Tanda-tanda Kecilnya Manusia, Sudahkah Kita Menyadari ?

majelis percikan iman

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

Dalam sebuah perhelatan, dengan ramah seorang akhwat mengucap salam sambil dengan hangat memeluk. Namun, rekan akhwat yang disapa menatap dingin, senyum hambar, dan segera berlalu setelah membalas salam temannya itu, tak ada bincang-bincang di antara mereka. Ah, mengapa demikian?

Kutipan di atas merupakan contoh sederhana dari sampel acak bincang-bincang personal yang dilakukan penulis bahwa ternyata ada sejumlah akhwat berterus terang menunjukkan sikap tersebut sebagai bentuk keengganan komunikasi disebabkan ‘perbedaan’ mereka.  Kesan tidak simpatik antarsesama muslimah ini muncul karena adanya arogansi, menganggap tidak selevel, tidak sefikrah, bukan sesama jilbaber, bukan sesama orang yang berjuang, dan tidak seorganisasi. Hal ini tentu sangat disesalkan, melahirkan sikap kontra produktif dalam ukhuwah dan dakwah

Kali lain, seorang ayah sesumbar agar semua anggota keluarga selalu ingat bahwa dialah sumber rezeki, manakala dia meninggal terputuslah sumber rezeki itu. Boleh jadi, sang ayah ini bermaksud baik mengingatkan pada anak-anaknya agar hidup hemat, tidak boros, dan pandai menghargai jerih payahnya. Tapi, alangkah takaburnya kala di hati terbersit anggapan seperti itu. Kesombongan merasuk di hati tidak terasa. Padahal hakikatnya, sekalipun sang ayah telah tiada, istri dan anak-anak akan tetap hidup karena sumber rezeki tetap ada yang mengatur dan menjamin, yaitu Allah swt. sebagai Maha Pemberi/Pemilik Rezeki, Ar-Razak.

Al Quran mengingatkan manusia untuk tidak berlaku sombong, “Dan janganlah engkau palingkan pipimu kepada manusia dan janganlah berjalan dengan sombong di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong lagi congkak.” (Q.S. Luqman 31: 18).

kalender percikan iman 2018

Tanda-tanda Kekerdilan Manusia

Dialah yang menciptakan, memiliki, tidak memerlukan apa pun, kitalah yang membutuhkan-Nya, “Kepunyaan Allah apa-apa di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (Q.S. Luqman 31: 26)

Tidak terhingga ilmu Allah, tanda-tanda kebesaran Allah, nikmat yang Allah berikan, “Dan kalau sesungguhnya segala pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta, ditambah kemudian dengan tujuh laut, niscaya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Luqman 31: 27).

Menghidupkan, mematikan, dan membangkitkan seluruh manusia sejak Nabi Adam a.s. hingga makhluk terakhir sebelum kiamat kelak mudah bagi Allah swt. “Tidaklah kejadian dan kebangkitan kamu melainkan seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S. Luqman 31; 28).

Kapan dan di mana seseorang wafat tidak ada yang tahu, dan banyak hal lain yang tidak diketahui manusia, “Sesungguhnya Allah di sisi-Nya ilmu (tentang) kiamat, dan Dia menurunkan hujan dan mengetahui apa-apa dalam rahim. Dan tiada seorang mengetahui apa yang akan dikerjakan besok dan tiada seorang pun mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (Q.S. Luqman 31: 34). “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu sedang kamu tidak mengetahui sesuatu dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati supaya kamu bersyukur.” (Q.S. An-Nahl : 78).

Allah mengajak manusia mengamati makhluk-makhluk kecil seperti nyamuk, lalat, laba-laba, lebah, juga semut. Hanya Allah swt. yang mampu menciptakannya, “Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpaman berupa nyamuk atau sesuatu yang lebih rendah daripadanya…” (Q.S. Al Baqarah 2: 26).

Apa yang ada di sisi manusia fana, uzur, “Apa-apa yang ada pada kamu akan lenyap dan apa yang di sisi Allah adalah kekal.” (Q.S. An-Nahl 16: 96). “Dan Allah menciptakan kamu dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang terlemah (usia lanjut) agar dia tidak mengetahui sesuatu yang pernah diketahuinya.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Q.S. An-Nahl 16: 70).

Semua manusia sama-sama mendapat rezeki dari Allah. Ada yang melimpah, sedang-sedang saja, atau sedikit. Kualitas jumlah volume rezeki belum tentu sebagai ukuran dia dilebihkan Allah swt., sebab yang terpenting dalam setiap rezeki manusia, sedikit atau banyaknya, ia salurkan lagi kepada orang yang dalam tanggungan nafkahnya dan shadaqahnya. Allah swt. lah yang memberi rezeki kepada hamba-hambanya melalui berbagai macam saluran.

 “Dan Allah melebihkan sebahagian kamu atas sebagian yang lain pada rezeki.  Maka bukanlah orang-orang yang dilebihkan itu yang memberikan rezeki mereka kepada hamba-hambanya, maka mereka di dalam rezeki itu sama. Apakah mereka ingkar akan nikmat Allah?” (Q.S. An-Nahl 16: 71).

Allah swt. sendirian menolong, membela, mengadzab dengan full power  makhluknya, “Dan jika Allah menimpakan suatu kemadharatan kepada engkau, maka tidak seorang pun yang mampu melepaskannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al An’Aam 6: 17-18).

Dunia tempat beramal saleh bagi orang yang beriman, sekaligus dunia dapat juga memperdayakan bagi orang fasiq, munafiq, kafir. Sedangkan di akhirat tempat dihisab (dihitung, diperiksa amal, dibalasi amal, digenapkan balasan pahala atau siksa),

“Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati dan sesungguhnya akan dipenuhi pahala kamu di hari kiamat. Maka barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah menang. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”  (Q.S. Ali Imran 3:185).

Semoga kita menjadi hamba yang dijauhkan dari sifat sombong dan selalu berzikir memuji-Nya, menyadari bahwa kita makhluk yang kecil di hadapan-Nya,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang adalah tanda-tanda bagi orang-orang yang mempunyai pikiran, yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) ‘Ya Tuhan Kami, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau maka hindarkanlah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran 3: 191). Wallahu A’lam [ ]

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga , pegiat dakwah dan penulis buku.

Editor: Iman

 

(Visited 23 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment