Kiat bagi Suami Istri Agar Tak Mudah Cerai

menikah

Oleh :  K.H. Didin Hafiduddin

Memiliki keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah (harmonis, bahagia, dan penuh rahmat) adalah dambaan bagi setiap pasangan suami istri. Keluarga harmonis yang penuh rahmat bukan berarti yang tidak pernah menemui konflik.

Demikian yang disampaikan K.H. Didin Hafiduddin yang ditemui di sela-sela aktivitasnya sebagai guru besar di Universtitas Ibnu Khaldun Bogor. Lebih lanjut, ia mengungkapkan rahasia keluarga ideal dalam Islam.Menurutnya, rahasia itu bergantung pada sikap dan perilaku suami dan istri dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga bukan sekadar tempat berkumpul antara suami, istri, dan anak-anaknya. Keluarga harus mampu menjadi media baru dan sarana yang efektif dalam membina diri dan menguatkan ketauhidan serta keimanan kepada Allah Swt. Suami dan istri juga harus senantiasa melaksanakan peran dan kewajibannya masing-masing sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

promooktober1

Untuk Suami :

Kewajiban suami di antaranya adalah memberi nafkah keluarga agar terpenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Selain itu, suami juga berkewajiban membantu peran istri dalam mengurus anak, menjadi pemimpin, pembimbing, serta pemelihara keluarga dengan penuh tanggung jawab demi kelangsungan dan kesejahteraan lahir batin, dunia akhirat. Seorang suami yang baik juga harus dapat menyelesaikan masalah dengan bijaksana, tidak sewenang-wenang, ataupun dengan cara kasar.

Salah satu rujukan yang perlu ditiru oleh para suami adalah Rasulullah Saw. yang senantiasa bersikap tawadhu’ (rendah hati) di hadapan istri-istrinya. Beliau tidak segan membantu istri-istrinya dalam menjalankan pekerjaan rumah tangga meskipun tengah disibukkan oleh kewajiban menyampaikan risalah Allah atau mengatur kaum muslimin. Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah Saw. dalam kesibukan membantu istrinya, jika tiba waktu shalat maka beliau pun pergi shalat.” (H.R. Bukhari)

Menurut Didin, Rasulullah senantiasa menguatkan tali kasih sayang secara bervariasi ketika bermuamalah dengan istrinya. Senantiasa berusaha menyenangkan hati istri adalah perilaku dan sikap yang dicontohkan oleh Rasul, walaupun hanya dengan perkataan. Rasul Saw. pernah bersabda, “Perkataan yang baik adalah sedekah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, komunikasi yang dijalin antara Rasul dengan istrinya berjalan dengan sangat baik. Beliau senantiasa memperhatikan dan mengetahui kapan istrinya sedang marah dan kapan istrinya sedang senang. Aisyah pernah berkata, “Rasulullah Saw. berkata kepadaku, ‘Sesungguhnya aku tahu jika engkau sedang ridha kepadaku dan jika engkau sedang marah kepadaku.’ Aku berkata, ‘Dari mana engkau tahu hal itu?’ Beliau berkata, ‘Adapun jika engkau ridha kepadaku maka engkau berkata: Demi Robb-nya Muhammad. Dan jika engkau sedang marah, maka engkau berkata: Demi Robb-nya Ibrahim!’ Aku berkata, ‘Benar, demi Allah wahai Rasulullah Saw. aku tidak menghajr (marah) kecuali hanya kepada namamu.’” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam buku tafsirnya menyatakan, “Termasuk akhlak Nabi Saw., beliau sangat baik hubungannya dengan para istrinya. Wajahnya senantiasa berseri-seri, suka bersenda gurau dan bercumbu rayu, bersikap lembut terhadap mereka dan melapangkan mereka dalam hal nafkah, serta tertawa bersama istri-istrinya. Sampai-sampai, beliau pernah mengajak Aisyah Ummul Mukminin r.a berlomba lari untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.”

Sedangkan kewajiban istri adalah mendidik dan memelihara anak dengan baik dan penuh tanggung jawab, menghormati serta mentaati suami dalam batasan wajar, menjaga kehormatan keluarga, menjaga dan mengatur pemberian suami (nafkah suami) untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, serta mengatur dan mengurusi rumah tangga keluarga demi kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga.

Untuk Istri :

Bagi para istri, Didin menyatakan bahwa mereka juga harus menjaga sikap dan perilaku kepada suaminya. Tak pantas seorang istri bersikap dan berperilaku kasar, membangkang, membantah, mengumpat, serta tinggi hati. Tak terkecuali apa pun status sosialnya, dari mana pun asal keturunannya, serta sekaya dan setinggi apa pun kedudukan sosialnya.

Istri harus senantiasa menjaga kehormatan dan harta suami. Allah Swt. berfirman, “…Wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)…” (Q.S. An-Nisaa [4]: 34)

Istri salehah yang digambarkan oleh Rasulullah Saw. kepada ‘Umar bin Khattab r.a. adalah, “… bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga harta dan keluarganya.” (H.R. Abu Dawud)
Istri wajib mentaati suaminya (selama bukan untuk bermaksiat kepada Allah Swt.) sebab pahalanya amat besar. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani meriwayatkan bahwa seorang wanita pernah datang kepada Rasulullah Saw. lalu berkata, “Aku adalah utusan para wanita kepada engkau. Jihad ini telah diwajibkan Allah kepada kaum laki-laki. Jika menang diberi pahala dan jika terbunuh mereka tetap hidup diberi rezeki oleh Robb mereka. Tetapi kami kaum wanita yang membantu mereka, pahala apa yang kami dapatkan?” Nabi Saw. menjawab, “Sampaikanlah kepada wanita yang engkau jumpai bahwa taat kepada suami dan mengakui haknya itu sama dengan jihad di jalan Allah, tetapi sedikit sekali di antara kamu yang melakukannya.”

Tuturan di atas hendak memberikan gambaran tentang indahnya rumah tangga seorang muslim yang memerhatikan akhlak mulia dalam pergaulan suami istri, sebagaimana rumah tangga Rasulullah Saw. Perhatian terhadap kemuliaan akhlak menjadi satu keharusan bagi seorang suami maupun seorang istri.

Fondasi dasar untuk melaksanakan kewajiban suami istri adalah takwa kepada Allah Swt. Semakin tebal ketakwaan, maka akan semakin tinggi pula kemampuannya merasakan kehadiran-Nya dalam rumah tangga. Untuk itu, visi utama berumah tangga adalah taat kepada Allah Swt., yakni istiqamah dalam menjalankan ibadah dan beramal saleh.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Q.S. Ar-Rum [30]: 21)

Insya Allah, berdasar landasan tersebut, segala konflik yang dapat merenggangkan ikatan suci suami istri dapat dicegah dan dihindarkan dengan segala daya dan usaha yang kuat. Demikian pungkas Didin. [Ahmad]

Ilustrasi Foto : “Pair of wedding rings” by Mauro CatebOwn work. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons.

(Visited 66 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment