Tafakur di Cordoba, Sejenak Mengenang Kejayaan Islam

Oleh: Ir.H.Bambang Pranggono MBA IAI*

 

Katakan, “Wahai Allah penguasa semua kerajaan. Diberikan-Nya kerajaan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan dicabut-Nya kerajaan dari siapa yang Dia kehendaki.” (Q.S. Ali-Imran 3: 26)

Pemandangan dari jendela kereta api jurusan Madrid-Sevilla sungguh menakjubkan. Bentangan padang rumput diselingi hutan dan kebun anggur, dan dinaungi langit biru yang cerah. Setelah perjalanan selama 300 km, kita akan tiba di Cordoba, kota indah di tepi sungai Guadalquivir. 1300 tahun yang lalu kota indah ini bernama al-Qurthubah, ibu kota kerajaan Islam Andalusia. Kota terbesar dan termaju di Eropa pada zamannya. Ketika jalanan di London masih sempit berlumpur dan gelap gulita, Cordoba sudah bermandikan cahaya lampu. Ketika raja-raja Eropa belum kenal mandi, air mancur dan pemandian umum untuk rakyat bertaburan di kota ini. Dan ketika Eropa diselimuti kegelapan takhayul dan kebodohan ilmu, Cordoba memancarkan cahaya tauhid, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Ribuan kitab dibahas di perpustakaan universitas tertua di dunia. Di sanalah hidup Imam al-Qurthuby ulama besar penyusun Tafsir Al Jami’ul Ahkam dan kitab At-Tadzkirah.

Setelah berjalan kaki melewati patung Ibnu Rusydi, filsuf besar yang juga dinamai Averoes, sampailah kita ke Masjid Agung Cordoba. Masjid Agung ini kini berubah nama “Mesquita Cathedrale” (Katedral Masjid). Bila monumen lain seperti istana al-Hamra, benteng al-Cazar, dan menara La-Giralda dikuasai oleh kementerian pariwisata Spanyol, Masjid Cordova berada di bawah pengawasan gereja Katolik Roma. Di sana, setiap minggu pagi ada misa kebaktian, anehnya di dinding latar belakang masih terdapat ukiran kaligrafi La ilaha illallah. Di sekitar masjid kini bertaburan bar, diskotik, restoran, dan hotel. 800 pilar masjid yang indah dengan lengkungan khas yang merekam suasana shalat berjamaah di zaman dulu, kini diganti oleh ramainya langkah para turis dan suara jepretan kamera.

Bila dahulu di malam hari terdengar gemuruhnya zikir tadarus Al Quran, kini penuh ingar bingar musik dan muda mudi yang saling berpelukan. Menara masjid masih tegak berdiri kokoh, namun dari puncaknya bukan lagi suara azan menyerukan kalimat tauhid, melainkan lonceng gereja besar berdentang. Di depan masjid, Sungai Guadalquivir tetap tenang mengalir ribuan tahun menyaksikan berganti-gantinya penguasa. Monumen tauhid dengan konstruksi mengagumkan itu dibangun sejak tahun 785, lebih tua dari Candi Borobudur.

Hampir 8 abad Islam berkuasa di Spanyol, lebih lama dari masa penjajahan Belanda di Indonesia. Sampai tahun 1492 muslimin kalah dan diusir dari Spanyol. Dan masa-masa kejayaan dipergilirkan silih berganti di antara manusia. Tetapi warisan budaya Islam di Spanyol tidak bisa dihapuskan. Gadis cantik dan perjaka tampan Spanyol berambut keriting, bermata hitam, berkulit gelap, tidak bisa menyembunyikan warisan darah dari nenek moyangnya, yakni muslimin Arab dan Afrika Utara. Irama gitar yang garang pengiring tarian Flamenco tidak bisa menutupi bahwa asal muasalnya adalah musik padang pasir Arabia. Dan keberanian matador melawan banteng el-Torro mewarisi jiwa mujahid pejuang Islam di abad ke-8. Semangat jihad Jenderal Thariq ibn Ziyad yang membakar kapalnya setelah mendarat, sehingga ia dan pasukannya hanya memiliki dua pilihan: mati syahid atau menang perang melawan tentara Kristen. Nama pahlawan ini diabadikan menjadi nama selat dan gunung batu karang di pesisir selatan, yakni Jabal Thariq atau Gibraltar.

BACA JUGA  Teliti Travel Sebelum Berangkat, Hindari Sistem Umrah MLM

Gaya arsitektur bangunan moorish dan campurannya mudejar, tampak jelas membawa ruh Islam yang berbeda dari zaman sebelumnya. Sayang kemewahan dunia dan rakus kekuasaan telah melembekkan semangat dan memecah belah kerajaan Islam di Eropa. Hawa nafsu duniawi telah menyebabkan kekalahan raja-raja Islam Spanyol melawan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Di Cordova kita tafakuri sabda Rasulullah saw. “Kita baru pulang dari jihad kecil menuju jihad besar: jihad melawan nafsu.” Seringkali di situ kita kalah. Wallahu muwafiq ila aqwami tariq. [ ]

 

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku.

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: “Cordovatown” by Rddogie – Own work. Licensed under CC BY-SA 4.1 via Wikimedia Commons.

 

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email: [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

Promo-Kalender

 

 

 

 

 

(Visited 32 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment