Waspada, Sikap Ini Bisa Menghambat Datangnya Pertolongan Allah (Bag. 2)

dosa, pilar-pilar

Oleh: Tate Qomarudin*

Dalam tulisan sebelumnya, telah kita bahas  beberapa faktor atau sikap yang dapat memperlambat datangnya pertolongan Allah, antara lain: 1. Kurang atau Tidak Adanya Keikhlasan , 2. Dha’fut-takhthith (lemah perencanaan).

Berikutnya adalah:

  1. Isti’jal

Isiti’jal adalah terburu nafsu atau tidak sabar dalam meraih hasil perjuangan. Ini merupakan salah satu penyakit buruk para pejuang kebenaran. Rasulullah Saw. telah memberi pelajaran kepada kita tentang itu. Khabbab Bin Al-Arat mengatakan, “Kami mengadu kepada Rasulullah Saw. sementara beliau saat itu sedang (duduk) beralaskan selendang di bawah baying-bayang Ka’bah. Kami katakan kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, tidakkah engkau meminta tolong kepada Allah untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk   (kemenangan) kami?’ Rasulullah Saw. menjawab,

“Telah terjadi pada orang-orang (beriman) sebelum kalian, seseorang disiksa dengan cara ditanam di dalam tanah lalu digergaji dari kepalanya hingga terbelah dua dan disisir dengan sisir besi hingga terkelupaslah daging dari tulangnya.  Namun hal itu tidaklah menghalangi mereka dari agamanya. Demi Allah,  Dia akan menyempurnakan urusan ini hingga pengendara berjalan dari Shan’a ke Hadramaut dalam keadaan tidak takut selain oleh Allah dan selain takut serigala memangsa kambing-kambingnya. Akan  tetapi  kalian  suka terburu-buru’.” (H.R. Bukhari)

  1. Mengabaikan Patokan Syari’ah

Kemenangan dan pertolongan  Allah boleh jadi tertahan manakala para pejuang dakwah mengabaikan dhawabith syar’iyyah (patokan-patokansyar’i). Allah Swt. menegaskan,

“Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Anfaal [8]:46)

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq (semoga Allah meridoinya) menasihati pasukan yang diberangkatkannya seraya berkata, “Aku berpesan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, berperanglah di jalan Allah, perangilah orang yang kufur kepada agama Allah karena sesungguhnya Allah pasti membela agama-Nya. Janganlah berlaku curang, jangan berkhianat, jangan menjadi penakut, jangan merusak di muka bumi, janganlah kalian membantah apa yang diperintahkan kepada kalian.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menyurati Khalid Bin Walid yang isinya antara lain: “Segala puji bagi Allah Yang telah menunaikan janji-Nya, menolong hamba-Nya, memuliakan wali-Nya, menghinakan musuh-Nya, mengalahkan kelompok-kelompok (kafir) sendirian. Sesungguhnya Allah Yang tiada tuhan selain Dia berfirman, (beliaukemudianmembacakanayatke-55 surat An-Nur). Itu adalah janji Allah yang tidak akan diingkari, dan perkataan yang tidak mengandung keraguan. Dan Dia telah mewajibkan jihad kepada orang-orang beriman dengan firman-Nya (serayamembacaayat ke-216 surat Al-Baqarah).Maka sempurnakanlah dirimu untuk mendapatkan janji Allah itu. Taatilah segala yang diwajibkan kepada kalian, meskipun beban demikian besar, musibah  merajalela, jarak begitu jauh, dan kalian merasakan penderitaan dalam harta dan jiwa. Karena sesungguhnya itu semua adalah kecil dibandingkan dengan keagungan pahala Allah. Maka berperanglah kalian (semoga Allah merahmati kalian) di jalan Allah baik dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwa kalian.” (Hayatush-Shahabah, Yusuf Kandahlawi,Juz III hal. 676)

5. Tanazu’

Tanazu’ (pertikaian) adalah penyakit yang melumpuhkan tubuh umat Islam. Tidaklah salah pepatah yang mengatakan,bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Bukankah Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling meninggalkan, danj adilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal bagi kalian meninggalkan (bertengkar dengan) saudaranya lebih dari tiga malam.” (H.R. Bukhari)

Karenanya, Rasulullah Saw. selalu sigap mengantisipasi dan menyelesaikan bibit-bibit pertikaian di kalangan kaum muslim. Pernah suatu kali Abu Dzar Al-Ghifari, keseleo lidah dengan mengatakan kepada Bilal, “Wahai anak perempuan hitam!” Rasulullah Saw. tidak tinggal diam. Beliau mengingatkan Abu Dzar seraya mengatakan, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang mempunyai sifat-sifat jahiliyyah.”

Bila demikian, maka jadilah kita seperti yang disebutkan dalam hadits di atas, yakni orang-orang yang menegakkan kebenaran dengan konsisten dan berperilaku sebagai orang yang layak menerima pertolongan dan dukungan Allah Swt.Insya Allah. Wallahu’alam [ ]

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku

Editor: Iman

(Visited 76 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment