,” imbuhnya.

Senada dengan Syeikh Faturrahman, ia pun sepakat bahwa Islam tidak mengenal istilah dakwah radikal dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dakwah yang dilakukan Islam adalah dakwah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis,” pungkasnya.

Sementara itu, Ali Abu Khatib memaparkan akan pentingnya seorang dai menjaga akhlak dan godaan selama berdakwah. Menurutnya tantangan dan godaan dakwah untuk meninggal dakwah bukan hanya hal-hal atau kondisi yang menyulitkan namun juga hal yang memudahkan. Ia mencontohkan kisah-kisah dakwah para Nabi dan Rasul yang Allah uji dengan ragam kesusahan dan kesenangan.

“Ujian kesusahan seperti kisah Nabi Ayub, Nabi Nuh hingga Nabi Ibrahim. Rata-rata kita akan kuat menghadapi dakwah yang sulit,namun justru belum tentu kuat jika diuji dengan kesenangan dan kenikmatan,”ujarnya.

Untuk ujan kesenangan tersebut ia memberikan contoh kisah Nabi Musa yang sudah mendapat kenikmatan hidup tinggal di istana. Demikian juga dengan kisah Nabi Yusuf yang mendapat jabatan sebagai menteri bahkan Rasulullah Saw sendiri yang mendapat tawaran jabatan, kekuasaan,harta bahkan wanita. Namun karena bukan itu tujuan dakwah maka semua tawaran duniawi tersebut mereka tinggalkan.

“Godaan dai zaman sekarang rasanya tidak jauh berbeda dengan para Nabi dan Rasul alami,hanya berbeda kadar saja. Namun dengan tetap berpegang teguh pada tauhid dan senantiasa berdoa kepada-Nya, insya Allah kita akan dikuatkan,”pesannya.

Acara seminar ini dihadiri seratusan peserta dari berbagai elemen dakwah di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Selain itu  diikuti juga beberapa anggota jamaah Tarekat Al Idrisiyyah dari berbagai daerah diluar Jawa bahkan ada yang datang dari Aceh,Lampung, Kupang hingga Kalimantan. [ ]

 

Rep: Iman

Editor: Candra.

Editor Bahasa: Desi

 

 

kalender

(Visited 13 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment