Jangan Undang Ini Dan Engkau Terhindar dari Perselingkuhan

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

 Fenomena perselingkuhan dizaman seperti sudah menjadi hal yang lumrah dan dimaklumi. Demikian juga dengan  kasus-kasusnya,baik yang terungkap maupun yang terpendam, hadir dan menghiasi laman media hingga menjadi santapan bacaan setiap hari. Padahal dalam Islam perselingkuhan adalah perbuatan nista yang bisa masuk kategori zina baik dalam arti yang sebenarnya maupun zina mata,hati hingga anggota badan lainnya. Hal ini berdasarkan hadis  dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا العَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ المَنْطِقُ، والقلب تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ

Sesungguhnya Allah menetapkan jatah zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan tidak bisa dihindari: Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagi yang sudah menikah dan mempunyai keluarga,salah satu pintu perzinahan adalah dengan melakukan perselingkuhan baik dengan yang masih sendiri maupun sama-sama telah berkeluarga (wanita atau pria idaman lain). Sementara itu dalam memasuki dunia perselingkuhan ada beberapa pintu masuk. Berikut beberapa point yang bisa menangkis perselingkuhan:

promooktober1
  1. Tidak Mengumbar Pandangan yang Mengundang

Ada pepatah yang sudah lazim yang menyebutkan ,”Dari datangnya cinta,dari mata turun ke hati “. Berawal dari sebuah pandangan timbul perasaan suka hingga bisa mendorong hati berfikir maksiat yang tidak jarang diakhiri oleh perbuatan zina Pandangan adalah panah beracun yang menembus ke hati. Karena itulah Allah Swt menggandengkan antara perintah menjaga pandangan dengan menjaga kemaluan, sebagaimana didalam firman-Nya :

Katakan kepada laki-laki beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Hal itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakan kepada para perempuan beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya.”. (QS. An Nuur : 30 – 31)

Untuk itu menjaga pandangan adalah amalan yang mulia,meski terdengar sederhana namun dizaman yang penuh keterbukaan ini,menjaga pandangan adalah hal yang tidak kalah sulitnya. Walau demikian bagi seorang yang beriman menjaga pandangan tidak boleh dianggap sepele.

  1. Tidak Berkomunikasi yang Mengundang

“…Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Q.S.  Al Ahzab 33: 32)

Seiring perkembangannya, bentuk komunikasi tidak sebatas percakapan langsung, namun bisa juga dibumbui oleh aneka alat komunikasi canggih berupa, sms, e-mail, chatting, dll. Oleh karena itu, jangkauan sarana godaan selingkuh bertambah luas. Kapan pun ingin berhubungan, semudah membalik telapak tangan, tidak mengenal  batas waktu dan tempat.

Tak peduli pagi-siang-malam, antarkota, bahkan negara. Pendeknya, dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, dan dengan siapa saja. Saat bekerja di kantor, saat istirahat, saat bersama anak, saat bersama pasangannya sekali pun. Ironis sekali! Padahal, satu sama lain seharusnya menangkis untuk tidak membuka celah bagi  masuknya pihak ketiga dalam perkawinan. Sedemikian erat hubungan suami istri saling menjaga kehormatan diri dan pernikahannya.

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, …” (Q.S. An-Nisaa 4: 114). Tidak ada kebaikan sama sekali pembicaraan dalam perselingkuhan karena sangat keji mereka berkomunikasi rahasia mengajak kemungkaran dan kemaksiatan, perbincangan yang tidak mengandung unsur kebaikan sama sekali, berdalih mencari solusi masalah tapi sebenarnya mereka menambah masalah dan dosa.

Mereka bercanda-ria, bermanja-manja, saling melontarkan pujian, saling bercerita, saling memerhatikan hal sehari-hari layaknya suami-istri, saling tebar pesona, berlagak seorang hero (pahlawan), pelindung atau penyejuk jiwa, menjadikan pasangan resmi sebagai bahan olok-olok, fitnah, bualan, kambing hitam ketidakharmonisan.

Betapa Allah swt. murka pada orang yang berselingkuh, “Bahwa dari sebesar-besar marah di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang menerangkan rahasia tentang istrinya dan begitu pula istri tentang suami, kemudian menyiarkan rahasia itu.” (H.R. Muslim)

  1. Tidak Berhias yang Mengundang

Tentu saja, para peselingkuh akan berhias setampan dan secantik mungkin untuk selingkuhannya, bukan untuk istri atau suaminya. Sejak mata beradu pandang selalu terbayang-bayang, tak tahan menyimpan hasrat gejolak berahi yang menggebu ingin segera bertemu.

  1. Merajut Silaturahmi Bersama

Langkah efektif untuk menyelamatkan diri dari perselingkuhan adalah satu sama lain selalu melibatkan pasangannya untuk mengenal dan akrab dengan lingkungan keluarga, teman, kolega, profesi kerja pasangannya.Sebagaimana teladan kita Rasulullah saw. mengajarkan (terutama para suami) untuk membiasakan mengenalkan dan melibatkan istri dengan silaturahmi dengan sahabat dan kenalan suami. Mengikutsertakan istri dalam kegiatan suami, berarti istri dimuliakan oleh suami. Hal ini menjadi salah satu indikator akhlak suami mulia di hadapan Allah swt.

Anas r.a. berkata, sesungguhnya Rasulullah saw. punya tetangga seorang Parsi yang pandai membuat lauk-pauk. Ia mengundang Rasulullah saw. untuk makan di tempatnya. Rasulullah saw. bertanya, “Apakah Aisyah diundang juga?” Orang Parsi itu menjawab, “Tidak.” Rasulullah saw. berkata, ”Saya tidak akan datang.” Stelah beberapa lama, orang ini datang kembali mengundang beliau.  Rasulullah saw. bertanya kembali, “Apakah Aisyah diundang juga?” Orang Parsi itu menjawab, “Ya!”  Kemudian barulah Rasulullah saw. mau memenuhi undangan tersebut.

Intinya, Rasulullah saw. menempatkan posisi pasangan secara proporsional sebagai  soulmate  (belahan jiwa) seiring sejalan satu sama lain. Tidak ada pertemanan yang disembunyikan terhadap pasangannya, selalu lebih aman dan lebih cocok untuk dihadapi secara bersama-sama sebagai couple (pasangan). Wallahu’alam.

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga, pegiat dakwah dan penulis buku.

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: “Djerba–Couple-sky walker” by Henning Leweke from Kiel, Germany – CoupleUploaded by stegop. Licensed under CC BY-SA 2.0 via Wikimedia Commons.

Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini.

 

Promo-Kalender

 

 

 

 

 

 

 

(Visited 77 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment