Rambu-rambu Berhias dalam Islam

TANYA :

Teh Sasa, uwa saya bilang kalau anaknya akan menikah dan diminta menjadi pagar ayu. Agar seragam dengan (pagar ayu) lainnya, saya diminta untuk memakai kebaya dan sanggul. Saya bingung karena saya sudah berjilbab. Saya mau menjadi pagar ayu tapi menolak memakai sanggul. Agar saudara tersebut dapat memahami keberatan saya, tolong teteh berikan keterangan seputar haramnya memakai sanggul bagi wanita muslimah.

promooktober

JAWAB :

Menurut ajaran Islam, siapa pun boleh merias diri, malah dianjurkan agar penampilan rapih, terawat, dan bersih. Sebelum saya menjawab tentang hukum memakai sanggul, perlu diketahui rambu-rambu dalam berhias secara umum dan spesifik. Sejumlah keterangan menjelaskan hal tersebut.

– Nabi Saw. selalu merapihkan diri
Dari Aisyah ra., ia bercerita bahwa Rasulullah berhias merapihkan diri dahulu sebelum bertemu dengan orang lain. “Pernah sekelompok sahabat menunggu Rasulullah Saw., di depan pintu. Ketika beliau hendak keluar menemui mereka, beliau bercermin di air yang ada di dalam bejana di dalam rumah. Setelah beliau merapikan rambut dan jenggotnya, aku (Aisyah) berkata, ‘Engkau lakukan ini, wahai Rasulullah?’ ‘Ya, bila seseorang akan menjumpai saudaranya hendaklah ia merapikan dirinya…’ jawab Rasulullah Saw.”

– Allah Swt. menyukai yang indah
Merias diri atau merapihkan diri adalah bagian dari keindahan. Allah Swt. pun penyuka keindahan. “Karena sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan,” jawab Rasululullah Saw.

– Tidak untuk menarik perhatian lawan jenis
Menurut Bukhari, tabaruj adalah tindakan seorang wanita yang menampakkan kecantikannya kepada orang lain. Menurut Muqatil, tabaruj adalah melepas jilbab, memperlihatkan kalung dan gelang. Wajibnya menjaga aurat bagi akhwat terkandung dalam Q.S. 24:31, Q.S. 24:60 dan Q.S. 33:59 yang berbunyi, “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutup jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

– Tidak untuk ria
Maka diperlukan sikap tawazun (pertengahan/keseimbangan) dalam segala hal. Jangan sampai dalam berdandan dan merapihkan diri terbersit rasa ria, sombong, dan memamerkan kekayaan materi dalam diri kita sebab, “Celakalah hamba dinar dan dirham dan hamba sutera dan beludru. Jika ia diberi nikmat ia senang dan bila tidak diberi, ia benci.” (H.R. Bukhari)

– Berhias yang mubah (boleh)
Berhias yang boleh adalah mengenakan cat kuku (yang bahannya tidak menghalangi anggota wudhu), eye-shadow (celak), semir rambut, dan minyak wangi. Secara khusus, parfum wanita diperintahkan untuk tidak menyengat wanginya, “Sesungguhnya sebaik-baik parfum lelaki adalah yang tercium aromanya dan tidak kelihatan warnanya, dan sebaik-baik parfum wanita adalah yang tampak warnanya dan tidak tercium aromanya.” (H.R. Tirmidzi)

– Berhias yang diharamkan
Banyak wanita yang rela melakukan apa saja agar dirinya terlihat cantik dan menarik. Namun demikian, kita harus berhati-hati karena tidak semua cara berhias itu halal. Beberapa cara berhias yang diharamkan ialah mencukur alis, menyambung rambut, tato, dan merenggangkan gigi. Rasulullah Saw., bersabda, “Allah melaknat wanita yang mentato dan meminta ditato tubuhnya, dan yang mencukur alis, dan yang minta dicukur alisnya, wanita yang menjarangkan gigi untuk kecantikan, dan yang mengubah ciptaan Allah.” Seseorang yang kurang puas terhadap penampilannya lalu memakai silicon untuk membentuk hidung, memperindah dagu, memperindah buah dada, serta operasi sedot lemak perut, tangan dan paha adalah haram karena mengubah ciptaan Allah, kecuali tindakan tersebut tergolong darurat sebagai tindakan medis untuk menyelamatkan jiwa pasien.

“Dari Asma binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, dia menceritakan pernah ada seorang wanita datang kepada Rasulullah seraya bertanya: ‘Wahai Rasulullah, aku mempunyai seorang putri yang terserang penyakit, sehingga rambutnya rontok, apakah berdosa jika menyambungnya?’ Beliau menjawab: ‘Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan wanita yang meminta disambung rambutnya.” (H.R. Muttafaqun ‘Alaih). Berdasarkan keterangan tersebut, seorang akhwat (baik yang telah berjilbab atau pun yang belum berjilbab) dilarang memakai sanggul, rambut palsu (wig), atau menyambung rambut (hair extension). Perlu diingat bahwa permintaan suami (agar istrinya menyambung rambut atau semacamnya) tidak menjadi alasan dibolehkannya tindakan tersebut. Suami harus bersyukur dengan apa yang ada pada istrinya, demikian pula sebaliknya.

Berbahagialah seorang wanita bila dapat berpenampilan indah, terutama bila hatinya pun turut indah karena memiliki jiwa sabar dan mensyukuri karunia yang ada pada dirinya. Akhirul kata, marilah kita berdoa, “Allaahumma kamaa hassanta khalqii fahssin khuluqii. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pulalah akhlakku.” (H.R. Ahmad). Amin, Wallahu’alam bishawwab.

Promo Kalender

 

(Visited 42 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment