Ini Alasan Kenapa Islam Anjurkan Kita Berjalan Kaki

Oleh : Ir. H. Bambang Pranggono MBA

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Q.S. Al-Furqaan [25]: 63)

Biasanya, ayat di atas dijadikan pedoman akhlak mulia dalam Islam. Namun demikian, penulis berkeyakinan bahwa mungkin saja ada hikmah lain tentang perbuatan berjalan yang disebutkan dalam ayat di atas.

promooktober

Ketika seorang sahabat ingin pindah rumah ke lokasi yang lebih dekat dengan masjid, Rasulullah Saw. melarangnya dan bersabda, “Tetaplah di tempatmu sebab setiap langkahmu berjalan ke masjid berpahala.”

Lalu, dalam kitab at-Targhib wat Tarhib disebutkan bahwa orang yang menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki, setiap langkahnya menambah pahala, menghapus dosa, dan menaikkan derajat. Tawaf dan sa’i juga dilakukan dengan berjalan, bahkan berlari-lari kecil.

Dikaitkannya berjalan kaki dengan ibadah dan pahala menimbulkan tanda tanya, ada apa dengan berjalan? Barangkali sebagian jawabnya ada di buku Spontaneus Healing karya Andrew Weil, seorang dokter di Arizona, USA. Disebutkan bahwa manusia memang diciptakan untuk berjalan kaki. Manusia merupakan makhluk dua tungkai dengan tubuh tegak vertikal yang didesain untuk bergerak (berjalan, red).

Sebenarnya, berjalan merupakan perilaku kompleks dan tidak sesederhana kelihatannya. Aktivitas berjalan membutuhkan integrasi fungsional di antara banyak sekali sensori dan motorik. Berjalan juga melatih otak dan sekaligus sistem otot dan tulang. Keseimbangan badan adalah salah satu komponen penting dalam berjalan. Untuk menjaga keseimbangan waktu badan berubah posisi dan bergerak di atas permukaan yang tidak rata (sekaligus terkena gaya gravitasi), otak memerlukan banyak sekali informasi. Ini dilakukan oleh suatu mekanisme yang terletak di sebelah dalam telinga yang bisa merasakan orientasi ruang tiga dimensi.

Tanpa alat rumit ini, manusia tidak bisa seimbang. Tapi itu saja belum cukup. Otak masih memerlukan masukan informasi visual dari mata dan informasi dari sensor peraba yang memberitahu bagian tubuh mana yang menapak di bumi. Dibutuhkan juga informasi dari proprioceptor (dalam otot-otat dan persendian) tentang posisi tepat masing-masing benda dalam ruang.

Gangguan pada salah satu saluran informasi ini mengakibatkan tubuh goyah dan terjatuh. Di otak, seluruh informasi tadi diolah di cerebellum yang mengkoordinir respon otot-otot pada setiap perubahan yang diperlukan untuk bergerak. Waktu berjalan, terjadi pola gerakan menyilang, kaki kanan dan lengan kiri maju serempak yang kemudian bergantian disusul oleh kaki kiri dan lengan kanan. Gerakan ayunan ini memicu aktivitas listrik di otak yang berefek mengharmoniskan seluruh sistem syaraf pusat. Pada bayi, gerakan merangkak dengan pola menyilang itulah yang merangsang perkembangan otaknya.

Sebuah sumber menyatakan bahwa berjalan kaki ke masjid di alam terbuka dapat menyehatkan pernafasan, memperkuat jantung, mensyukuri nikmat (pemandangan alam), dan mempererat silaturahmi dengan manusia yang ditemui sepanjang perjalanan. Subhanallah, betapa besar manfaat tersembunyi pada anjuran berjalan dalam Islam. Karenanya, mari berjalan!

Ilustrasi Foto : “Family in Street – Shush – Southwestern Iran (7423708642)” by Adam Jones from Kelowna, BC, Canada – Family in Street – Shush – Southwestern IranUploaded by mrjohncummings. Licensed under CC BY-SA 2.0 via Wikimedia Commons.

(Visited 50 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment