Pengamat Ungkap Fakta Ini Tunjukkan Konspirasi Zionis Yahudi Ada di Indonesia

Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Barat kembali menggelar kegiatan bulanan mudzakarah cendekiawan dalam menyoroti dan merumuskan jalan keluarnya atas berbagai masalah umat. Untuk kegiatan bulan ini, berlangsung di Kota Bandung, Kamis (24/12/2015) kemarin,  tema yang disorot adalah “Skenario Global Yahudi Terhadap Dunia Islam dan Indonesia”.

Acara yang dihadiri para Dewan Pakar ICMI Jabar dan kaum muslimin ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Obsatar Sinaga (pengamat politik), mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati  Prof. Dr. Dedi Ismatullah dan  mantan anggota Dewan Ketahanan Nasional  Prof. Dr. M. Baharun.

Dalam paparannya,  Obsatar menyampaikan salah satu keberhasilan gerakan konspirasi Yahudi dengan gerakan zionisnya di berbagai Negara termasuk Indonesia.  Gerakan yang dilakukan secara teroganisir dan sistemik  dinilainya telah mempunyai dampak yang luas dan merata dalam berbagai bidang kehidupan baik lokal maupun global.

“Konspirasi yang paling umum dan terlihat nyata adalah menciptakan jebakan krisis ekonomi. Sektor ekonomi adalah sektor yang paling sensitif  baik secara individu maupun bermasyarakat. Ketika perekonomian kacau, maka akan merembet ke sektor lainnya khususnya politik,” jelasnya.

Ia menambahkan, jurus ampuh dan cepat  mengatasi krisis ekonomi tersebut adalah dengan meminjam kepada pihak ketiga baik lembaga donor khususnya IMF maupun pemilik modal swasta. Menurutnya, jebakan ekonomi Zionis ini banyak mulusnya karena dibungkus dengan kemasan paket kebijakan atau bantuan kemanusiaan.  Kebijakannya ini diterapkan secara langsung maupun jangka panjang sehingga jeratan ekonomi tersebut akan memengaruhi kebijakan politik suatu negara baik dalam dan luar negeri.

promooktober

“Ini dapat kita rasakan bagaimana perjalanan politik di Indonesia pascakrisis ekonomi 1998 hingga saat ini. Meski sudah berganti empat presiden dan kabinet, namun tidak mengalami perbaikan secara signifikan baik sektor ekonomi maupun kegaduhan politiknya. Rencana pemerintah hapus bebas visa warga Israel ke Indonesia itu hanya sebagian kecil saja,” imbuh Obsatar yang juga menjabat sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial  dan Politik Universitas Padjadjaran ini.

Menurutnya, untuk bisa kembali bangkit dan mandiri diperlukan adanya kesadaran terhadap cengkraman tersebut lalu bertekad kuat untuk melepaskannya. Namun demikian, untuk mewujudkannya diperlukan sosok pemimpin yang “out of the book” yang mampu membangun bangsa tanpa dominasi asing dalam pemerintahannya.

“Selama pemimpinnya masih tunduk pada program global Zionis atau istilahnya antek Amerika maka akan sulit. Saya melihat disinilah tantangan sekaligus peluang ICMI khususnya dan umat Islam umumnya dengan melahirkan kader terbaiknya untuk tampil memimpin,” tantangnya.

Sementara itu, Dedi Ismatullah menyampaikan cengkraman Yahudi dengan gerakan Zionis di Indonesia sudah terasa sejak pascakemerdekaan. Salah satu buktinya adalah dengan terhapusnya Piagam Jakarta pada pembukaan UUD 1945, padahal sehari sebelumnya telah disepakati oleh para pendiri bangsa yang mayoritas para ulama.  Ia menambahkan dampak dari terhapusnya Piagam Jakarta tersebut merembet pada sistem perundang-undangan selanjutnya bahkan hingga saat ini.

“Harus kita akui peran umat Islam masih lemah dalam program legislasi nasional (prolegnas) khususnya yang digulirkan lembaga legislasi baik pusat maupun daerah,”ujat mantan Rektor UIN SGD Bandung ini.

Ia menyebutkan, salah satu buktinya adalah beberapa produk hukum nasional yang belum atau malah tidak berpihak kepada umat Islam seperti UU Pornografi, UU Pendidikan Nasional, UU Migas dan berbagai produk undang-undang lainnya. Menurutnya, produk-produk hukum tersebut langsung atau jangka panjang akan memarginalkan dan mengerdilkan peran umat Islam dalam membangun dan mengelola bangsanya sendiri.

“Jangan lupa fenomena LGBT yang sudah disahkan di Amerika kasusnya sudah marak di sekitar kita. Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang diusung tokoh liberal yang mengaku muslimah  itu juga jeratan dari konspirasi itu. Belum liberalisasi dalam setor migas, UU SDA hingga sistem lainnya,” Dedi mengingatkan.

Ia pun mengakui dari sisi kepemimpinan belum ada yang mampu menyatukan (ukhuwah) potensi umat Islam. Menurutnya para pemimpin, masih sebatas ketua partai atau ormas saja.

Senada dengan Obsatar, Dedi pun memberikan solusi untuk melawan konspirasi tersebut yakni umat Islam kembali ke Al-Qur’an dengan semurni-murninya dengan tidak mencampur antara yang hak dengan yang bathil.

“Cara terbaik ya solusi dari Allah yakni kembali pada Al-Qur’an dan mencontoh Rasulullah melalui hadisnya. Kita bangun ukhuwah lewat shalat berjamaah dan berjamaah dalam berbagai kegiatan lainnya.  Kalau mereka bisa bersatu menyerang kita mengapa kita bisa berukhuwah melawan mereka?” ajaknya.

Dalam pengantarnya Ketua ICMI Orwil Jabar, Prof. Dr. M. Najib mengungkapkan bahwa kegiatan mudzakarah cendekiawan ini dilakukan rutin setiap bulan dengan mengambil kajian atau tema yang berbeda. Najib juga mengungkapkan bahwa ICMI khususnya Orwil Jabar dalam sejak beberapa tahun ke belakang sudah memulai adanya gerakan kembali ke Al-Qur’an dalam berbagai bentuk kegiatan, baik membaca maupun kajian lainnya. [  ]

 

Rep: Iman

Editor: Candra

Editor Bahasa: Desi

 

kalender

 

 

 

(Visited 68 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment