5 Hal Ini Wajib Diajarkan agar Anak Saleh

ANAK merupakan titipan dari Allah Swt. Menjaga, merawat, mendidik, dan memenuhi kebutuhannya merupakan kewajiban setiap orangtua. Ini merupakan tanggung jawab yang sangat besar dan tidak semudah yang dibayangkan. Menurut Ustadzah Mimin Aminah, banyak orangtua yang tak mampu melaksanakan kewajiban terutama memberi pendidikan dengan baik dan benar. Padahal, cara mendidik anak dalam Islam telah tercantum dalam Al-Quran. Kita tak perlu merumuskan kurikulum pendidikan anak karena semua telah terangkum dalam surat Al-Luqman ayat 12-17.

Beberapa waktu yang lalu, MaPI Online memiliki kesempatan bersilaturahmi dan berbincang panjang lebar tentang pendidikan anak dalam Islam. Berikut petikan lengkap wawancara dengan beliau.

iklan donasi pustaka2

Bagaimana konsep dasar Islam dalam memandang anak?

Subhanallah, konsep dasar Islam tentang anak sungguh mulia. Anak merupakan amanah dari Allah untuk orangtua. Anak bukan milik orang tuannya dan bukan pula milik kita (umat). Ia hanya titipan dari Allah. Ada orang yang ingin memiliki anak namun tak kunjung memiliki keturunan karena Allah Swt. tidak mengizinkannya. Ada orang yang tidak ingin memiliki anak namun keturunannya banyak karena Allah Swt. memang menghendakinya demikian. Ada orangtua yang ingin memiliki anak laki-laki namun Allah Swt. memberi mereka anak perempuan. Dan ada pula orangtua yang menginginkan anak perempuan namun Allah Swt. memberi mereka anak laki-laki. Ketika anak lahir, orangtua tidak dapat menentukan apakah anak tersebut akan berkulit putih, berambut lurus, serta berparas cantik ataupun tampan. Sebagai orangtua, kita hanya menerimanya jadi sesuai yang diberikan Allah. Hal inilah yang menjadi salah satu bentuk kekuasaan Allah dan menegaskan bahwa anak merupakan titipan dari-Nya.

Lalu, apakah kewajiban orangtua terhadap anak sebagai titipan dari Allah?

Kewajiban kita ketika dititipi amanah adalah dengan menjaganya, terlebih kalau amanah tersebut datang dari Allah. Maka dari itu, orangtua tidak berhak berbuat sesuka hati terhadap anaknya. Anak tersebut harus diperlakukan sesuai dengan keinginan dari penitipnya. Orangtua harus merawat, menjaga, mendidik, serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak-anaknya.

Bagaimana cara mendidik anak dalam Islam?

Cara mendidik anak dalam Islam telah tercantum dalam Al-Quran. Kita tak perlu merumuskan kurikulum pendidikan anak karena semua telah terangkum dalam surat Al-Luqman ayat 12-17. Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa pendidikan yang pertama harus diberikan oleh orangtua kepada anaknya adalah menanamkan keimanan agar buah hati tidak menyekutukan Allah. Kedua, mengajari anak berakhlak mulia kepada kedua orangtua. Ketiga, ihsan, yakni pendidikan berupa pemahaman bahwa setiap tindak tanduk seorang muslim pasti dilihat dan akan dihitung oleh Allah, baik itu berupa kebaikan maupun kejahatan. Keempat, mengajari anak cara melaksanakan shalat (beribadah kepada Allah). Dan hal yang kelima adalah mengajarkan anak untuk berbuat baik dan mendidiknya untuk dapat mengajak orang lain untuk berbuat baik (dakwah).

Rasulullah telah mengajarkan hal tersebut dalam prilaku dan haditsnya. Sebuah hadits yang diriwayatakan oleh Abi Daud menceritakan bahwa seorang ibu bertanya bagaimana cara mendidik anak yang baik. Rasulullah pun menjawab, “Keteladanan.” Si ibu bertanya lagi, “Apa lagi?” Rasulullah menjawab lagi, “Keteladanan.” Si ibu bertanya, “Setelah itu ya Rasulullah?” Rasulullah masih menjawab, “Keteladanan.” Hadits ini memberikan isyarat bahwa metode yang paling baik dalam mendidik anak adalah keteladanan. Selain itu, dalam hadits lain disebutkan metode pengajaran yang telah dilakukan Rasulullah adalah “Ajaklah anakmu.” Ini berarti bahwa mendidik anak tidak boleh dengan paksaan. Orangtua harus mengajak anaknya dan ini berarti bahwa orangtua harus berperan serta. Rasulullah juga menganjurkan untuk memberi nasihat kepada anak dengan lemah lembut karena Islam tidak mengenal konsep kasar. Insya Allah, dengan metode ini, anak akan menurut.

Tapi, bukankah metode mendidik dengan kasar atau keras menjadi hal yang biasa ketika anak tidak bisa didik dengan baik-baik?

Memang sebagian besar orangtua merasa telah mendidik, mengajak, dan membujuk anaknya dengan baik namun sang buah hati tidak juga kunjung menurut. Akhirnya, orangtua mempunyai keyakinan bahwa kekasaran menjadi cara didik yang harus diterapkannya agar si anak menurut. Ini adalah salah besar. Kekasaran hanya melahirkan kekasaran lagi. Rasulullah sendiri dalam riwayat hidupnya tidak pernah mendidik istrinya, anaknya, cucunya, juga orang lain dengan cara yang kasar ataupun keras.

Bagaimana dengan salah satu ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa seorang anak yang tidak menjalankan perintah shalat boleh dipukul?

Pukulan tersebut diberikan kepada anak yang telah berumur tujuh tahun atau lebih atau dianggap telah dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Pukulan tersebut dimaksudkan untuk memberi pelajaran dan ketegasan bahwa shalat tersebut merupakan pendidikan yang wajib. Selain itu, pukulan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyakiti seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orangtua zaman sekarang. Dalam sejarah, Rasulullah tak pernah mendidik dengan cara kekerasan (pukulan) karena dengan keteladanan serta nasihat yang menentramkan dan lemah lembut, orang (telebih anak) akan lebih menurut dan tidak ada alasan membantah.

Selain memukul dan berlaku kasar, apakah ada hal lain yang tidak boleh dilakukan orangtua kepada anaknya?

Hal yang sebaiknya tidak dilakukan orang tua terhadap anaknya adalah marah. Walaupun anak melakukan kesalahan, orangtua tidak seharusnya berteriak, memaki, memojokan anaknya dengan kemarahan, bahkan mengancam dan mengusir anaknya. Kemarahan merupakan hawa nafsu dan ia tentu telah diboncengi oleh setan. Tidak ada hikmah yang dapat diambil dari marah. Justru orangtua kerap merasa bersalah setelah memarahi anaknya. Ketika anak melakukan kesalahan, hal yang dapat kita lakukan adalah bertindak tegas. Tegas tidak berarti kasar dan tidak juga harus teriak. Tegas adalah konsisten. Misalnya ketika seorang anak kedapatan berbohong tentang asal uang yang ia dapat, maka orangtua dapat berkata tegas dengan, “Ya karena kamu telah berbohong kepada ayah tentang uang ini, maka mulai besok tak ada uang jajan.” Itulah yang dimaksud dengan bertindak tegas dan bukan malah memarahi dan meneriaki anak.

Lalu, bagaimana dengan mendidik anak yang dilahirkan berbeda?

Anak yang lahir berbeda dan mempunyai kebutuhan khusus tetap merupakan amanah dari Allah. Konsep ini tidak akan hilang. Kewajiban untuk mendidik anak tetap ada, bagaimana pun keadaannya. Kewajiban itu semakin kuat mengingat sang anak memang butuh pendidikan, penjagaan, dan perawatan yang khusus pula. Jika anak normal pada umur tujuh bulan ke atas dapat berjalan, berbeda dengan anak (misalnya) autisme yang baru dapat berjalan ketika berumur tiga tahun atau lebih. Kembali ke konsep titipan Allah, Dia tentu tidak akan mengamanahkan anak ‘spesial’ kepada sembarangan orangtua. Anak-anak dengan kebutuhan khusus tentu diberikan kepada orangtua yang dapat memberikan sesuatu yang khusus pula.

Penulis :  Dewi

Foto Ilustrasi : Norman

(Visited 52 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment