Jalan Kebaikan Itu Banyak, Mana Yang Sudah Anda Tempuh ?

 

 

 

Oleh: Tate Qomaruddin*

 

 

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ « أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ » (مسلم)

iklan donasi pustaka2

Dari Abu Dzar –-semoga Allah meridoinya-  bahwa beberapa orang sahabat Nabi saw. berkata kepada Nabi saw., “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya memborong semua pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bershadaqah dengan kelebihan hartanya.” Rasulullah saw. menjawab, “Bukankah Allah telah menjadikan (menetapkan) bagi kalian apa yang (dapat) kalian shadaqahkan? Sesungguhnya dengan setiap (ucapan) tasbih adalah shadaqah, dengan setiap (ucapan) takbir adalah shadaqah, dengan setiap (ucapan) tahmid adalah shadaqah, dengan setiap (ucapan) tahlil adalah shadaqah, memerintah kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran adalah shadaqah, dan dalam kemaluan seseorang di antara kalian adalah shadaqah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah seseorang yang menyalurkan syahwatnya dapat pahala?” Rasulullah saw. menjawab, “Bukankah jika dia menyalurkan dalam (hal/cara) haram mendapat dosa? Maka demikian pula jika dia menyalurkannya dalam (hal/cara) halal maka ia dapat pahala.”  (HR. Muslim)

Dari pernyataan dan pertanyaan para sahabat kepada Rasulullah saw., sebagaimana diinformasikan dalam hadits di atas, kita dapat melihat gambaran betapa mereka –-semoga Allah meridoi mereka- memiliki orientasi yang kuat untuk membangun kehidupan yang baik (hasanah) di hari akhirat. Tergambar bagaimana mereka berlomba untuk mendapatkan rido dan pahala dari Allah swt. Mereka merasa bahwa mereka mampu melakukan apa pun yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya yang dapat mengantarkan mereka pada keridoan-Nya. Kecuali ibadah yang menuntut ketersediaan harta, mereka tidak memilikinya. Karena itulah mereka mengadu kepada Rasulullah saw. Sebab mereka tidak bisa berbuat lebih banyak tanpa kekayaan. Sedangkan, fikir mereka, orang-orang yang berpunya selain dapat beribadah dengan cara seperti yang mereka lakukan dapat pula beribadah dengan harta dalam bentuk shadaqah.

Maka Rasulullah saw. menjelaskan bahwa berbagai ibadah yang dilakukan oleh seorang Muslim –manakala dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.- adalah merupakan shadaqah. Bahkan suatu perbuatan yang dimungkinkan dengan menjalaninya seseorang sudah mendapatkan kenikmatan dan kepuasan –karena hal itu memang tuntutan fitrah, yakni hubungan suami isteri, mendapatkan pahala pula.  begitu pula perbuatan-perbuatan lain yang merupakan tuntutan fitrah manusai seperti makan, berpakaian dan lain sebagainya, menjadi bernilai ibadah manakala dilakukan dengan cara mengikuti sunnah Rasulullah saw.

Rasulullah saw. memberikan arahan bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan dalam harta, untuk tidak berkecil hati manakala ingin melakukan amal saleh. Sebab kebaikan bukan hanya satu pintu. Teramat banyak pintu untuk melakukannya, bagi orang yang menginginkannya. Harta bukan satu-satu sarana untuk beramal saleh dan bershadaqah. Ketika seseorang terkendala melakukan satu kebaikan kerana alasan-alasan tertentu, maka di dalam Islam masih amat banyak peluang melakukan kebaikan itu.

Tentu saja perlu difahami bahwa Rasulullah saw. mengatakan hal itu kepada orang yang bersemangat untuk bersahadaqah dengan harta tapi apa daya mereka tidak memiliki sesuatu yang dapat mereka berikan. Oleh karena itu hadits itu jangan dijadikan senjata oleh orang-orang yang berpunya untuk hanya mencukupkan diri dengan “shadaqah” dalam bentuk dzikir dan wirid. Karena bagi orang-orang yang mempunyai keleluasaan dalam harta ada kewajiban lain, yakni berinfak dengan harta yang mereka miliki. Allah swt berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ () الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (البقرة 261-262)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah 261-262)

Hadits di atas juga perlu difahami bersama hadits-hadits lain tentang peluang-peluang amal saleh. Rasulullah saw. bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ أعْمَالُ أُمَّتِي حَسَنُهَا وَسَيِّئُهَا فَوَجَدْتُ في مَحَاسِنِ أعْمَالِهَا الأذَى يُمَاطُ عَنِ الطَّريقِ ، وَوَجَدْتُ في مَسَاوِىءِ أعمَالِهَا النُّخَاعَةُ تَكُونُ في المَسْجِدِ لا تُدْفَنُ  (رواه مسلم )

Telah dipampangkan kepadaku amal-amal umatku, yang baik dan yang buruknya. Aku menemukan di antara amal baik itu adalah menyingkirkan gangguan dari jalan dan aku menemukan di antara amal buruk itu adalah dahak yang terdapat di masjid dan tidak dikubur.” (HR. Muslim)

Juga Rasulullah saw. bersabda:

(( كُلُّ سُلامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيهِ صَدَقَةٌ ، كُلَّ يَومٍ تَطلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ : تَعْدِلُ بَينَ الاثْنَينِ صَدَقةٌ ، وتُعِينُ الرَّجُلَ في دَابَّتِهِ ، فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، وَالكَلِمَةُ الطَيِّبَةُ صَدَقَةٌ ، وبكلِّ خَطْوَةٍ تَمشيهَا إِلَى الصَّلاةِ صَدَقَةٌ ، وتُميطُ الأذَى عَنِ الطَّريقِ صَدَقَةٌ )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

“Setiap ruas tulang manusia wajib mengeluarkan shadaqah pada setiap hari di mana matahari terbit. Bersikap adil pada dua orang adalah shadaqah. Menolong seseorang dalam urusan kendaraannya, dengan menaikkan dia diatas kendaraan itu atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah shadaqah. Kalimat yang baik adalah shadaqah. Dengan setiap langkah yang diayunkan menuju shalat adalah shaqadah. Dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah shadaqah.”

Semua hadits tadi menggambarkan tentang banyaknya jalan kebaikan. Dan kebaikan-kebaikan itu bukan hanya sebatas ibadah-ibadah ritual. Oleh karena itu, untuk meraup kebaikan sebanyak-banyak itu tidaklah perlu kita mengasingkan diri lalu menghuni pojokan masjid untuk berdzikir tiada henti. Tidak perlu itu karena ada kebaikan lain yang dapat –bahkan wajib- kita lakukan yang merupakan hak orang lain.

Karena Allah dan Rasulullah saw. sudah menyiadakan dan menunjukkan untuk kita banyak jalan kebaikan maka tidak perlu ada orang yang merasa nganggur dalam hidup dan menganggap dirinya tidak mempunyai potensi dan daya untuk melakukan kebaikan. Allah telah memformat manusia berkesesuaian dengan perintah-perintah-Nya. Jika pun ada manusia yang memiliki keterbatasan baik secara fisik maupun finansial, maka ada banyak pilihan amal saleh yang dapat dilakukan.

Dan karena jalan kebaikan itu banyak, maka kita tidak perlu membuat-buat ibadah yang tidak ada dasarnya dalam Quran dan Sunnah. Tubuh kita akan cukup merasakan kelelahan jika semua yang diajarkan Rasulullah saw. kita laksanakan. Jadi laksanakan saja apa yang sudah diajarkan. Itu sudah cukup mengantarkan kita pada pada kecintaan Allah swt. Dalam hal ibadah mahdhah (ritual) Inovasi dan improvasi terlarang. Sebaliknya dalam hal mu’amalah, ibadah yang bersifat kemanusiaan, dan hal-hal duniawi justeru dituntut inovasi dan improvisasi.

Bahkan kebaikan seseorang yang diberikan untuk seekor binatang sekalipun, tetap dihitung sebagai kebaikan dan mendatangkan ampunan Allah bagi orang itu. Rasulullah saw. mengisahkan tentang seseorang yang memberi minum seekor anjing yang kehausan dalam sebuah perjalan. Rasulullah saw. mengatakan bahwa Allah swt berterimakasih kepada orang itu dan mengampuni dosa-dosanya.

Dalam keadaan seseorang benar-benar tidak berdaya apa yang harus dilakukan. Hal itu pernah dipertanyakan oleh seorang sahabat kepada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, bagaimana jika aku lemah (tak berdaya) melakukan sebagaian amal?” Rasulullah saw. menjawab, “Engkau menahan diri dari melakukan keburukan, itu (pun) shadaqah darimu untuk dirimu sendiri.” . Wallahu a’lam. [ ]

 

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku.                      

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email : [email protected].  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

Promo-Kalender

 

 

 

 

 

 

 

(Visited 9 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment