Urgensi Nyatakan Rela Islam Sebagai Agamaku

Oleh: Tate Qomaruddin*

 قال النبي صلى الله عليه وسلم: ذَاقَ طَعْمَ الِإيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًا وَبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا وِبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً (رواه مسلم)

Nabi Saw. bersabda, “Mengecap rasanya iman orang yang rela kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” (H.R. Muslim)

Syarat kedua agar seseorang bisa merasakan  nikmatnya iman adalah rela Islam sebagai agama. Islam itu sendiri bermakna kepasrahan kepada Allah dengan penuh kerelaan. Orang yang ber-Islam adalah orang yang tunduk. Akan tetapi bukan sembarang tunduk melainkan tunduk hanya kepada Allah Swt. semata. Ketundukan kepada sembarang pihak atau sembarang tuhan bukanlah Islam.

Ketundukan dan kepasrahan adalah sesuatu yang Allah kehendaki dari manusia dalam rangka menguji  kita.

promo oktober

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang paling baik amalnya.” (Q.S. Al-Mulk [67]: 2)

Allah menciptakan kehidupan dengan satu paket sistem atau tata aturan yang terintegrasi. Ada sistem yang berlaku pada tubuh manusia secara personal. Tumbuh kembang manusia dan metabolisme tubuh, misalnya, tunduk pada sistem ini. Ada sistem yang berlaku pada tubuh binatang. Ada sistem yang berlaku pada tetumbuhan. Ada sistem yang berlaku pada tatasurya. Dan ada sistem yang mengatur dan mensinerjikan antar segala anggota alam semesta kesuluran. Dan semuanya dirancang oleh-Nya denan begitu sempurna.

Tentang sistem yang berlaku pada bumi dan dan sekaligus secara sepesifik pada manusia, Allah berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آَيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (20) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ (21)

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin; Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (Q.S. Ad-Dzariyat [51]: 20-21)

 

Tentang sistem yang berlaku pada tetumbuhan, firman-Nya:

وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (الرعد 4)

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (Q.S. Ar-Ra’d [13]:  4)

Tentang sistem yang berlaku di alam semesta, Allah berfirman:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ (83)

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain selain (agama) Allah? Padahal kepada-Nyalah tunduk segala apa yang ada dilangit dan dibumi baik secara suka maupun secara terpaksa. (Q.S. Ali Imran [3]: 83)

Semua ayat itu menegaskan tentang adanya sistem yang mengendalikan kehidupan alam semesta pada umumnya dan manusia pada khususnya. Nah, bagian dari paket aturan  itu adalah aturan yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bersikap kepada Sang Pencipta, kepada sesama manusia, dan kepada alam semesta. Itulah agama Islam. Jika demikian, wajar awal ayat itu mengemukakan pertanyaan retoris “Maka apakah mereka mencari agama lain selain (agama) Allah?”

Makanya jaminan kebahagian manusia dalam kehidupan di dunia dan juga akhirat adalah ketundukan kepada Allah sebagai Muslim. Dengan tunduk kepada Allah swt. maka manusia hidup dalam harmoni dengan seluruh anggota alam semesta yang senantiasa tunduk kepada-Nya. Dengan harmoni itulah hadir kebahagian, rasa takut sirna dan kesedihan pun hilang.

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 112)

 

Kerelaan kita kepada Islam sebagai agama harus ditunjukkan dengan kesiapan kehidupan kita diatur oleh Islam, dalam segala aspeknya.  Bukankah kita tidak pernah protes kepada siapa pun tentang sistem kerja tubuh kita. Kita patuh saja pada ketika perut menunut makanan. Dan kita pun tidak pernah melakukan perlawanan ketika kita harus “ke belakang” untuk membuang apa yang seharusnya dibuang. Kita tidak pernah membangkang saat tubuh kita menghendaki tidur dan istirahat. Dan kita hanya menikmati saja saat ada orang memperhatikan, membela, dan mencintai diri kita.

Kita tidak pernah memprotes berlakunya segala tata aturan di alam semesta. Kita tidak memprotes proses yang terjadi pada tetumbuhan: bermula dari benih kecil yang terus bertumbuh dan kemudian pada akhirnya berbuah. Kita tidak pernah berusaha menghentikan terbitnya matahari dari sebelah timur dan tenggelam di sebelah barat. Kita rela semua itu terjadi.

Seperti kerelaan itulah hendaknya kerelaan jiwa kita untuk tunduk pada Allah dan diatur oleh Islam. Kerelaan yang tanpa reserve. Kerelaan tanpa pilih-pilih.

Mengapa ada orang yang merasa begitu berat dan kesulitan untuk mengukuti ajaran Islam dalam hal tata cara makan dan minum. Misalnya bahwa sebelum makan dan minum dianjurkan melafalkan basmalah. Makan dan minum menggunakan tangan kanan dan tidak menggunakan tangan kiri, karena –kata Rasulullah saw.- syetan makan dan minum dengan tangan kirinya. Makan dan minum dianjurkan sambil duduk. Memulai dengan tangan kanan saat mengenakan baju dan kaki kanan saat mengenakan celana atau sandal/sepatu. Dan berbagai tuntunan lainnya yang kalau diikuti maka segala yang kita kerjakan menjadi bernilai ibadah.

Tidak sulit bukan? Tapi nyatanya ada orang yang tidak suka terikat dengan tuntunan itu. Padahal dia dengan suka rela dan senang hati mengikuti segala yang dijarkan di sekolah “kepribadian”. Dari mulai cara berjalan, cara duduk, cara jongkok, posisi kaki saat berdiri, cara makan dan minum, dengan tangan mana memegang sendok, garpu, dan pisau, serta pernak pernik lainnya. Padahal semua aturan yang rigid itu hanyalah aturan yang dimaksudkan agar orang yang mematuhinya mendapatkan penerimaan di kalangan orang-orang dan tidak disebut kampungan atau dianggap tidak tahu tatakrama.

Itu contoh sederhana tentang ajaran Islam. Tentu saja Islam tidak hanya mengatur urusan personal dan hal sederhana seperti makan minum itu. Islam juga menuntun manusia dalam hal tatacara berpakaian, batas-batas aurat yang harus ditutupi dan tidak boleh dipamerkan. Dahulu, para wanita yang hidup pada masa Rasulullah saw. dengan sukarela menutup aurat mereka begitu mereka mendengar ayat Allah tentang kewajiban menutup aurat dibacakan.

Alhamdulillah, di zaman sekarang kita menyaksikan semakin banyak orang rela menyesuaikan diri dalam hal berpakaian dengan aturan Islam. Mereka mengenakannya dengan penuh percaya diri ke segala ranah yang mereka masuki; dunia prifesi, sosial bahkan dunia seni dan budaya. Alhamdulillah.

Kita juga rela Islam sebagai pengatur urusan harta kita, baik terkait dengan cara mencarinya atau membelanjakannya. Kita rela untuk tidak melakukan kecurangan dan penyimpangan dalam bisnis dan usaha apa pun. “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (Q.S. Al-Hasyr [59]: 7)

Dalam urusan politik Islam juga mempunyai aturan. Dan kita rela serta menerika dan senang hati. Politik dalam Islam adalah segala upaya untuk menghadirkan kemaslahatan bagi manusia, mendekatkan mereka kepada Sang Pencipta dan menjauhkan mereka dari segala keburukan.

Tesis Lord Acton yang menyatakan, “Kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan yang mutlak cenderung korup secara mutlak” tidaklah sepenuhnya salah tapi jelas tidak sejalan dengan semangat politik Islam. Karena seperti apa corak kekuasaan tergantung seperti apa watak orang yang mengelolanya. Jika pemegang kekuasaan itu orang yang beriman, jujur, adil, dan amanah bahkan ia akan menjadi satu dari tujuh orang yang mendapatkan perlindungan di hari akhirat. Luar biasa bukan?

Tapi kerelaan kita jangan pilih-pilih. Jangan terjadi kita rela bagian Islam tertentu karena dia menguntungkan bagi diri kita. Sedangkan bagian lain kita tolak karena dianggap tidak menguntungkan. “Adakah kalian mengimani sebagian kitab dan menolak sebagian yang lain? Maka tiadalah balasan bagi orang yang melakukan hal itu selain kehinaan di dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat dikembalikan kepada siksaan yang paling dahsyat.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 85).

Jangan pilih-pilih karena sesungguhnya seluruh ajaran Islam menguntungkan manusia. Bahwa kita melaksanakan Islam secara bertahap sesuai dengan kemampuan yang ada pada kita, adalah sah. Yang paling penting kita rela hidup diatur dengan aturan Islam dan kita yakin. “Pada hari ini telah aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah aku sempurnakan (pula) nikmat (dari)-Ku untukmu, dan telah Aku ridhoi bagimu Islam sebagai agamamu.(Q.S. Al-Maidah [5]: 3). Allahu a’lam.

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku.

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

Promo-Kalender

(Visited 9 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment