Awas Jerat Pornografi dari “Gadget” Anak! (Bag 3)

Jangan salahkan teknologi

Pakar IT, Sonny Sugema, MBA berpendapat bahwa kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan modern. Kemajuan iptek termasuk di dalamnya internet tidak bisa dihalangi atau dibendung. Menutup atau menghalangi penggunaan internet malah bisa berbahaya, namun yang harus dilakukan adalah mengarahkan atau merekayasa akan fungsi dan manfaatnya bagi manusia termasuk anak-anak.
“Ibarat air, jika dibendung atau ditutup akan meluber ke mana-mana tak terkendali. Namun jika dialirkan dan diarahkan maka akan bisa dimanfaatkan. Demikian juga dengan internet, kendali teknologi itu ada di tangan kita, kitalah yang harus pandai-pandai memanfaatkannya untuk hal-hal yang berguna,” jelas pemilik jaringan Bimbel SSC ini awal Mei lalu kepada MaPI.

iklan donasi pustaka2

Untuk itu, dirinya menekankan dua hal penting kepada para orang tua. Pertama adalah pendidikan dan memberi pemahanan pada anak akan fungsi teknologi termasuk penggunaan internet, sehingga anak akan mencari sesuatu di internet sesuai kebutuhannya. Kedua adalah mengawasi atau menjaga konten (isi),meski ini tanggung jawab pihak penyedia situs namun orang tua bisa melaporkan jika menemukan konten negatif.
Menurutnya, tidak kejahatan saja bisa terjadi bila memenuhi setidaknya dua hal yakni niat dan kesempatan. Untuk niat, imbuh Sonny, dapat dicegah dengan bimbingan dan arahan yang benar tentang manfaat sekaligus bahaya internet. Pendekatan orang tua juga harus secara kekeluargaan dan tidak bersifat larangan semata.
Yang belum banyak dilakukan saat ini, lanjut dia, adalah melakukan filter dengan cara memasang sensor untuk memblok situs negatif dengan software atau hardware pada perangkat internet. “Ini akan mendeteksi semua konten berunsur pornografi dan akan dibelokan ke situs yang positif,” papar ayah dari 12 anak ini.
Untuk itu, dirinya berharap semua warnet, sekolah dan tempat publik yang ada fasilitas internetnya untuk memasang perangkat pemblok situs negatif ini. Perangkat tersebut, kata Sonny  tidak mahal jika dibanding dengan manfaatnya. Meski ada jutaan situs porno, namun menurutnya yang perlu diblok yang sering diakses anak saja atau situs favorit.
Lingkungan menyenangkan

Selain memasang perangkat sensor situs pada internet di lingkungan sekolah, ia juga menyarankan pihak sekolah, khususnya sekolah Islam, menciptakan lingkungan yang menyenangkan dengan ragam ekstrakurikuler.  Kegiatan ini akan membuat anak didik bahagia dalam belajar. Ia sendiri mencotohkan pada lingkungan sekolahnya memberikan ekskul dengan Program Tahfiz Quran.
“Alhamdulillah, selain sebagai bentuk ibadah, program tersebut membuat anak-anak tidak jenuh dan betah. Meski tidak harus sampai 30 juz namun membuat anak lebih senang menghafal Al Quran ketimbang mengakses internet yang tidak jelas,”ungkapnya.
Menyoal wacana pendikan seks di sekolah, Sonny menilai penting untuk dilakukan. Namun jika harus diberikan secara formal, maka harus dilakukan orang atau guru yang profesional. Ia harus mumpuni dalam bidang psikologi pendidikan, anak dan paham setiap karakter peserta didik. Jika hanya sekedar menyampaikan, maka dikhawatirkan justru berdampak buruk. Anak hanya mendapatkan informasi yang setengah-setengah yang bisa membuatnya penasaran dan mencari tahu lewat jalan salah. Materi tersebut juga harus disesuaikan dengan tingkat usia dan kematangan jiwa serta cara berpikirnya.
Selain itu, menurut Sonny yang terpenting adalah pendidikan dalam keluarga khususnya pendidikan agama yang berperan penting dalam tumbuh kembang anak. Dalam kondisi serba sibuk, orang tua tetap memegang peran utama menanamkan nilai-nilai agama pada anak. Orang tua tak boleh abai dan menyerahkan kepengasuhan pada orang lain. Karena anak adalah amanah maka kelak yang akan dimintai pertanggungjawaban adalah para orang tuanya, bukan orang lain.
“Kuncinya adalah keharmonisan dalam keluarga, keterbukaan dalam menyelesaikan masalah dan kehangatan bersama anak-anak serta saling percaya. Orang tua harus menjadi tempat bertanya anak-anak yang ideal. Kalau orang tua tidak tahu, baru informasi bisa dicari bersama. Jangan biarkan anak mencari tahu sendiri dalam internet. Mereka harus dibimbing karena konten porno bisa muncul tanpa disengaja,” jelasnya.
Baik Bunda Elly maupun Sonny, keduanya sepakat bahwa pemberian fasilitas alat komunikasi seperti ponsel atau gadget lain harus disesuaikan kebutuhan dan tingkat usia anak. Pemberian alat komunikasi yang berlebihan baik fungsi maupun manfaatnya hanya akan memperbesar peluang anak mendapatkan informasi atau akses yang sebenarnya mereka belum membutuhkan. Untuk itu, keduanya menyarankan agar para orang tua (suami istri) saling komunikasi dan jika perlu bermusyawarah dalam memberi alat komunikasi jenis yang tepat pada buah hati.

Penulis :  Iman

(Visited 21 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment