Kisah Ini Membuktikan Kecerdasan Emosi Nabi (bag. 2)

Sosok manusia agung dan mulia sepanjang masa, Rasulullah Muhammad Saw dikenal bukan hanya seorang pemimpin yang pemberani di medan perang, teguh pendirian dalam berdiplomasi, pengayom sejati di keluarga dan masyarakat , cerdas dan brilian dalam menyusun strategi, ulet dalam perjuangan hingga amanah dalam perniagaan internasional. Sisi lain sebagai pribadi Rasul juga diakui sebagai sosok yang penyabar kepada ummatnya, peyayang kepada keluarganya, pemaaf kepada musuh dan orang yang dengan jelas menyakitinya.

Dalam kajian psikologi modern, seseorang jika ingin sukses maka ia harus memiliki setidaknya tiga kecerdasan yakni kecerdasan intelektual (IQ),kecerdasan spiritual (SQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Sebagaian besar ahli psikologi modern baik muslim maupun nonmuslim mengakui bahwa ketiga kecerdasan tersebut dimiliki oleh Rasulullah. Kecerdasan intelektual Rasul tidak diragukan lagi,meski ia secera akademis tidak mempunyai gelar sebagai seorang Guru Besar (Profesor di zaman sekarang) namun pemikirannya dan pengetahuannya mampu melampaui gelar tersebut. Apalagi dengan kecerdasan spiritual Rasul, semua mengetahui bagaimana sosok mulia yang telah terampuni dosanya, dijamin kehidupan akhirat dengan menempati surga tertinggi namun sepanjang malam bagaimana ibadahnya, tiada alfa hingga bengkak kakinya untuk bertaqwa kepada Rabbnya.

Sementara dari sisi kecerdasan emosi nabi, beberapa pakar psikologi menyebutkan bahwa salah satu faktor keberhasilan dakwah Rasulullah Saw adalah beliau mampu mengelola emosinya secara sempurna sehingga para pembencinya (musuh-musuhnya) padanya akhir masuk Islam bukan paksaan,ketakutan melainkan karena melihat akhlak mulianya. Beberapa sifat mulia beliau yang sebenarnya mampu mengaduk-aduk emosi seperti penyabar,penyayang dan pemaaf (pengampun ) khususnya kepada orang yang jelas memusuhi bahkan hendak mencelakainya. Sebagai seorang manusia yang Allah sempurnakan sifatnya tentu kita yakini bahwa Rasul pun mempunyai perasaan marah atau benci khususnya kepada kemunkaran. Namun yang perlu kita teladani adalah bagaimana Rasul mampu mengelola sifat manusiawi tersebut berbuah simpati yang pada akhirnya musuh atau lawan dapat dikalahkan bukan dengan kekuatan fisik melainkan akhlak yang terpuji.

Hebatnya,sejarah mencatat bahwa sebagain besar musuh atau lawan yang pada mulanya sedemikian bencinya bahkan saking bencinya tidak sedikit orang yang hendak membunuh Rasul, namun pada akhirnya berbalik arah (180 derajat) menjadi begitu mencintainya. Kekuatan fisik serta harta yang semula dipakai untuk memerangi dakwah Rasulullah ,berbalik mereka tumpahkan untuk mendukung perjuangan Islam. Orang-orang kafir yang semula menjadi teman dan sekutunya dalam memboikot dakwah Rasul,akhirnya malah mereka tumpas dan perangi sendiri.

Kesabaran menghadapi terror fisik maupun mental yang menimpa beliau dan para pengikutnya merupakan salah satu sifat kecerdasan emosinya. Dalam menghadapi situasi demikian diperlukan keteguhan hati,kecerdasan strategi dalam meredam beban stress diri dan pengikutnya. Kesabaran menghadapi masa-masa sulit bahkan disertai ancaman pembunuhan,kemampuan meredam amarah diri dan pengikutnya,keikhlasan memberikan yang terbaik kepada orang yang menyakiti hingga kelapangan dada untuk memaafkan musuh adalah bukti bahwa kecerdasan emosi nabi sangatlah tinggi.

Itulah sebabnya, kemudian Rasulullah Saw tetap memberikan penghormatan kepada lawan-lawannya yang telah menunjukan penghargaan serta ketertarikan kepada dakwah yang dijalankannya. Perhormatan tersebut antara lain dengan memberikan pilihan yakni menerima risalah tauhid dengan ikhlas atau berhenti memusuhi dakwah dan perjuangan Rasulullah dalam menegakkan Islam. Sementara penghargaan bagi musuh yang telah memeluk Islam antara lain dengan memperlakukan sebagai saudara seiman dan seakidah serta melupakan masa lalunya. Terbukti,dikememudian hari kehadiran orang-orang yang semula memusuhi dakwah Rasul justru akhirnya mendatangkan dan memberikan banyak manfaat. Tidak sedikit dari mereka akhirnya menjadi pembela dan pendukung utama dakwah Rasulullah dengan harta bahkan jiwanya. Dengan harta dan jiwa tersebut akhirnya Islam mengalami kejayaan dan tersebar keseluruh dunia.

Ada beberapa kisah yang menunjukkan kecerdasan emosi nabi yang patut kita teladani,antara lain:

  • Keyakinan Kepada Allah Getarkan Pedang Lawan

Ini kisah bagaimana Dat’sur yang sangat benci Islam telah menghunus pedang dihadapan Rasulullah. Dengan percya diri ia pun berkata,”Hai Muhammad,siapa yang akan melindungimu dari sambaran pedangku?”.

Dengan penuh ketenangan dan kateguhan Rasul menjawab,”Allah.” Dengan izin Allah pedang ditangan Dat’sur pun jatuh. Giliran Rasulullah yang mengambil pedang tersebut dan bertanya,” Wahai Dat’sur kini siapa yang melindungimua?”.

“Tidak ada,kecuali engkau mau mengampuniku,”jawab Dat’sur dengan gemetar dan muka pucat. Sambil mengelus pundak Dat’sur yang tengah berlutut,Rasul malah memeberikan pedang tersebut kepadanya dan meminta untuk kembali kepada kelompoknya. Sebelum pergi Dat’sur pun mengucap syahadat dan berjanji tidak akan mengumpulkan orang untuk mecelai Rasul.

  • Sabar Menghadapi Kelicikan Yahudi.

Bangsa atau kaum Yahudi sejak dulu hingga sekarang terkenal dengan kelicikan dan tipu muslihatnya. Jangan perjanjian dengan manusia,  “perjanjian” denga Allah pun sering dilanggar. Ini dapat kita baca dari sejarah dakwah Nabi Musa as dan para nabi lainnya. Begitu pun dengan masa dakwah Rasulullah Saw dengan kaum Yahudi ini. Ragam perjanjian damai yang telah kesepakatan seringkali berakhir dengan pengkhiatan kaum Yahudi. Namun Rasul tidak kapok dan tetap menjalin kesepakatan yang pada akhirnya kemenangan ada di pihak kaum Muslimin.

  • Jaminan Keamanan sebagai Balasan Bagi Musuh.

Kisah ini juga banyak yang terjadi semasa dakwah Rasulullah namun salah satu yang mampu menggugah kekaguman adalah kisah Abu Sufyan. Kita ketahui bagaimana kebencian dan permusuhan Abu Sufyan terhadap dakwah Rasulullah baik di Makkah maupun di Madinah. Ragam konspirasi ia rancang untuk menyingkirkan Rasullah namun tatkala Kota Makkah sudah kembali kepangkuan Ummat Islam dalam peristiwa Futu Makkah,maka dengan sangat bijaksana Rasulullah berkata, “Siapa saja yang ada di kota ini aman. Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman.”.  Meski beberapa kali terlibat perang melawan pasukan Rasulullah ,namun sampai akhir hayatnya Abu Sufyan tidak meninggal di medan pertempuran. Ia tetap aman hingga tiga khalifah berikutnya.

Ragam kisah yang menunjukan kecerdasan emosi nabi tentu masih banyak yang patut kita teladani. Meski kita yakini bahwa kecerdasan emosi nabi merupakan bentuk bimbingan langsung dari Allah namun hal tersebut bukan tidak mungkin kita miliki karena Rasulullah telah mewariskan Al Qur’an dan Hadis yang kepada ummatnya ,dimana semasa hidupnya juga menjadi panduannya. [ Berbagai sumber]

Red: Iman

Editor: Candra

Ilustrasi foto :  Edirne 7331 Nevit” by Nevit Dilmen – Own work. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons.

 

 

 

kalender

(Visited 32 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment