Diperlukan Komitmen Bersama untuk Menyembuhkan Luka Perselingkuhan

 

 

Oleh :  Alva Handayani*

 

Salah satu alasan menikah adalah adanya kesamaan, baik pola pikir ataupun visi tentang sebuah rumah tangga. Kesamaan tersebut pulalah yang membuat kebersamaan di antara keduanya terjalin erat. Ketika kemudian masing-masing memiliki kesibukan di tempat kerja misalnya, frekuensi kebersamaan kian berkurang. Satu-satunya peluang mereka menghabiskan waktu bersama adalah di dalam rumah. Godaan pun datang ketika kesamaan yang dulu diperoleh di dalam rumah (dari pasangan) kini ditemukan pula dari rekan-rekan kerja atau teman-teman sepermainan. Di sinilah peluang selingkuh dengan rekan kerja atau teman sepermainan terbuka lebar.

iklan donasi pustaka2

Selingkuh adalah ketika seseorang sudah berpaling dari pasangannya. Kecenderungan terjadinya perselingkuhan adalah ketika orang membanding-bandingkan pasangan dengan orang lain yang notabene memiliki banyak kelebihan. Kelebihan ini misalnya dari segi penampilan yang lebih oke atau brain (otak) yang lebih berisi sehingga memunculkan daya tarik yang lebih kuat.

Pada tahap awal, pelaku selingkuh akan merasa deg-deg-an. Ini karena hati nuraninya yang berusaha menghalangi perbuatan salahnya. Namun demikian, ada orang yang memilih mengabaikan bisikan nurani dan melanjutkan perbuatannya, dan ada pula yang mendengarkan dan membatalkan niatnya.

Tidak cukup hanya dengan hati nurani, keluarga berperan besar dalam menciptakan benteng penghalang perselingkuhan. Kebahagiaan dan kehangatan keluarga sedikit banyak dapat meredam keinginan berselingkuh ini. Penghalang lain adalah lingkungan yang mendukung orang untuk tidak melakukan perselingkuhan. Ketika lingkungan sekitar selalu mengingatkan, besar kemungkinan perselingkuhan tidak akan terjadi. Akan tetapi, ketika kita berada pada lingkungan yang menjadikan selingkuh sebagai tren, cepat atau lambat kita akan terpengaruh. Ketika teman-teman kerja misalnya, melakukan perselingkuhan maka itu menjadi sebuah pembenaran untuk ikut melakukannya.

Namun, tidak selamanya perselingkuhan diakibatkan karena pasangan memiliki kekurangan. Ada orang yang berselingkuh hanya untuk mendapatkan kesenangan, excited, deg-degan, dan pujian dari teman-temannya. Ketika istri di rumah terlalu sempurna, suami malah tertantang untuk menaklukkan perempuan lain, walaupun  dengan standar kualitas yang lebih rendah.

Kalau ditanya mengenai maraknya kaum wanita yang mengajukan perceraian setelah mengetahui suaminya berselingkuh, ini karena wanita zaman sekarang lebih mandiri. Mereka lebih berani mengungkapkan pendapat. Hal ini tidak lepas dari lingkungan keluarga yang sudah tidak terlalu tradisional lagi. Selain itu, faktor intelektualitas wanita yang sudah mampu menalar berbagai permasalahan dengan rasio juga turut menjadi alasan mereka lebih mampu berdikari.

Ketika kita memilih mengambil jalan rujuk setelah pasangan kedapatan berselingkuh, hal pertama yang harus dilakukan untuk menjaga keutuhan rumah tangga adalah memaafkan kesalahan pasangan. Namun demikian, pihak yang melakukan selingkuh harus mampu meyakinkan bahwa dia bisa berubah. Dalam hal ini, diperlukan penengah untuk memegang komitmen tersebut. Ya, diperlukan komitmen banyak pihak untuk membuat proses pemulihan luka perselingkuhan ini berhasil. Marilah senantiasa berdoa semoga Allah menghimpun kita dan pasangan kita dalam keluarga yang sakinah,mawadah dan penuh rahmah dan kita terhindar dari penyakit sosial ini. [ ]

 

*Penulis adalah psikolog,konsultan keluarga dan penulis buku.

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email redaksi@mapionline.com.  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

Promo-Kalender

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Visited 40 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment