Hidup Anda Bahagia atau Sengsara ? Cek Tanda-tandanya

Di zaman materialisme sekarang ini mengukur kebahagian hidup seseorang akan dikaitkan dengan materi yang dimiliki. Orang yang mempunyai rumah megah, mobil mewah, kedudukan atau jabatan tinggi dan hal yang bersifat materi lainnya akan dianggap orang yang bahagia.

Sebaliknya, orang yang mengalami kekurangan materi akan dianggap sebagai orang yang sengsara. Namun, bagi orang yang beriman tentu bukan itu ukuran kebahagiaan yang hakiki, melainkan ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah Swt.

Selain itu, jika kita merujuk kepada pendapat ulama, ukuran kebahagian tersebut ternyata lebih jelas dan rinci lagi. Seperti yang disampaikan oleh  Imam Ibnul Qoyyim al-jauziyah rahimahullah. Dalam mengukur kebahagian seorang hamba di dunia ini, beliau bertutur bahwa diantara tanda kebahagiaan seorang hamba adalah sebagai berikut:

  1. Semakin bertambah ilmunya, bertambah pula tawadhu’ dan kasih sayangnya.
  2. Semakin bertambah amalannya, bertambah pula rasa takut dan khawatirnya.
  3. Semakin bertambah usianya, ambisinya semakin berkurang.
  4. Semakin bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanan dan kemurahannya.
  5. Semakin naik kedudukan dan statusnya, semakin tawadhu, semakin dekat dengan manusia, dan berusaha memenuhi hajat mereka.

Begitu pula sebaliknya, dalam mengukur kesengsaraan hidup maka bukan pula dilihat dari minimnya harta dan segala yang bersifat kebendaan. Imam Ibnul Qoyyim menambahkan diantara tanda kesengsaraan seorang hamba adalah sebagai berikut :

  1. Semakin bertambah ilmunya, bertambah pula kesombongan dan keangkuhannya.
  2. Semakin bertambah amalannya, bertambah pula rasa bangga pada dirinya, dan merendahkan orang lain, serta menyangka dirinya sudah baik.
  3. Semakin bertambah usianya, ambisinya pun meningkat.
  4. Semakin bertambah hartanya, meningkat pula sifat bakhil (pelit) enggan untuk menginfakkannya.
  5. Semakin naik kedudukan dan statusnya, sifat sombong dan angkuh pun meningkat.

Namun sesungguhnya harus kita sadar bahwa keadaan apa pun yang tengah dirasakan baik senang maupun susah adalah bentuk ujian dari Allah Swt. Allah menguji hamba-hamba-Nya secara adil, di antaranya hamba yang merasa beruntung hingga timbul rasa bahagia. Di sisi lain ada pula hamba yang mengalami kesusahan hingga ia merasa hidupnya sengsara. Susah senang,sesungguhnya hanyalah sebuah pergiliran hidup manusia saja. Allah Maha Adil dan Bijaksana, tidak mungkin orang selama hidupnya merasa bahagia terus menerus tanpa sedikit pun pernah merasakan kesedihan,begitu pun sebaliknya. Hal ini sesuai yang telah Allah Swt kabarkan kepada hamba-Nya:

Setiap makhluk bernyawa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami”. (QS.Al-Anbiya : 35)

BACA JUGA  Anda Yakin Bahagia ? Cek Indikasinya

Allah hanya menyuruh hamba-Nya yang berimanan untuk senantiasa bersyukur dan bersabar atas segala keadaan yang diterimanya. Bersyukur jika mendapat kebahagian dan bersabar jika tengah mendapat hala yang tidak menyenangkan. Hal ini bisa kita teladani dari kisah para Nabi dan Rasul yang diuji dengan kebahagiaan dan kesengsaraan. Nabi Ayub as dengan penyakit yang dideritanya,sementara Nabi Sulaiman as diuji dengan kekuasaan. Namun kedua kekasih Allah tersebut menyadari bahwa itu semua hanyalah ujian,seperti yang diungkapkan Nabi Sulaiman as:

“….Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya. Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk kebaikan dirinya. Barang siapa  ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.”   (QS. An Naml: 40).

Dengan demikian, semua nikmat merupakan cobaan dan ujian dari Allah. Dengan begitu akan nampak sikap seorang hamba, apakah ia bersyukur atau kufur nikmat.  Demikian halnya musibah (kesengsaraan) itu juga cobaan dari-Nya, sehingga akan nampak apakah ia bersabar atau putus asa (kufur). Nah, berangkat dari nasehat Imam Ibnul Qoyyim  tentang bahagia dan sengsara, kira kira kita sekarang berada diposisi mana? Selamat bermuhasabah diri. [ Berbagai sumber]

Red: Iman

Editor: Candra

Ilustrasi foto: “Pagan meditation” by Dedda71Own work. Licensed under CC BY 3.0 via Wikimedia Commons.

 

Promo-Kalender

 

(Visited 35 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment