Keutamaan Para Sahabat Rasullullah Yang Perlu Diteladani

umar

 

Bagi umat Islam selain sosok Rasulullah Saw.  ada beberapa figur yang layak diteladani yakni para sahabat.  Kata “sahabat” sendiri dalam bahasa Arab berasal dari kata “shuhbah”, yang artinya pertemanan , sedangkan dalam Kitab Al Ishabab, Ibnu Hajar mengatakan bahwa sahabat itu berarti shahabiyyun yang bermakna mereka yang berjumpa dengan Rasulullah Saw. dan beriman kepadanya serta meninggal dalam keadaan muslim.

Demikian penjelasan Ustadz KH. Farid Ahmad Okbah, M. A. saat menyampaikan kajiannya tentang  “Meneladani Sahabat Nabi” di Masjid Al-Lathiif  Kota Bandung akhir pekan lalu. Ia menambahkan ada beberapa hal utama yang ditanamkan Rasulullah Saw., kepada para sahabatnya diantaranya adalah kekuatan akidah sebagai pondasi umat Islam dalam menjalankan ibadah kepada Allah Swt.

iklan donasi pustaka2

“Selain itu beliau (Rasul) juga membangun kekuatan ilmu dan amal. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan, artinya orang beramal harus ada ilmunya (dalilnya) sementara orang yang telah memiliki ilmu harus diamalkan atau didakwahkan, tidak boleh disembunyikan,” jelasnya dihadapan ratusan jamaah.

Sementara kekuatan berikutnya adalah Rasulullah membangun kekuatan ukhuwah, contoh atau kisah ini dapat dibaca bagaimana beliau mempersaudarakan sahabat Anshar dengan sahabat Mujahirin. Persaudaraan tersebut oleh Rasulullah dibangun bukan berdasar hubungan darah atau nashab (keturunan) melainkan berdasar pada kesamaan akidah.

Untuk kondisi saat ini menurut ustadz Farid, ukhuwah dalam tubuh umat Islam masih pasang surut. Pada hal tertentu terbangun ada ikatan ukhuwah yang kuat namun dalam beberapa hal umat Islam masih belum bersatu hanya karena persoalan yang sifatnya furuhiyyah (cabang). Inilah salah satu persoalan yang harus segera dijawab dan diselesaikan oleh umat Islam. Jangan sampai hanya karena masih adanya perbedaan dalam hal tidak prinsip atau pokok (akidah,tauhid) umat Islam enggan bersatu. Kondisi ini, menurut ustdaz Farid malah akan menguntungkan musuh Islam yang sudah bersatu padu melawan umat Islam.

“Janganlah hanya berbeda hal yang tidak pokok (prinsip) kita lalu berpecah. Mari belajar dari kehidupan para sahabat yang lebih mengutamakan kepentingan akhirat ketimbang kepentingan dunia. Selain mengutamakan kepentingan akhirat, para sahabat juga lebih mementingkan umat ketimbang kepentingan kelompok atau golongan,” ia mengingatkan.

Ustadz Farid menambahkan keutamaan para sahabat Rasul bisa dilihat dari sikap mereka yang selalu siap membela Allah dan Rasul-Nya. Mereka siap berjihad di jalan-Nya, selalu menghormati tamu, memiliki ilmu yang luas, dan mereka senantiasa rindu dengan jannah (Surga). Keutamaan sahabat ini menurut ustadz Farid, bisa dibaca dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Dari Imran bin Husain r.a, Rasulullah Saw., bersabda, “Sebaik–baik umatku adalah yang orang-orang hidup pada zamanku (para sahabat) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (tabi’ut tabi’in)”.

Selain itu, jika umat Islam juga dapat melihat praktik kehidupan sahabat semasa hidupnya. Hal ini menurut Imam Al Auza’I sikap yang dipraktikkan para sahabat,  yaitu senantiasa mengutamakan persatuan umat, menegakkan Sunnah, selalu berinteraksi dengan Al Quran. Tak lupa memakmurkan masjid, dan berjihad fii sabilillah.

“Para sahabat itu juga manusia biasa seperti kita, bedanya mereka hidup bersama Rasul dan dididik (tarbiyah) langsung oleh Rasul, selebihnya sama dengan kita. Jika kita bersungguh-sungguh dan memohon kepada Allah, insya Allah kita pun bisa seperti para sahabat,” ajaknya.

Di akhir tausyiahnya,tidak lupa ustadz Farid juga mengajak khususnya kepada para orangtua agar senantiasa menanamkan teladan dan keutamaan para sahabat ini kepada putra putrinya. Sebab, perjuangan dakwah Islam selanjutnya ada di tangan generasi berikutnya yakni anak keturunan kita. Selain itu, ustadz Farid juga berpesan agar orangtua membentengi akidah putra putrinya dari paham sesat dan menyesatkan, sebab paham sesat tersebut juga genjar dilancarkan musuh-musuh Islam dalam berbagai bentuk seperti paham sekulerisme, pluralisme dan liberalisme. Paham-paham tersebut menjelma dalam berbagai bentuk, namun intinya tetap sesat dan menyesatkan serta bertentangan dengan akidah Islam. [ ]

 

Rep: Iman

Editor: A. Candra

Editor Bahasa: Desi

 

Promo-Kalender

(Visited 8 times, 3 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment