Umat Kristen Dianggap Intoleransi, Jika Paksa Karyawan Muslim Pakai Atribut Natal

Tindakan pemaksaan menggunakan atribut Natal bagi karyawan Muslim yang jamak dilakukan oleh pemilik pusat perbelanjaan, pertokoan, mall dan perusahaan-perusahaan setiap memasuki bulan Desember dinilai merupakan tindakan intoleransi atas nama agama yang berpotensi merusak keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara serta kerukunan antar umat beragama dalam bingkai NKRI.

Demikian disampaikan Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat Drs. Rafani Ahyar di kantornya belum lama ini. Menurutnya, pembiaran terhadap kasus demikian bisa dikategorikan sebagai bentuk intoleransi. Rafani menyatakan, jika dibiarkan dapat berpotensi mengganggu keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat khususnya umat Islam.

promooktober1

“Harusnya semua pihak dapat menjaga, melindungi dan mengamankan bangsa dan negara yang sudah tentu membutuhkan iklim yang kondusif bagi terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara yang toleran dan harmonis,” ujarnya.

MUI Jabar _ Sekum 1

Untuk itu, ia menghimbau kepada pemilik usaha besar maupun kecil dalam berbagai bidang yang pemiliknya beragama Kristen tidak memaksakan memakai atribut Natal bagi karyawan yang beragama Islam. Ia berharap kaum nonmuslim bisa menghormati agama dan keyakinan karyawannya yang muslim.

“Kita juga berharap karyawan Muslim yang tidak memakai atribut Natal, tidak mendapat sanksi apa pun dari pemilik usaha. Toh saat Idul Fitri atau acara keislaman lainnya kita juga tidak meminta nonmuslim memakai atribut muslim, saling toleransilah,” pungkasnya. [ ]

Rep: Iman

Editor: Candra

Editor Bahasa: Desi

kalender

 

 

(Visited 17 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment