Musibah Itu Hukuman, Ujian, Ataukah Penghapus Dosa? Begini Islam Menjawabnya

Musibah bisa menimpa siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Orang kaya atau miskin, pejabat negara atau rakyat, artis ibukota atau artis jalanan, guru atau murid, nenek atau cucu, paman atau keponakan, tante atau sepupu, mertua atau orangtua, bayi atau manula, semuanya bisa tertimpa musibah. Di rumah atau di kantor, di tempat tidur atau di jalan raya, di udara atau di darat, di pasar atau di dapur, di kota atau di desa, musibah juga ada. Siang hari atau malam hari, ketika terang atau gelap gulita, saat beribadah atau saat melakukan maksiat, saat menggali sumur atau waktu mendengkur, musibah bisa datang dengan tiba-tiba.

Dalam pandangan dan perasaan manusia, semua jenis musibah pasti merupakan sesuatu yang jelek, menyakitkan, atau menyedihkan. Dengan kata lain, secara manusiawi kita tentu tidak menginginkan musibah, apa pun bentuknya, kapan pun dan di mana pun. Namun, apabila kita membaca beberapa keterangan ayat Al Quran dan hadis Nabi, akan kita dapati bahwa musibah yang dialami oleh manusia dalam pandangan Allah ternyata memiliki makna. Paling tidak tiga makna bisa kita terjemahkan dari sebuah musibah. Pertama, sebagai hukuman Allah atas pembangkangan yang dilakukan manusia terhadap aturan yang telah ditetapkan-Nya, atau merupakan sebuah hukum sebab-akibat. Kedua, sebagai penghapus dosa. Artinya, di akhirat nanti ada dosa yang tidak diperhitungkan lagi karena hukumannya sudah ditunaikan oleh Allah di dunia. Ketiga, sebagai ujian untuk kenaikan derajat manusia di mata Allah.

iklan donasi pustaka2
  • Hukuman

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Demikaianlah salah satu hadis Nabi menjelaskan tentang manusia. Kita bisa berbuat salah apabila kita tidak tahu petunjuk atau ilmunya. Akan tetapi, perbuatan salah tidak selalu berkaitan dengan ketidaktahuan. Sering pula manusia berbuat salah padahal sudah tahu petunjuk atau ilmunya. Atau, bisa jadi bukannya tidak tahu tetapi memang tidak mau tahu dengan petunjuk-petunjuk atau aturan-aturan yang sudah ada.

Allah telah memberikan petunjuk dan ilmu yang bisa digali oleh manusia di dalam firman-firman-Nya yang juga didukung dengan hadis-hadis Nabi. Itu semua merupakan peraturan yang patut dilakukan agar manusia mencapai kebahagiaan dalam kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Ketika Allah membuat peraturan maka Allah juga membuat ‘hadiah’ dan ‘hukuman’ bagi peraturan itu. Dalam bahasa yang lebih tepat, itu disebut dengan konsekuensi logis atau ‘hukum alam’.

Jadi, ketika manusia ditimpa suatu malapetaka atau musibah, itu juga merupakan suatu konsekuensi logis atas apa yang telah dilakukannya. Musibah itu merupakan akibat dari sesuatu yang diperbuat atau diabaikan oleh manusia. Dalam salah satu ayat Al Quran Allah swt. berfirman, “Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.S. Asy-Syuuraa 42: 30). Dalam ayat yang lain, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (Q.S. An-Nisa 4: 79).

Kita sering mengaitkan malapetaka atau musibah yang terjadi dengan takdir Allah. Musibah memang sebuah takdir, tetapi bukan berarti tidak ada kaitannya sama sekali dengan amal perbuatan atau usaha manusia. Beberapa mufasir juga mengungkapkan bahwa adalah keliru apabila seseorang mengingat takdir ketika terjadi malapetaka. Dan lebih keliru lagi apabila ia menyalahkan takdir atas malapetaka yang menimpanya itu. Benar kita tidak bisa terlepas dari takdir Tuhan. Tetapi, takdir-Nya tidak hanya satu. Kita diberi kemampuan untuk memilih berbagai takdir Tuhan. Runtuhnya tembok yang rapuh dan berjangkitnya wabah merupakan takdir-takdir Tuhan, berdasarkan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya. Sehingga apabila seseorang tidak menghindar darinya pasti ia akan menerima akibatnya, dan itu adalah takdir. Tetapi apabila ia mengindar dan luput dari marabahaya, itu pun adalah takdir. Bukankah Tuhan telah menganugerahkan manusia kemampuan untuk memilih?

Dengan melihat penjelasan tersebut maka dapat kita pahami bahwa malapetaka atau musibah yang menimpa manusia bisa jadi merupakan hukuman dari Allah atau konsekuensi logis atas kesalahan yang dilakukan manusia. Kesalahan itu bisa berupa kelalaian, kebodohan, atau pengingkaran kita terhadap hukum yang sudah ada. “Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.”  (Q.S. Ar-Rum 30: 36).

Di dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Akan datang suatu zaman atas manusia. Perut-perut mereka menjadi Tuhan-Tuhan mereka. Perempuan-perempuan menjadi kiblat mereka. Dinar-dinar menajdi agama mereka. Kehormatan mereka terletak pada kekayaan mereka. Ketika itu, tidak tersisa iman sedikit pun kecuali namanya saja. Tidak tersisa Islam sedikit pun kecuali upacara-upacaranya saja. Tidak tersisa Al Quran sedikit pun kecuali pelajarannya saja. Masjid-masjid mereka makmur dan damai. Akan tetapi hati mereka kosong dari petunjuk. Ulama-ulama mereka menjadi makhluk-makhluk Allah yang paling buruk di permukaan bumi. Kalau terjadi zaman seperti itu, Allah akan menyiksa mereka dan menimpakan kepada mereka berbagai bencana, kekejaman para penguasa, kekeringan dan kekejaman para pejabat serta para pengambil keputusan.” Maka takjublah para sahabat mendengarkan penjelasan Nabi ini. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah mereka menyembah berhala?” Nabi menjawab, “Ya, bagi mereka, setiap serpihan dan kepingan uang menjadi berhala.” ( Muttafaqun ‘Alaih)

  • Ujian

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Q.S. Al Baqarah 2: 214)

Ayat di atas dengan jelas menerangkan bahwa manusia yang kelak akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat dengan hadiah surga yang penuh kenikmatan, adalah mereka yang ketika di dunia telah diuji oleh Allah Swt. Ujiannya berupa malapetaka, kesengsaraan, dan berbagai hal yang melemahkan keimanan seseorang sehingga ia pun sampai mempertanyakan tentang pertolongan Allah Swt.

Tapi, apakah orang yang tidak diuji dengan malapetaka dan kesengsaraan lantas tidak akan mendapatkan kebahagiaan kelak di akhirat? Tidak demikian, sebab ujian atau cobaan itu tidak hanya dalam bentuk malapetaka dan kesengsaraan. Ujian dan cobaan bisa pula dalam bentuk kekayaan atau kepintaran. Allah swt. berfirman,

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.’ Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (Q.S. Az-Zumar 39: 49)

Walhasil, tentunya kita semua harus waspada atas berbagai ujian dan cobaan yang ada di dunia ini. Banyak orang yang berhasil menghadapi ujian malapetaka dan kesengsaraan, tetapi gagal menghadapi ujian berupa kesenangan dan kenikmatan. Firman-Nya,

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” (Q.S. Al Fushshilat 41: 51).

  • Penghapus Dosa

Selain sebagai hukuman dan ujian, musibah yang menimpa manusia bisa juga sebagai suatu proses penghapusan dosa. Di dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa Allah swt. berfirmaan, “Demi kejayaan dan keagungan-Ku, tidak akan Aku mematikan hamba-Ku yang Aku kehendaki kebaikan baginya, sehingga Aku menghapuskan dosa-dosa yang pernah ia lakukan melalui rasa sakit di badannya, kerugian pada hartanya, dan kematian anaknya. Maka apabila masih terdapat dosa padanya maka Aku perberat baginya saat sakaratul maut, sehingga dia menemui Aku seperti saat dia dilahirkan dari rahim ibunya (tidak mengemban satu dosa pun). Dan demi kejayaan dan keagungan-Ku, tidak akan Aku mematikan hamba-Ku yang Aku tetapkan keburukan atasnya, sehingga aku menghapuskan perbuatan-perbuatan baiknya melalui kesehatan tubuhnya (tidak pernah sakit), bertambah hartanya, dan bertambah anaknya; maka sekiranya masih ada kebaikan padanya, Aku ringankan baginya sakaratul maut sehingga dia menghadap-Ku tidak memiliki kebaikan apa pun.”

Selain hadis qudsi di atas, mari kita simak pula sebuah hadis lain. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semacam tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta digugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu menggugurkan daun-daunnya.” (H.R. Muttafaqun ‘Alaih)

Kita sering menganggap musibah yang menimpa kita sebagai sesuatu yang buruk. Padahal bisa jadi ada hikmah yang sangat besar di balik itu semua. Allah swt. memelihara manusia bukan saja dengan kegembiraan tetapi juga dengan kesedihan. Allah swt. mengurus kita tidak hanya dengan kenikmatan tetapi juga dengan penderitaan. Tujuannya adalah supaya kita bisa mencapai perkembangan yang baik. Orang-orang yang tidak pernah dipelihara dengan penderitaan biasanya tidak berkembang ke arah kesempurnaan. Kita yakini kebaikan Allah swt. kepada kita jauh lebih besar daripada ujian-Nya dan kebaikan Allah Swt. tidak pernah berhenti. [ ]

 

Red:  Agung

Editor: Iman

Ilustrasi foto: “House turned upside-down by the force of tsunami” by DFID – UK Department for International DevelopmentFlickr: House turned upside-down by the force of tsunami. Licensed under CC BY 2.0 via Wikimedia Commons.

 

Promo-Kalender

 

 

(Visited 47 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment