Advencia Putri : Nikmatnya Memeluk Agama Islam

muslimah

Saya lahir dari rahim seorang ibu beragama Katolik.  Lahir  di Jakarta 26 Desember 1986 dengan nama “Emmannuella Advencia Dieska Putri Riyanto, saya anak pertama dari tiga bersaudara. Keluarga besar dari Mama adalah penganut beraneka ragam agama (kristen protestan, katolik dan islam ). Sedangkan keluarga besar dari almarhum papa adalah penganut agama Islam.  Papa dulu memeluk agama Islam, namun setelah menikah dengan mama, tepatnya ketika saya duduk di bangku kelas III,  ia berpindah keyakinan menjadi pemeluk katolik.

Almarhum papa berasal dari Solo dan mama dari Sragen Jawa Tengah. Sejak melihat papa pindah agama, saya penasaran dan ingin mencari tahu sendiri tentang islam tanpa sepengetahuan ortu.   Saya diam-diam melakukannya karena tak mau mengecewakan mereka berdua. Kalau mereka sampai tahu saya tertarik dengan agama islam, mereka pasti tidak akan setuju atau memberi izin keluar rumah lagi.  Ketika duduk di kelas III,  saya dipindahkan sekolah oleh mama karena kami sekeluarga pindah rumah.  Saya dipindahkan dari  SD Strada Wiyatasana Pejaten ke sekolah umum yaitu di SDN 08 Pagi Tanjung Barat yang mayoritas siswanya menganut agama islam. Dari semenjak itu saya mulai meminta bantuan teman-teman sekolah untuk mengajari agama islam.

iklan donasi pustaka2

Bahkan setiap ada acara tausyiah di sekolah, saya pun turut ikut tanpa rasa malu saya bergabung dengan mereka semua. Padahal teman-teman yang lainnya tahu kalau saya beda agama. Tetapi alhamdulillah teman-teman semuanya ramah serta santun pada saya, sehingga membuat saya senang sekali.

Kemudian setelah lulus dari SD, saya melanjutkan sekolah pilihan saya sendiri yaitu di SMP St. Fransiskus Asisi Menteng Dalam. Selama belajar di sekolah tersebut, saya tidak merasakan kenyamanan seperti yang saya dapatkan saat bersekolah di SDN 08 Pagi yang mayoritas siswanya beragama islam. Orangtua saya pun tidak tahu karena tidak peduli. Yang mereka sibukan dan perhatikan adalah uang dan pekerjaan,  tanpa perduli kepayahan saya dalam belajar dan pergaulan.

Saya pun akhirnya tidak naik kelas pada tahap kelas III  karena saya merasa hampa bergaul dengan teman-teman. Mereka sibuk dengan gengsi tahta dan intelektual saja. Saya yang hanyalah berasal dari kalangan biasa, mereka bersikap dingin atau tidak ramah.  Mama pun kecewa karena itu adalah sekolah dimana mama saya dahulu membina pendidikan dengan nilai-nilai terbaiknya.  Mama lalu memutuskan saya pindah sekolah ke SLTPN 182 Kalibata, dimana saya tetap bisa naik di bangku kelas III dengan cara-cara tertentu yang dilakukan oleh mama supaya saya tidak bersedih hati.

Di sekolah ini, alhamdulillah saya lebih nyaman karena mayoritas siswanya penganut agama islam. Dari sekolah ini, secara bertahap-tahap saya semakin mendalami pelajaran agama islam bersama teman-teman yang lainnya, mereka pun dengan senang hati membantu saya. Tanpa membeda-bedakan agama yang saya anut saat itu.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya setelah saya lulus dari SMA pada 2005, saya kuliah di LP3i. Namun masa kuliah di tempat ini tak berlangsung lama karena saya meninggalkan rumah demi memperkokoh niat dan keberanian untuk memeluk agama Islam. Saya waktu itu ingin membuktikan ke almarhum papa yang  masih hidup, jikalau agama islam itu tidaklah seseram yang almarhum papa katakan ke saya.

Pada  suatu pagi buta sekitar jam 04.00 shubuh, bermodalkan uang Rp 30.000 saya meninggalkan rumah. Saya pergi ke rumah seorang teman di Pulo Gadung. Alhamdulillah di rumah teman saya itu saya memperoleh sambutan yang baik. Keluarga teman memberikan berapa pakaian muslimah, berupa beberapa helai gamis dan jilbab serta kerudung yang kemudian saya kenakan dan sangat membuat nyaman.

Saya lalu diantar ke rumah seorang Ustadz yang merupakan tokoh masyarakat di sana, yaitu Ustadz Abdul Gopur.  Sesampainya di sana, saya berikrar untuk pertama kalinya dihadapan keluarga besar ustadz dan jamaahnya. Supaya saya semakin yakin untuk menganut agama islam, ustadz memberi usul apakah saya bersedia untuk menjadi anak angkatnya. Namun saya berpikir kembali, kalau saya menerima usul dari  ustadz kelak kalau mama saya tahu hal ini, pastinya mama akan lebih-lebih kecewa karena di rumah pun saya lebih mewah dari ini kehidupannya.

Saya pun memutuskan untuk menolak usul ustadz, karena saya ingin hidup jauh dari Jakarta supaya tidak ketahuan mama. Saya pun meminta diantar ke Pesantren Daarut Tauhid Bandung. Di Pesantren ini, saya berikrar untuk kedua kalinya dengan disaksikan para jamaah. Beberapa bulan di Bandung, saya dipertemukan jodoh yaitu salah satu Santri Aa Gym. Kami pun bertaaruf dan menikah tanpa pacaran. Insyaallah dengan niat ibadah karena Allah SWT dan yakin satu sama lain kalau kami berjodoh dan mempertanggung jawabkan semua keputusan kami.

Ada beberapa keajaiban yang Allah SWT berikan kepada saya setelah saya berikrar muallaf.  Yang pertama, sebelum saya berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat saya sempat merasakan seperti berat pada kepala bagaikan membopong sebuah batu besar dan sepertinya kedua tangan dan kaki saya terikat oleh rantai-rantai yang besar. Namun setelah berikrar tiba-tiba berubah menghilang, di saat saya hendak akan berdiri, terasa ringan dan tidak ada beban berat yang saya rasakan seperti sebelumnya.

Yang kedua, ketika saya sudah menikah dan dalam keadaan hamil anak pertama. Saat itu saya hendak mengakhiri dzikir shalat dzuhur di dapur rumah tempat saya tinggal. Entah kenapa tiba-tiba saja saya ingin shalat di dapur yang kotor, karena mungkin jauh dari suara bising kendaraan bermotor yang lalu lalang di dekat rumah saya tinggal. Ketika saya hendak  membuka kedua mata saya, saya melihat kalau saya tidak berada di dapur kotor rumah saya tinggal, melainkan di sebuah awan putih seperti kapas rupanya. Dengan suasana sunyi dan terasa nyaman serta tentram, khusuknya saya melihat mukenah yang saya kenakan shalat menjadi tampak putih bersinar cantik tanpa noda bercahaya, tanpa ada siapa pun juga.

Saya bingung sendiri, saya tidak percaya akan apa yang sedang terjadi pada saya saat itu. Untuk memastikannya, saya mencoba memejamkan kedua mata sejenak, lalu membuka kedua mata saya kembali berharap itu nyata, tapi ternyata saya berada di dapur rumah saya tinggal.  Menurut para ulama,  itu menandakan bahwa saya ini memperoleh nikmat bisa singgah ke rumah Allah SWT yaitu di Padang Arafah dan doa serta dzikir saya itu sampai ke Padang Arafah. Dengan kata lain, Allah SWT meridhoi langkah hidup pilihan saya yaitu menganut agama Islam.

Sejak April 2009, saya tinggal di Pariaman bersama suami. Setahun kemudian, saya berkesempatan merasakan kuliah di STKIP Nasional dan menjadi tenaga pendidik di PAUD.  Namun pada tahun 2010 itu, saya mendapat ujian dari Allah karena mengalami keguguran. Peristiwa buruk itu sempat membuat saya depresi, kerana saya merasa sudah lalai dan ceroboh dalam menjaga amanah dari Allah SWT .  Hingga pada akhirnya saya pun memilih untuk beristirahat di rumah,  karena suami pun tidak memperbolehkan saya untuk kembali bekerja termasuk kuliah.

Pada 2013, Papa saya meninggal dunia. Saat itu saya sempat kecewa, karena cita-cita saya untuk dapat mengIslamkan lagi Papa tidak tercapai. Namun, di balik kesedihan itu, saya mendapat hal baik karena Allah SWT  memberi saya kesempatan untuk kembali merasakan duduk di bangku perkuliahan. Saya berkuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah jurusan pendidikan agama Islam  semenjak Tahun, 2012.

Ya, walaupun banyak yang menganggap saya sebelah mata, tapi InsyaAllah dengan langkah inilah saya dapat mempelajari mendalam materi pelajaran agama islam tentunya sesuai harapan saya dan suami. Dengan niat baik, saya yakin Allah SWT akan memberikan kemudahan kepada saya.  Kalau saya tidak mampu, tidak mungkin Allah memberikan saya sebuah kesempatan yang langka ini. Dan Alhamdulillah, saya memperoleh beasiswa atau bebas biaya perkuliahan karena pertimbangan kondisi ekonomi saya, dimana pekerjaan suami saya belum tetap.

Alhamdulillah, kehidupan saya sekeluarga sudah mengalami banyak lika-liku kepahitan. Jatuh bangun kami sendirian, memulai rumah tangga dari nol di sebuah rumah petakan mungil seadanya. Kami menjalaninya semua dengan ikhlas, sabar dan yakin kepada rezeki yang Allah SWT berikan kepada kami sekeluarga tentunya. Senang, susah, kenyang, kelaparan, kehausan, tinggal di jalanan. tinggal di surau stasiun kereta api, baik ditolong sesama bahkan diacuhkan oleh sesama pernah saya alami. Di fitnah, di caci maki, disayangi, diperdulikan, diremehkan, direndahkan, dikucilkan, diberikan senyuman, dicemberutin,  dimusuhi, dicurigai, perihal itu semua sudah kenyang dalam hidup kami rasakan.

Demikianlah secuil kisah dari perjalanan hidup saya.  Saya tetap berpegang teguh pada prinsip hidup yang saya pilih disertai tanggung jawab ketika saya memutuskan meninggalkan rumah hanya demi memeluk Islam sampai akhir hayat saya kelak. Apa pun yang terjadi, saya akan tetap mempertahankan akidah saya sekeluarga, demi menuju pintu syurga kelak di akhirat yang kekal abadi. Amiiin Ya Robbal ‘Alamin.

 

Disarikan dari blog pribadi Advencia Dieska

(Visited 22 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment