Anda Yakin Bahagia ? Cek Indikasinya

Mengukur kebahagian seseorang di zaman sekarang memang gampang-gampang susah. Bisa gampang jika hanya dilihat atau diukur dari sisi materi (yang terlihat) semata. Bagaimana pekerjaannya,bagaimana penghasilannya,bagaimana rumahnya,bagaimana kendaraannya hingga bagaimana keadaan keluarganya. Ukuran yang bersifat materialistik ini biasanya lazim digunakan untuk menilai apakah seseorang itu sedang bahagia atau sebaliknya tengah mengalami kesesangraan dalam hidup. Sementara susahnya mengukur kebahagiaan seseorang karena berhubungan sesuatu yang abstrak dan bahagia itu masalah hati sehingga sulit untuk diukur hanya dengan kasat mata.

Namun sebagai seorang muslim tentu kita mempunyai standar atau ukuran yang jelas dalam menilai segala sesuatunya termasuk masalah kebahagian tersebut. Ukuran atau pedoman itu tentu harus berdasar pada Al-Quran dan Hadis. Sebagian ulama berpendapat bahwa kebahagian itu manakala selalu dalam karunia dan ridho Allah Swt, hidupnya selalu diisi dengan ibadah dan hanya berharap kepada Allah semata masalah penilaian itu datang.  Mungkin ini masih terlalu umum,namun jika kita memakai ukuran para sahabat setidaknya bisa mengacu pada Ibnu Abbas seorang sahabat Rasulullah Saw. Dalam sebuah kesempatan ia pernah ditanya tentang kebahagiaan, beliau menjawab ada tujuh tanda kebahagiaan hidup seseorang di dunia,antara lain:

donasi perpustakaan masjid
  1. Qalbun syakura (hati yang selalu bersyukur).

Bersyukur kepada Allah bukan sekedar terlontar lewat ucapan saja melainkan antara lisan dan perbuatan juga harus mencerminkan ungkapanda syukur tersebut. Bersyukur kepada Allah itu menerima apa yang kita dapatkan untuk digunakan demi kebaikan. Orang yang pandai bersyukur maka ia akan cerdas memahami kasih sayang Allah, apapun yang diberikan-Nya selalu bernilai dan membuat dekat kepada-Nya.

  1. Al-Azwaj Al-shalihah (pasangan hidup yang saleh salehah).

Salah satu anugerah yang didapat manusia adalah Allah Swt mencipatkan pasangan hidup (suami istri) untuk mendapat ketentraman dan melanjutkan keturunan. Faktor keharmonisan rumah tangga itu salah satunya tercipta dari pasangan yang saleh dan salehah karena dari pasangan ini akan terbangun suasana rumah sakinah,mawadah dan penuh rahmah. Dari keluarga yang demikian ini diharapkan lahir keturunan yang saleh dan salehah juga.

  1. Al-aulad Al-abrar (anak-anak yang saleh salehah).

Kelengkapan kebahagian rumah tangga salah satunya hadirnya anak dalam keluarga. Namun anak yang saleh dan salehah jauh dari sekedar pelengkap kebahagian. Anak selah akan senantiasa berbakti dan mendoakan kedua orangtuanya. Rasulullah ketika selesai melakukan tawaf bertemu dengan seorang pemuda yang lecet dipundaknya. Kemudian beliau bertanya wahai pemuda kenapa pundakmu itu?. Pemuda tersebut menjawab, aku mempunyai ibu yang sudah tua, ibuku itu tidak mau jauh dariku, aku sangat menyayanginya. aku selalu melayani dan menggendongnya ketika aku selesai salat dan istirahat.

Kemudian pemuda itu bertanya apakah dia termasuk orang yang bakti kepada orangtua. Kemudian Rasulullah menjawab, engkau termasuk anak yang saleh dan berbakti, akan tetapi kebaikan yang kamu lakukan tidak sepadan dengan cinta orangtuamu kepadamu. Cinta orangtuamu tidak terbalaskan hanya dengan itu.

  1. Al-bi‘ah Al-shalihah (lingkungan yang baik dan kondusif untuk keimanan)

Tinggal di sebuah lingkungan yang indah,asri,tenang dan sesuai impian adalah dambaan setiap orang. Namun lingkungan yang mampu menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah jauh dari sekedar   mengingatkan dan mendorong kepada kebaikan. Mengenal siapapun untuk dijadikan teman tidaklah dilarang, namun untuk menjadikan sebagai sahabat karib haruslah orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan.

Rasulullah menganjurkan kita untuk bergaul dengan orang saleh, yaitu orang yang mengajak kebaikan dan mengingatkan jika berbuat salah. Karena orang saleh itu memiliki pancaran cahaya yang dapat menerangi orang-orang di sekelilingnya.

  1. Al-mal Al-halal (harta atau kekayaan yang halal).

Dalam Islam tidak melarang orang menjadi kaya, namun yang terpenting adalah kualitas harta bukan kuantitas harta. Kualitas harta artinya secara syariat harta tersebut diperoleh dan dibelanjakan dengan halal. Jika kita pelajari sejarah,Rasulullah sendiri adalah pribadi yang kaya. Ini bisa dibuktikan ketika beliau menikahi Siti Khadijah,beliau memberikan mahar sebanyak 25 ekor unta terbaik. Begitu pun dengan para sahabat seperti Abdurrahman bin Auf,Umar dan yang lainnya. Namun kekayaan tersebut tidak membelenggu mereka,melainkan diperoleh dengan halal dan dibelanjakan di jalan Allah.

Dengan memiliki harta maka seorang muslim bisa melakukan ibadah atau kebaikan dengan hartanya,seperti beribadah haji,umroh,bersedakah, berinfak,berwakaf membangun sarana social dan sebagainya. Namun kondisi sekarang sungguh memprihatinkan, lewat media kita bisa menyaksikan sebuah kenyataan dimana orang sangat berani melakukan korupsi, penipuan, penggelembungan nilai proyek, pemerasan, penyuapan, pengoplosan ,produksi barang bajakan atau palsu dan perbuatan jahat lainnya. Mereka melakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan,gaya hidup dan kesenangan duniawi lainnya. Padahal salah satu dampak harta haram adalah menjadi penyebab ditolaknya doa dan ibadah.

  1. Tafaqquh fi al-din (semangat mempelajari agama).

Menuntu ilmu khususnya ilmu-ilmu keislaman tidak selamanya harus didapat datau dipelajari lewat sekolahan atau pesantren. Menuntut ilmu dapat diwujudkan dengan mengkaji, mempelajari baik lewat buku atau pengajian. Namun yang utama juga bukan sekedar banyaknya ilmu melainkan mengamalkan ilmu-ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Semakin belajar ilmu agama maka hidup manusia akan terarah. Hanya dengan ilmu, amal manusia bernilai pahala. Semakin belajar semakin cinta agama, semakin cinta Allah dan rasul-Nya, cinta ini yang akan mententramkan hatinya.

  1. Umur yang barokah (semakin tua semakin mulia).

Ada sebagian orang yang setiap tahunnya merayakan tanggal dan bulan kelahirannya dengan pesta atau sekedar mendapat ucapan dari orang lain. Harapannya selalu panjang umur,namun dalam Islam sebenarnya panjang umur bukan menjadi alat ukur kebahagiaan seseorang. Panjang umur namun banyak maksiat juga malah akan celaka. Sebaiknya yang utamanya adalah umur atau usia bertambah semakin banyak amal kebaikan, semakin tua semakin mulia dengan amal saleh. Hidup yang digunakan untuk mempersiapkan bekal bertemu Allah, maka semakin tua dia akan semakin bahagia, bersikap optimis tidak ada ketakutan meninggalkan dunia yang fana ini Sementara hidup yang diisi hanya untuk kebahagian lahiriah semata, hari tua akan diisi dengan kekecewaan, berangan-angan bahagia sementara tubuh semakin renta dan tidak sanggup mewujudkan angan-angan tersebut.  [Ahmad,berbagai sumber]

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

Promo Kalender

 

(Visited 31 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment