Keharmonisan dalam Keluarga, Cegah Pedofilia

Oleh: Alva Handayani*

Munculnya beberapa kasus pedofilia ke permukaan akhir-akhir ini, memang membuat banyak orang ‘geram’ sekaligus mengelus dada. Betapa tidak. Kasus pedofilia di JIS, atau Emon yang disebut-sebut memakan korban hingga lebih dari seratus anak, bisa jadi adalah fenomena gunung es. Artinya, jumlah yang terlihat belum tentu menunjukkan fakta yang sesungguhnya.  Kemungkinan, masih banyak kasus yang tidak terlaporkan karena perasaan-perasaan seperti trauma, depresi, takut, malu, dan rasa tidak berdaya, membuat sebagian besar korban memilih untuk tidak melaporkan  kejadian yang menimpa mereka.

Ancaman Pedofilia Bisa Muncul Di Mana Saja

Pedofilia dan beragam tindakan pelecehan seksual lain yang menyasar korban anak-anak, mengindikasikan semakin tak terbendungnya penyakit sosial di masyarakat kita.  Mirisnya lagi, ternyata sebagian besar pelakunya adalah orang-orang yang cukup dengan dengan kehidupan keseharian anak. Hasil penelitian di di Amerika Utara, mencatat bahwa sekitar 30% pelaku adalah orang-orang dari kalangan keluarga dari si anak; dan 60% lainnya adalah ‘teman’ dari keluarga, pengasuh, tetangga, atau orang dewasa lain yang sehari-hari memang bergaul dengan anak. Hanya sekitar 10% pelaku yang merupakan orang asing bagi anak.

Selain bahwa sebagian besar pelaku ini adalah orang-orang yang memang ‘tidak dicurigai’ oleh anak, kondisi anak yang belum matang secara kognisi, emosi, maupun seksual, sering dimanfaatkan oleh pelaku untuk melaksanakan niatnya. Ironisnya lagi, para pelaku sering bisa dengan mudah ‘mengenali’ calon-calon korbannya; bahkan beberapa korban bisa mengalami serentetan pelecehan seksual oleh pelaku yang sama, dan tidak berdaya untuk memberi tahu orang tua atau orang dewasa lain untuk mencari pertolongan.

promooktober

Optimalkan Peran Keluarga

Melihat kecenderungan ini, keharmonisan rumah tangga menjadi ‘syarat mutlak’ yang tidak bisa ditawar lagi. Penelitian menunjukkan, bahwa anak yang dididik dengan baik dalam keluarga yang harmonis, mempunyai peluang lebih besar untuk menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi, memiliki perasaan mampu dan lebih leluasa dalam mengeksplorasi potensi  yang mereka miliki. Tidak hanya itu. Kepercayaan diri yang dibarengi dengan daya tahan yang tangguh, juga membuat mereka tidak mudah menjadi korban pelecehan seksual.

Berikut adalah beberapa tips agar anak bisa menjaga diri di lingkungan sosialnya:

  • Jalin relasi antara orang tua dan anak yang lebih erat, agar orang tua bisa memantau pergaulan anaknya dan mencegah lebih banyak problem yang terkait dengan masalah relasi sosial.
  • Ajari anak bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri dan tidak ada yang boleh menyentuhnya tanpa izin. Lakukan komunikasi terbuka dengan anak sejak usia dini. Tunjukkan pada anak, area-area yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Gunakan istilah yang tepat dan bahasa yang mudah dipaham anak untuk menjelaskannya.
  • Ciptakan keterbukaan dan penerimaan orang tua terhadap anak, agar anak leluasa mengomunikasikan apa saja yang mereka alami. Dengan demikian, anak bisa segera melaporkan tindak pelecehan seksual bila mereka atau teman mereka mengalaminya.
  • Latihkan juga keberanian untuk mengatakan “tidak” jika ada seseorang yang melakukan kontak fisik yang tidak nyaman. Anak juga harus diajarkan berani melapor kepada orang dewasa jika mengalami hal tersebut.
  • Beritahu anak, tentang orang dewasa yang bisa mereka percayai demi keselamatan mereka, dan agar tidak bergaul dengan orang asing tanpa arahan atau pendampingan.
  • Ancaman pelaku agar anak ‘menjaga rahasia’ seringkali dijadikan taktik agar kejahatan mereka tidak terbongkar, bisa jadi membuat anak ketakutan sekaligus tidak nyaman. Oleh karena itu,
  • jelaskan pada anak tentang perbedaan antara rahasia yang ‘baik’ dan ‘buruk’.

Penanaman moral dan agama, tentu menjadi hal yang sangat penting. Selain itu, pendidikan seksual dan teladan dari orang tua tentang kehidupan seksualitas mereka, akan sangat membantu dalam penanaman nilai-nilai pada anak, mengembangkan gambaran diri yang positif dan respon yang sehat terhadap seks.

Beberapa sekolah sudah mulai mengembangkan pendidikan seksual bagi anak didiknya. Bekerja samalah dengan pihak sekolah, agar anak memiliki pandangan dan pedoman nilai yang sama dalam berperilaku, serta kerja sama dalam upaya membentengi diri mereka terhadap kemungkinan acaman pelecehan seksual. [ ]

 

*penulis adalah Program Director pada lembaga psikologi Go Beyond,psikolog anak,trainer,motivator dan pembicara seminar

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

 

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected]online.com.  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

Promo-Kalender

(Visited 31 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment