Shalawat yang Dianjurkan Rasul

nabi muhammad

Oleh : KH. Deddy Rahman (Consultant of Islamic Law)

Secara harfiah, shalawat dapat dimaknai sebagai bentuk jamak dari kata shalat yang berarti doa atau seruan kepada Allah. Membaca shalawat kepada Rasul Saw. memiliki maksud mendoakan atau memohonkan berkah kepada Allah Swt. dengan ucapan, pernyataan, serta pengharapan, semoga beliau sejahtera (beruntung, tak kurang suatu apa pun, serta tetap dalam keadaannya baik dan sehat).

Perintah untuk bershalawat kepada Rasulullah Saw. telah difirmankan dalam Surat Al Ahzab [33] ayat ke-56.
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Berbahagialah orang yang merasa nikmat bershalawat kepada Rasulullah Saw. Rasul Saw. pernah menyatakan bahwa orang yang paling dekat dengannya pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepada beliau. Namun demikian, tidak sedikit di antara kita yang masih mempertanyakan bagaimana Rasul mensyariatkan amalan shalawat tersebut.

Kita tahu bahwa shalawat Allah adalah pujian-Nya (terhadap Nabi Saw.) di sisi para malaikat dan shalawatnya malaikat berupa doa. Maka jelaslah bagi kita bahwa shalawat seorang mukmin adalah doa kepada Allah agar melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad Saw. Karena shalawat merupakan doa, maka sudah seharusnya ia dilakukan sesuai dengan adab-adab yang telah diajarkan oleh syariat.

Menurut KH. Deddy Rahman, shalawat yang disyariatkan adalah shalawat yang hanya dianjurkan oleh Nabi Saw. Shalawat yang mengarah kepada mengkultuskan Nabi (seakan-akan nabi yang memberi shafaat kepada kita) justru tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Lebih lanjut, Ust. Deddy mengemukakan bahwa seluruh amalan ibadah harus berada di jalur yang telah dituntukan oleh Rasul, tak terkecuali shalawat. “Shalawat dimaknai sebagai ashalat ashalatu yang artinya bisa identik dengan shalat wajib maupun shalat sunat. Sedangkan shalawat dalam pengertian adh-doa ialah shalawat kepada Nabi Saw. yang disyariatkan di berbagai waktu dan kesempatan seperti ketika tasyahhud dalam shalat, khuthbah, doa, istighfar, setelah adzan, serta ketika masuk dan keluar masjid,” imbuhnya.

Masih menurut Ust. Deddy, pada Sahih Bukhari Kitab 60 terdapat hadits 320 yang menjelaskan tentang shalawat. Dari Kaab bin Ujra, “Ya Rasulullah! Kami tahu bagaimana mengucapkan salam kepadamu, tetapi bagaimanakah bershalawat terhadapmu?” Rasulullah berkata, “Ucapkan: Allahumma shalli ala Muhammad wa’ala aali Muhammad, kama shallaita ‘ala ali Ibrahim. Innaka hamidun majid.”

Dalam hadits lain disebutkan, dari Abdur Rahman bin Abu Laila, dia berkata: “Kaab bin Ujrah bertemu aku, lalu dia berkata: ‘Maukah aku memberi hadiah kepadamu, yang aku mendengarnya dari Nabi Saw.?’ Aku menjawab: ‘Ya. Hadiahkanlah itu kepadaku.’ Ia berkata: ‘Kami bertanya kepada Rasulullah Saw. bagaimana cara membaca shalawat kepada belaiu dan ahlul bayt? Sesungguhnya Allah telah mengajarkan kepada kami bagaimana kami membaca salam. Beliaupun bersabda, ucapkanlah:

Allahumma shalli alaa Muhammad wa ala aali Muhammad, kamaa shalaita ala Ibraahiim wa ala aali Ibraahiim. Innaka hamiidun majiid. Allahumma baarik ala Muhammad wa ala aali Muhammad, kamaa baarokta ala Ibraahiim wa ala aali Ibraahiim. Innaka hamiidun majiid.

[Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana engkau melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkatilah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberkati kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Maha Mulia.]

Sebagai seorang mukmin yang baik, niat ikhlas bershalawat juga harus dibarengi dengan tuntunan yang berujuk pada anjuran Rasul Saw. dalam bershalawat sehingga tetap berada dalam keistiqamahan dalam menjalankan Al-Quran dan hadits. Dengan demikian, shalawat yang kita panjatkan akan bernilai ibadah yang tentunya juga akan mendatangkan pahala.

Menanggapi berbagai macam praktik shalawat yang ada di masyarakat kita (seperti shalawat mohon syafaat di hari kiamat, shalawat agar diperkenankan berziarah ke makam Rasulullah Saw., shalawat tafrijiyah, shalawat munjiyah, shalawat badawiyah, shalawat badar/badriyah), Ust Deddy menyatakan bahwa shalawat semacam ini tidak ada dalam ajaran Islam karena tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Kalaupun ada, secara tegas Ust. Deddy mengemukakan bahwa shalawat semacam itu hanyalah produk ulama yang kemudian berkembang hingga sekarang. “Terlebih shalawat-shalawat itu dilakukan dengan cara berjamaah dan dalam bentuk nyanyian-nyayian khusus. Boleh dikatakan bahwa hal tersebut termasuk amalan yang tendensius dan mengarah kepada perbuatan musyrik karena lebih cenderung pada pengkultusan Nabi Saw. Praktik shalawat seperti itu seakan-akan memberi pengertian bahwa Nabi Saw. yang akan memberikan safaat kepada kita,” tegasnya.

“Jadi, jika tidak melakukan shalawat munjiyah, badawiyah, dan badar/badriyah, bukan berarti kita tidak pernah bershalawat kepada Rasul. Pada dasarnya, setiap shalat pun kita bershalawat kepada Rasulullah Saw. Dalam setiap ibadah, dalam hal ini shalawat, kita tidak boleh merekayasa atau membuatnya dengan mengkuti hawa nafsu,” imbuh Ust. Deddy.

Ketika ditanya mengapa banyak umat Islam di Indonesia yang mempraktikkan shalawat munjiyah, badawiyah, dan badar/badriyah, Ust. Deddy menjelaskan bahwa menurut mereka shalawat-shalawat tersebut bagus, enak, dan menyentuh hati. Selain itu, mereka juga beralasan bahwa shalawat-shalawat tersebut tidak dilarang dalam Al-Quran dan hadits. “Di sinilah tugas kita untuk memberikan pengertian bahwa sesuatu (ibadah mahdah) yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi tidak usah dipraktekkan. Kita juga perlu menyampaikan bahwa shalawat-shalawat tersebut tidak ada keterangannya dalam Al-Quran dan sunah,” pungkas Ust. Deddy. [Ahmad]

REKOMENDASI

Leave a Comment