Meneladani Rasul Itu Dimulai Dari Mana? Berikut Nasehat Ahli

 

Rasulullah Muhammad Saw. diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Untuk mendapatkan rahmat itu, seorang mukmin harus senantiasa meneladani Rasul. Banyak hal yang dapat diteladani dari beliau dan yang paling sederhana adalah meneladani pribadi dan akhlak Rasul. Ust. Didin Saefudin dalam kesempatan wawancara dengan MaPI bahkan berkata, “Dengan meneladani pribadi dan akhlak Rasul sehari-hari secara istiqamah, insya Allah kita tidak akan merasa berat dalam meneladani Rasul di aspek lainnya seperti ibadah dan segala aspek kehidupan lainnya sebagaimana yang diabadikan dalam Al-Quran dan hadits.” Lebih lengkapnya, berikut hasil wawancara dengan Wakil Direktur Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor yang dilaksanakan belum lama ini .

Bagaimana seharusnya kita meneladani akhlak Rasulullah Saw.?

Salah satu nikmat terbesar yang Allah Swt. berikan kepada manusia adalah diutusnya Rasulullah Saw. Mari kita perhatikan ayat berikut. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah”. (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21).

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Rasul adalah sosok pribadi yang santun dan peduli terhadap permasalahan umatnya.  Saat kita bersyahadat (memberi kesaksian) bahwa Muhammad Saw. benar-benar seorang utusan Allah dengan kalimat asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, maka di sinilah awal kita meyakini Nabi Saw. adalah Rasul terakhir.

Tidak cukup hanya bersaksi, kita juga perlu meyakini dan membenarkan segala yang datang dari beliau. Kita tidak boleh menyimpan keraguan untuk melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya, serta tidak menyembah Allah kecuali dengan cara yang disyariatkan kepadanya. Dengan meneladani sifat dan pribadi Rasulullah Saw. secara bersungguh-sungguh dan hanya karena Allah Swt., maka kita akan termasuk pada golongan hamba-Nya yang mendapat rahmat.

Mengapa kita harus meneladani akhlak Rasulullah Saw.?

Semua orang pasti akan merasakan betapa indah dan tentramnya kepribadian dan perilaku Rasul apabila orang tersebut berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meneladani segala hal tentang Rasul, kita akan dicintai Allah Swt. dan tentunya juga akan mendapat rahmat, baik di dunia maupun di akhirat.

Namun, Rasul hanyalah seorang hamba yang tidak boleh disembah. Meski ia adalah seorang Rasul yang tidak boleh didustakan, Muhammad Saw. adalah seorang hamba yang tidak mampu mendatangkan manfaat atau mudharat bagi dirinya atau pun orang lain, kecuali atas izin dan kehendak-Nya.

Allah Swt. berfirman, “Katakanlah (Muhammad): ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku….” (Q.S. Al-An’am [6]: 50)

Sifat apa saja yang perlu kita teladani dari sosok Rasulullah Saw.?

Pertamashidq yang artinya benar atau jujur dalam perkataan maupun perbuatan. Kebenaran dan kejujuran adalah pilar utama kehidupan bermasyarakat. Allah Swt. sendiri menyandingkan perintah bertakwa dengan perintah mengikuti orang-orang yang bersifat shidq. Disebutkan dalam salah satu firman-Nya,“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Q.S. At-Taubah [9]: 119)

BACA JUGA  Pemerintah Terbitkan Perppu Pembubaran Ormas

Kejujuran mengantarkan seseorang kepada kebaikan dan kebaikan mengantarkan kita pada amalan yang shaleh. Sebaliknya, dusta mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan mengantarkan kita pada kemudharatan. Orang beriman memang sudah semestinya berkata benar atau (jika tidak dapat) lebih baik diam. Begitu nasihat Rasul dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Keduaamanah atau dapat dipercaya. Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (Q.S. An-Nisa’ [4]: 58). Amanah adalah ciri utama orang beriman. Sebaliknya, dusta dan khianat adalah sifat orang munafik. Sifat amanah niscaya penting dan menjadi tuntutan utama setiap profesi.

Ketigatabligh yang artinya menyampaikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan dan tidak menyembunyikannya). Perhatikan ayat berikut. “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…” (Q.S. Al-Maidah [5]: 67)

Keempatfathanah yang tidak lain adalah cerdas, cerdik, dan pandai. Kecerdasan dan kepandaian (pencapaian derajat ilmiah) itu niscaya diperlukan, bahkan terpuji. Allah Swt. berfirman, “…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 11). Hanya saja, ilmu tersebut haruslah bermanfaat, terutama untuk membangun bangsa dan negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (aman, damai, sejahtera, adil, dan beradab).

Bagaimana seharusnya kita memulai program meneladani Rasulullah Saw. tersebut?

Sebelumnya, kita harus benar-benar paham tujuan meneladani Rasulullah Saw. Ditekankan sekali lagi bahwa tujuan pengutusan beliau adalah innama bu’itstu li utammima makarima al-akhlaq (untuk menyempurnakan akhlak yang mulia). Berikutnya adalah mendalami makna terdalam dari ajaran agama Islam, yaitu iman, Islam dan ihsan sebagaimana yang dicontohkan Nabi Saw.

Meneladani Rasul tidak cukup hanya dengan kata-kata. Meneladani Rasul harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, di mana pun kita berada dan dengan siapa pun kita berinteraksi. Allah Swt. memerintahkan kepada kita untuk mengikuti yang telah dicontohkan oleh Rasul, mulai dari kegiatan di pagi hari hingga malam hari. Mengapa? Tidak lain karena waktu adalah ibadah. Bagi seorang mukmin, tidak ada sedetik waktu pun yang tidak memiliki nilai ibadah. Tidak mudah memang untuk bisa meneladani Rasul secara utuh, tapi bukan berarti kita putus asa. Teladani Rasul mulai dari hal sederhana. Untuk menambah kecintaan dan kerinduan kepada Rasul, kita perlu membaca risalah dan kisah perjuangan dakwah beliau. Kita juga dianjurkan untuk membaca risalah keluarga dan para sahabat Rasul,

Untuk mewujudkan semua itu, kita harus memulainya dari lingkungan rumah saat berinteraksi dengan suami atau istri, anak-anak, serta famili lainnya. Ya, dari rumahlah kita berangkat menampilkan pribadi Rasul.  Mari kita bermuhasabah, apakah kita sudah benar-benar mengenal dan merasa dekat dengan Rasul dengan meneladani semua yang beliau contohkan. Apabila jawabnya belum, maka kinilah saatnya menggali semua aspek kehidupan yang pernah Rasul lakukan untuk keselamatan umat-Nya. Sungguh indah dan betapa tentramnya hidup kita bila dapat senantiasa meneladani pribadi Rasul . [ ]

Rep:  Ahmad

Editor: Iman

Editor Bahasa: Desi

Ilustrasi foto: “Mohamed peace be upon him” by WeedWagon. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons.

 

Promo-Kalender

(Visited 64 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment