Gemilang Uang, Pesonanya Sering Melenakan

 

Sebuah obrolang ringan di dalam angkot antara dua orang rekanan kerja menyatakan betapa mahalnya biaya sekolah saat ini . Ia lantas memberi contoh ada sebuah SMA swasta favorit di kota ini. Bayangkan, pertama kali masuk setiap siswa dikenai biaya sebesar Rp. 20.000.000,- untuk biaya gedung, seragam, dan sebagainya. Untuk iuran setiap bulan atau SPP, mereka harus membayar sebesar Rp. 500.000,-.  Mahal dan murah memang relatif. Kenyataan bahwa uang sebesar itu terlalu mahal bagi sebagian orang, itu adalah sebuah fakta yang tidak dapat dinafikan.

Begitulah. Uang tampaknya tidak akan pernah terlepas dari kehidupan manusia.  Dengannya, manusia bisa mendapatkan yang ia inginkan, pun menjadi pusing tujuh keliling dibuatnya. Tidak heran jika kebaikan atau kejahatan yang tejadi di muka bumi ini bermuara pada uang. Seorang rekan selalu terenyuh sampai menitikkan air mata manakalah melihat tayangan reality show yang membagi-bagikan uang ‘kaget’ kepada kaum papa. Betapa masih ada sebagian orang yang mempedulikan nasib orang miskin dan tidak segan mengulurkan bantuan. Namun di sisi yang lain, kita seolah tidak pernah berhenti mendengar kabar tindak korupsi yang dilakukan orang-orang penting negeri ini.  Bukan hanya jutaan, namun trilyunan uang rakyat tega disalahgunakan. Demikianlah uang. Seperti juga peradaban manusia, uang pun memiliki sejarah yang tidak kalah panjang dan terbagi dalam fase-fase tertentu.

Sejarah Uang

Sejarah uang menurut Jack Wheatherford dalam buku “Sejarah Uang” bermula ketika bangsa Lydia membuat koin pertama (640-630 SM) dari elektrum, campuran emas dan perak yang terjadi secara alamiah. Mereka memotong-motong elektrum menjadi bulatan-bulatan oval yang beberapa kali lebih tebal dari pada koin modern, atau kira-kira seukuran ruas akhir ibu jari orang dewasa. Guna menjamin keotentikannya, raja memerintahkan tiap koin dicap dengan emblem kepala singa. Pengecapan itu juga berfungsi meratakan bulatan, mengawali transisi dari koin bungkal oval menjadi sekeping koin datar melingkar.

Hal ini memudahkan orang-orang pada zaman itu melakukan ‘jual beli’ yang sebelumnya menggunakan ‘uang’ komoditas. Uang komoditas yang dimaksud adalah barang-barang yang dianggap memiliki nilai tinggi bagi suatu bangsa. Masing-masing bangsa menggunakan uang komoditas yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sebagai uang komoditas, bangsa India menggunakan buah almond, bangsa Guatemala menggunakan jagung, bangsa kepulauan Nobar menggunakan kelapa, bangsa-bangsa di Asia Tenggara menggunakan beras, bangsa Norwegia menggunakan mentega, dan bangsa Cina menggunakan garam. Karena ketidakpraktisan dan kendala dalam menentukan jumlah yang sebanding dengan barang-barang yang mereka inginkan, sistem jual beli dengan uang komoditas (barter, red) ini kemudian ditinggalkan.

Pada perkembangan selanjutnya, emas digunakan sebagai bahan dasar pembuat koin karena banyak bangsa mengakui nilai yang terkandung di dalamnya. Hal ini dikarenakan bentuknya yang tidak akan lekang termakan waktu ataupun cuaca. Emas murni akan tetap murni. Tidak seperti tembaga yang berubah warna menjadi hijau, besi yang berkarat, dan perak yang memudar.

Numismatika

Mungkin Anda baru mendengar atau membaca istilah ini. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, numismatika adalah sebuah telaah pengumpulan mata uang atau tanda jasa, medali, dan sebagainya. Khusus dalam hal ini, numismatika dapat dikatagorikan sebagai sebuah hobi mengumpulkan mata uang kuno. Sama seperti halnya filateli (hobi mengumpulkan perangko), semakin tua dan langka koleksi yang dimiliki, akan semakin bernilai di mata penggemarnya.

Di samping usia uang-uang kuno tersebut, keadaan fisik pun mempengaruhi nilai uang. Berdasarkan keadaan fisik ini, para kolektor membagi koleksi uang kuno mereka dalam beberapa kategori. Kategori tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Proof (PR). Uang dalam kategori ini memiliki bentuk yang sempurna (mirror-like surface). Hal ini dikarenakan uang-uang ini memang dicetak untuk kepentingan koleksi, perkenalan, serta untuk memperingati momen-momen tertentu.
  2. Uncirculated (UNC). Keadaan fisik uang dalam kategori ini tidak memiliki cacat sedikit pun karena tidak beredar atau uncirculated. Di Eropa, khususnya Belanda dan Perancis, kondisi uang logam seperti ini disebut FDC atau Fleur de Coin.
  3. Extremly Fine (ef atau xf). Kondisi uang dalam kategori ini walau masih bagus namun gambar dalam koin tersebut tidak begitu jelas. Secara keseluruhan kira-kira kondisi uang tersebut mendekati 90-95% dari uang aslinya. Berturut berdasarkan persen kualitas uang, numismatika menyebut beberapa tingkatan lagi di bawahnya yaitu Very Fine (vf), Fine (f), Very Good (vg) dan terakhir Good (g).

Materialisme

Seorang wanita ditanya oleh temannya tentang kriteria memilih suami. Dia menjawab, “Penampilan tidak masalah. Yang penting itu kepribadiannya, apakah dia memiliki mobil pribadi, rumah pribadi, perusahaan pribadi, tanah pribadi, dan ‘pribadi-pribadi’ lain sejenisnya.” Tentu saja, hal itu diungkapkan dalam nada canda. Namun ketika ditanya lebih lanjut mengenai alasannya, dia akan berkata bahwa “kita harus realistis dalam hidup. Bukankah cinta tidak dapat membuat perut kita kenyang?” Menanggapi hal itu, sang teman yang kata, “Dasar cewek matre!”

Matre atau materialistis mau tidak mau harus diakui sebagai sebuah fenomena yang muncul akibat dahsyatnya pesona uang dalam dalam kehidupan manusia. Karenanya, sebagian orang mendefinisikan materialistis sebagai orientasi yang lebih kepada kebendaan dan bersifat materi. Segala sesuatu diarahkan untuk memenuhi tujuan tersebut, materi.

Dalam skala tertentu, materialisme membawa dampak positif. Orang menjadi bersemangat berlomba-lomba mendapatkan uang.  Namun jika berlebihan, hal ini akan membentuk kepribadian seseorang menjadi hamba uang yang karenanya dapat menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkannya. Tampaknya pesona uang akan selalu mewarnai peradaban manusia dari waktu ke waktu.  Tidak hanya itu, uang juga dapat membentuk karakter seseorang. Sepanjang manusia masih memiliki keinginan, uang akan senantiasa diburu, ditumpuk, dan dibanggakan.  [ ]

 

Red : Muslik

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

Promo-Kalender

(Visited 14 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment