Pakar : Manusia pun Bisa Berdialog dengan Alam

Manusia bukan satu-satunya makhluk yang Allah Swt ciptakan di muka bumi ini. Jauh sebelum manusia ada Allah lebih dulu menciptakan gunung,langit,air ,tumbuhan serta makhluk lainya. Sebagai salah satu anugerah makhluk-makhluk tersebut diberi kemampuan untuk bisa berkomunikasi dengan sesamanya. Namun sejatinya dalam berkomunikasi mahkluk-makhluk tersebut termasuk manusia bukan hanya berkomunikasi dengan sesamanya melainkan dengan makhluk lainnya. Tentu saja dalam berkomunikasi tersebut mereka menggunakan bahasa yang saling bisa dipahami masing-masing.

Lalu selain berkomunikasi dengan sesamanya, apakah manusia juga bisa berkomunikasi bahkan berdialog dengan makhluk lain?. Bagaimana caranya?. Menurut Ir.H.Bambang Pranggono MBA, seorang ilmuwan fisika jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB), manusia bisa berdialog dengan makhluk lain di alam raya ini. Uniknya dalam berdialog ini menggunakan bahasa yang tidak sama namun saling dimengerti dan dipahami.

Ia lantas merujuk Al-Qur’an surat Al Anbiyaa ayat 79 yang artinya: “Dan Kami mudahkan bagi Daud gunung-gunung dan burung-burung bertasbih bersamanya Dan Kamilah yang melakukannya.”. Berangkat dari ayat ini ia meyakini bahwa meskipun dalam ayat tersebut secara jelas disebutkan Nabi Daud, namun secara umum manusia lain seperti kita saat ini juga mampu berdialog dengan alam khususnya dengan makhluk hidup lainnya.

Ahli dan dosen Perencanaan Wilayah Dan Kota (Planologi) ini lalu memberi contoh saat beberapa tahun ada sosok almarhum Mbah Maridjan yang dianggap sebagai juru kunci Gunung Merapi di Yogyakarta. Dia dianggap bisa berkomunikasi dengan gunung sehingga tahu kapan gunung akan meletus. Maka rakyat setempat menunggu instruksinya dulu, walaupun Sultan Hamengkubuwono X sudah menyuruh mereka segera mengungsi. Konon, ajengan Kikisik di lereng Gunung Galunggung juga punya ilmu yang sama.

“Meski akhirnya beliau ditemukan meninggal saat gunung tersebut meletus namun masyarakat menganggap beliau tahu fenomena alam khususnya tentang Gunung Merapi,” tambahnya.

Ia nambahkan,ternyata, bukan hanya mereka saja yang bisa berdialog dengan gunung. Tahun 1883, di Batavia, burung-burung meronta dalam sangkar beberapa jam sebelum Gunung Krakatau meletus. Lembu yang banyak berkeliaran di Aceh, sudah melarikan diri ke dataran tinggi sebelum gempa dan tsunami melanda akhir 2004. Sejam sebelum bencana tsunami terjadi, mendadak ribuan kelelawar beterbangan di sebelah selatan kota Dickwella di Srilangka. Di Thailand, gajah yang sedang membawa wisatawan berlari menuju bukit, sebelum tsunami menghancurkan dinding air di Phuket.

Beberapa jenis binatang telah bisa mendengar tsunami yang akan datang dari saat gempa yang meletus di bawah dasar laut. Burung, anjing, gajah, harimau, dan binatang lainnya bisa mendeteksi frekuensi infrasonik antara 1-3 hertz, dibandingkan manusia yang hanya pada frekuensi 100-200 hertz. Binatang lebih sensitif pada gelombang suara berfrekuensi rendah yang tidak bisa didengar manusia. Ikan sangat sensitif pada variasi perubahan muatan listrik di dalam air yang kadang-kadang merupakan isyarat permulaan terjadinya gempa bumi. Organisme di tanah bisa merespon perubahan polaritas dan konsentrasi ion atmosfer atau muatan partikel sehingga binatang tersebut bisa mendeteksi efek ionisasi udara dari gas radon yang kadang-kadang dikeluarkan dari bumi sebelum gempa bumi terjadi.

Efek piezoelektrik menunjukkan bahwa perubahan tekanan di kedalaman bumi, bila dialami oleh kristal sejenis kwarsa, akan menghasilkan muatan listrik pada permukaan kristal, lalu membangkitkan energi listrik yang menerbangkan ion-ion sebelum gempa bumi. Jadi, sebetulnya gempa dan gunung meletus sudah memberitahukan dirinya sebelum terjadi. Hanya manusia tidak paham bahasanya. Binatang ternyata lebih peka.

Kembali Bambang Pranggono memberi contoh, saat Kiyoshi Shimamura, seorang dokter di Jepang, pada September 2003 menyampaikan hasil studi tentang perilaku aneh dari anjing yang seakan menggigit dan menyalak melampaui batas. Hal itu bisa digunakan sebagai alat yang murah untuk meramalkan terjadinya gempa. Riset ini dikaitkan dengan gempa Kobe pada tahun 1995 yang menewaskan sekitar 6.000 orang. Sheldrake dari Turki meneliti reaksi binatang sebelum terjadinya gempa California tahun 1994 dan gempa Turki tahun 1999. Anjing berperilaku secara misterius dan tidak bisa tidur di tengah malam, burung-burung di kandang terlihat gelisah dan kucing-kucing ketakutan dan bersembunyi sebelum terjadinya gempa bumi.

“Allah menyebutkan bahwa Nabi Daud bertasbih bersama gunung dan burung. Wallahu a’lam, mungkin  itu isyarat bagi kita untuk belajar bahasa gunung lewat burung,”pungkasnya. [ ]

 

 

Rep: Ahmad

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

kalender

 

 

 

 

.

(Visited 20 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment