Agar Terhindar dari Musibah

Bencana alam merupakan fenomena alam yang terjadi karena adanya aktivitas fisik dari berbagai benda-benda di alam. Lalu, bagaimana mungkin terjadinya bencana alam dikaitkan dengan moralitas, kemaksiatan, kesyirikan, hal-hal yang bukan aktivitas fisik, bahkan abstrak? Bagi sebagian orang, ini adalah hal yang mudah. Namun, bagi sebagian lagi, ini menjadi hal yang sulit dicerna akal.

Mungkinkah bencana dahsyat yang datang silih berganti ke negeri bergelar Zamrud Khatulistiwa dalam beberapa tahun terakhir ini adalah isyarat untuk para elit negara? Semua itu pertanda alam yang memperingatkan para elit negara dan para elit ekonomi-politik. Isyarat alam yang terus meluncurkan bencana itu amat nyata sekali. Belum lagi bencana kecil lain yang tidak terhitung jumlahnya disebabkan oleh alam. Juga bencana yang disebabkan oleh manusia, seperti penebangan hutan secara liar, teror bom, maksiat yang merajalela, juga bencana jual beli hukum serta bencana korupsi yang semakin menambah parah kondisi negeri ini. Allah Swt. berfirman

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar” (Q.S. Ar-ruum (30): 41).

Dalam ayat ini, Allah ingin menyadarkan manusia bahwa kerusakan yang terjadi, baik di daratan atau di lautan yang dampak negatifnya dirasakan oleh manusia, disebabkan oleh ulah dan tingkah manusia sendiri yang tidak mengindahkan jalan yang benar (aturan-aturan) Allah Swt. yang telah memberi mandat khilafah kepada kita di muka bumi ini.

Paling tidak ada dua dampak serius ketika pengelolaan bumi sudah tidak lagi mengindahkan aturan pakai yang telah ditetapkan oleh Penciptanya. Pertama, kerancuan dan kekacauan yang berdampak pada kerusakan di sana-sini. Kedua, murka dan amarah Allah sebagai Pencipta sekaligus Pemberi amanah yang telah dikhianati oleh manusia (khalifah-Nya). Dan, manusialah yang paling merasakan kedua dampak tersebut.

Hanya dengan kembali dan berpegang teguh kepada Al-Islam secara utuh dan menyeluruh, segala permasalahan hidup dan kehidupan akan mendapatkan bimbingan dan solusinya. Sebaliknya, berpaling dari aturan Allah (Al-Islam) hanya akan menambah kesempitan dan kesulitan dalam hidup. Allah berfirman

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (Q.S. Thaahaa [20]: 124).

Bagi yang mengerti ilmu hikmah, sebenarnya ini suatu pertanda bahwa negeri ini sebenarnya banyak masalah, mulai dari masalah korupsi-kolusi sampai perusakan lingkungan dan pembalakan liar yang harus segera dituntaskan. Bencana juga dilihat sebagai banyaknya dosa dari bangsa kita, terutama dari para elit negara dan penguasa. Karena itu, semua elit dan penguasa serta rakyat harus instrospeksi diri dan saling mengingatkan agar bencana alam mereda dan tidak jadi ancaman keseharian bagi bangsa Indonesia. Dan, salah satu bentuk rahmat Al-Quran kepada orang-orang yang beriman adalah berupa nasihat-nasihat atau tips-tips agar terhindar dari musibah dan azab Allah. Sebagian dari tips-tips itu adalah:

  1. Bertaqwa kepada Allah Swt.

Allah Swt. berfirman “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat- ayat Kami itu, maka Kami akan siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 96).

Pada penggalan pertama ayat ini jelas sekali Allah berjanji akan melimpahkan keberkahan kepada penduduk negeri yang mau beriman dan bertakwa. Tentunya iman dan takwa yang dikehendaki oleh Allah adalah iman dan takwa yang sungguh-sungguh, serius, dan terus menerus sampai mati, sebagaimana firman-Nya. Dan, pada penggalan kedua ayat di atas, Allah mengancam orang-orang yang mendustakan ayat-ayat (aturan-aturan)-Nya dengan siksa. Dari ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa menjalani dan menata kehidupan atas dasar keimanan dan ketundukan kepada syariat Allah akan mendatangkan keberkahan-keberkahan dari Allah, baik keberkahan dalam bentuk kemakmuran, keamanan, maupun kedamaian bagi setiap penduduk negeri. Akan tetapi, jika penduduk negeri itu didominasi oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan mengabaikan, bahkan mendustai aturan-aturan-Nya, maka Allah pasti akan mendatangkan murka dan siksa-Nya, baik dalam bentuk bencana, musibah, atau yang lainnya.

  1. Menyukuri nikmat yang diberikan Allah Swt.
BACA JUGA  Hukum Waris untuk Anak dan Istri Kedua

Allah Swt. berfirman “Mengapa Allah menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui” (Q.S. An-Nisaa` [4]: 147).

Dari ayat di atas bisa dipahami bahwa bersyukur kepada Allah dengan sebenar-benarnya kesyukuran, baik itu hati, lisan, ataupun perbuatan, akan melahirkan dua dampak positif sekaligus, yang pertama, nikmat akan semakin bertambah; kedua, akan terjauh dari azab dan murka Allah.

Hanya ada dua pilihan. Jika menginginkan bertambahnya nikmat dan terjauh dari azab dan murka Allah, maka kita harus bisa menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Dan, Allah berjanji akan memasukkan orang-orang yang senantiasa mengingat nikmat-nikmat-Nya ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Sebaliknya, jika kita ‘menginginkan’ siksa dan murka Allah, maka tinggalkan atau abaikanlah perintah syukur, ingkarilah nikmat-nikmat Allah, dan gunakanlah nikmat-nikmat itu sekehendak nafsu dan syahwat. Niscaya Allah akan mengangkat nikmat-nikmat itu dan menggantinya dengan azab dan murka-Nya.

  1. Selalu beristighfar

Allah Swt. berfirman, “Dan Allah sekali-sekali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah pula Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristighfar (meminta ampun)” (Q.S. Al-Anfaal [8]: 33).

Ayat ini mengisyaratkan tentang dua hal yang bisa ‘menangkal’ azab Allah Swt. Pertama, keberadaan Rasulullah Saw; kedua, beristighfar atau minta ampun. Keberadaan Rasulullah Saw. telah berlalu masanya. Sementara, yang bisa dilakukan oleh mereka yang hidup pada masa pasca-kenabian agar terjauh dari azab Allah adalah melestarikan sunnah-sunnah beliau, yang salah satunya adalah senantiasa melakukan istighfar atau bertaubat kepada Allah. Istighfar adalah salah satu jalan untuk kembali kepada Allah. Dengan istighfar, kita akan mendapatkan keuntungan ganda, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, Allah akan menjauhkan kita dari azab-Nya, memudahkan urusan kita, dan melapangkan rezeki kita. Sementara di akhirat, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita dan memasukkan kita dalam naungan rahmat-Nya.

  1. Berusaha berbuat baik

Allah Swt. berfirman, “Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dzalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Hud [11]: 117).

Ayat ini menegaskan bahwa Allah Swt. sama sekali tidak akan membinasakan suatu negeri, sementara nilai-nilai kebaikan masih eksis dan dominan di dalam negeri tersebut. Eksisnya nilai-nilai kebaikan sangat ditentukan oleh sejauh mana usaha yang dilakukan oleh penduduk negeri dalam beramal shaleh, baik dalam dimensi fisik, ruhani, maupun intelektual. Jika amal shaleh (perbuatan baik) telah benar-benar menjadi kebiasaan dan mendominasi seluruh sisi kehidupan kita, Allah pasti akan memberikan kepada kita kehidupan yang baik dan balasan pahala berlipat ganda di sisi-Nya.  Begitu juga sebaliknya, segala bentuk perusakan dan eksploitasi alam yang tidak mengindahkan nilai-nilai keimanan dan keislaman hanya akan mendatangkan azab dan murka dari Allah Swt.

  1. Tidak berbuat dzalim

Allah Swt. berfirman, “…Dan tidak pernah pula Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kedzaliman” (Q.S. Al-Qashash [28]: 59).

Tidak diragukan lagi, bahwa salah satu penyebab datangnya azab dan murka Allah adalah perbuatan dzalim yang dilakukan oleh penduduk bumi ini. Dengan demikian, ketika ingin terjauh dari siksa dan murka Allah, kita harus menjauhkan diri kita dari segala macam bentuk kedzaliman, baik kedzaliman terhadap Allah, diri sendiri, maupun kedzaliman terhadap orang lain.

Kedzaliman yang paling berbahaya dan paling besar dosanya adalah syirik (menyekutukan) Allah dalam segala bentuknya. Dengan berbuat syirik, berarti telah menyamakan kedudukan Khaliq (Pencipta) dengan makhluk-Nya. Ini adalah suatu kedzaliman yang besar dan nyata.

Selanjutnya, tingkatan kedzaliman di bawah syirik adalah maksiat dan berbagai macam dosa, baik yang kecil maupun besar, baik yang terkait hubungan dengan Allah maupun dengan sesama makhluk. Semua jenis kedzaliman ini akan menyeret manusia ke dalam kegelapan, siksa, dan kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat. Na’uzubillaahi min dzalik. [  ]

Red: Ahmad

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

iklan-aplikasi

(Visited 19 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment