Natal Bersama, Antara Toleransi dan Campuraduknya Aqidah dan Ibadah

Oleh: Ahmad R. Tulis*

Islam mengakui keberadaan agama Nasrani dan Yahudi. Juga, mengakui kenabian Musa dan Isa. Bahkan, Islam meyakini bahwa Taurat dan Injil adalah kitab suci yang Allah Swt. turunkan. Syariat kedua agama itu pun diakui Islam sebagai syariat dari Allah Swt. dan sebagiannya menjadi bagian dari syariat Islam pula.  Namun sebaliknya, kedua agama itu tidak mengakui Islam sebagai agama. Nabi Muhammmad Saw. tidak diakui sebagai utusan Allah Swt. Al-Quran juga tidak diakui sebagai kitab suci yang Allah turunkan. Syariat Islam tidak diakui kedua pemeluk agama ini sebagai syariat Allah Swt.

iklan donasi pustaka2

Ucapan Selamat

Dalam Islam, ada hal mendasar mengapa seorang muslim dilarang mengucapkan selamat pada hari besar agama lain, terlebih jika ikut merayakan. Ucapan tersebut memiliki implikasi yang sangat tidak sederhana. Selain itu, Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga aqidah dan ibadah, jangan sampai terjadi campur aduk atas nama toleransi maupun hak asasi.

Mengucapkan selamat natal mempunyai makna yang mendalam, lebih dari sekadar basa-basi antar-agama. Setiap upacara dan perayaan dalam sebuah agama memiliki nilai sakral dan berkaitan dengan kepercayaan atau aqidah masing-masing. Jika ditilik secara saksama, tidak ada satu agama pun yang membenarkan ajaran agama lain selain ajaran agama yang dianutnya. Sehingga, sudah jelas bahwa merayakan Natal bersama merupakan pekerjaan yang mencampuradukkan aqidah dan ibadah.

Perayaan Bersama.

Kegiatan perayaan Natal bersama biasanya digelar dan dihadiri kaum Kristiani baik sederhana maupun besar-besaran. Namun terkadang dalam acara tersebut mengundang dan dihadiri orang pula diluar agama Kristen termasuk pejabat Muslim ataupun karyawan Muslim yang pemilik usahanya beragama Kristen. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan sikap toleransi kepada mereka yang merayakan Natal. Sebagian besar mereka datang karena diundang .

Sebagian orang, khususnya pejabat Muslim berpegangan pada Surat Edaran Menteri Agama yang telah berusia lebih dari 30 tahun lalu. Dimana saat itu 2 September 1981 Menteri Agama,Alamsjah Ratu Perwiranegara mengeluarkan Surat Edaran Nomor MA/432/1981 kepada berbagai instansi pemerintah. Isinya menjelaskan: selepas acara kegiatan ibadah umat Kristiani, yakni acara seremonialnya, boleh saja pemeluk agama lain hadir mengucapkan dan merayakan Natal. Kegiatan ibadah, menurut surat edaran tersebut, adalah sembahyang, berdoa, puji-pujian, bernyanyi, membakar lilin, dan lain-lain.

Haramnya Umat Islam Menghadiri Natal Bersama

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganjurkan umat Islam tak mengikuti kegiatan-kegiatan perayaan Natal. Mengikuti upacara Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya haram. Demikian bunyi fatwa tentang perayaan Natal Bersama yang dikeluarkan MUI pada 7 Maret 1981. Kala itu MUI dipimpin Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), sedangkan ketua Komisi Fatwa-nya adalah Syukuri Ghozali. Terbitnya fatwa MUI tentang haramnya Perayaan Natal Bersama ini patut diketahui dan dipahami umat Islam. Perhatikan firman Allah Swt. dalam beberapa surah yang menerangkan secara jelas dan tegas sebagai berikut.

  1. Umat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan umat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan. Hal tersebut berdasarkan pada Q.S. Al-Hujurat [49] ayat 13, Q.S. Luqman [31] ayat 15, dan Q.S. Mumtahanah [60] ayat 8.
  1. Umat Islam tidak boleh mencampuradukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain berdasarkan pada S. Al-Kaafiruun [109]: 1-6.
  1. Umat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa al-Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain, berdasarkan pada S. Maryam [19] ayat 30-32.
  1. Barangsiapa berkeyakinan Tuhan itu lebih dari satu, Tuhan itu mempunyai anak, Isa al-Masih itu anaknya, orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan pada S. At-Taubah [9] ayat 30 dan Q.S. Al-Maidah [5] ayat 72-73.
  1. Allah pada hari kiamat nanti akan bertanya kepada Isa, apakah ketika di dunia beliau menyuruh kaumnya agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa akan menjawab tidak. Hal itu berdasarkan firman Allah Swt. dalam Q.S. Al Maidah [5] ayat 116-118.
  1. Islam mengajarkan bahwa Allah Swt. itu hanya satu berdasarkan S. Al-Ikhlas [112] ayat 1-4.
  1. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang subhat dan dari larangan Allah Swt. serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan. Hal ini berdasarkan keterangan.
  • Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir r.a., aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Sehungguhnya yang halal dan yang haram telah jelas, namun sebagian besar umat manusia tidak mengetahui bahwa di antara keduanya terdapat syubhat (sesuatu yang meragukan). Siapapun yang meninggalkannya, ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan orang yang menurutkannya bagaikan seorang penggembala yang menggembalakan (ternaknya) di dekat hima (padang rumput pribadi) milik orang lain, dan kapan saja ia dapat terperangkap di dalamnya. Berhati-hatilah, setiap Raja memiliki hima dan hima kepunyaan Allah Swt. di bumi ini adalah segala sesuatu yang diharamkan Allah Swt. Berhati-hatilah, ada segumpal daging di dalam tubuh yang apabila gumpalan daging itu baik maka baik pulalah seluruh tubuh, dan bila gumpalan daging itu buruk maka buruk pulalah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati (qalb).
  • Kaidah Ushul Fikih, “Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahatan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasid (kejelekan)-nya yang diperoleh, sedangkan mashalih (kebaikan)-nya tidak dihasilkan).”

Umat Islam selama ini tahu bahwa ada garis pemisah yang teramat terang yang membedakan antara toleransi beragama dan mencampuradukkannya. Sehingga, bukan pada tempatnya untuk memberi selamat atas ibadah ritual mereka. Terlebih, menghadiri acara ritual mereka .Demikian juga umat Islam, ketika salat Idul Fitri atau Idul Adha tak pernah mengundang pemeluk agama lain, tapi setelah selesai salat,  pintu terbuka untuk semua tamu. Semoga Allah melindungi dan menjaga akidah kita dari virus-virus yang menjerumuskan dengan bujuk rayu dan tipu daya. Wallahu’alam

*Penulis adalah pendidik dan penulis buku.

Editor: Iman

Ilustrasi foto:

Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

kalender

(Visited 19 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment