Idealnya, Pola Pengasuhan Itu Berorientasi Pendidikan

Oleh: Irwan Rinaldi*

Anak-anak membutuhkan pendidikan dan pengasuhan, baik yang di rumah maupun di sekolah. Idealnya, anak-anak ini tidak hanya mendapatkan suatu yang sifatnya pendidikan, tetapi juga pengasuhan yang berorientasi pendidikan. Pendidikan dan pengasuhan tersebut harus didapatkan dari sosok ayah dan ibu sebagai orangtua. Dalam hal ini, orangtua tidak bisa menyerahkan tanggung jawab pendidikan dan pengasuhan anak kepada pembantu, babby-sitter, atau anggota keluarga lain di rumah.

promooktober

Apa yang membedakan pendidikan tok dengan pengasuhan yang berorientasi pendidikan? Ketika anak belajar matematika, dia akan diajarkan bahwa satu ditambah satu adalah dua. Titik. Dengan pola pengasuhan yang berorientasi pendidikan, konsep perhitungan tersebut dikemas dalam bentuk lain yang memiliki nilai tambah. Misalnya, orangtua dapat memberikan ilustrasi tentang tokoh A yang memiliki satu buku dan tokoh B yang juga memiliki satu buku. Ketika tokoh C (dalam hal ini dianalogikan sebagai sang anak) meminjam buku dari kedua sahabatnya (tokoh A dan tokoh B), maka tokoh C akan memperoleh dua buku. Dari sini, orangtua bisa mengajarkan konseep menghargai kepemilikan dan menghormati hak milik orang lain selain pelajaran berhitung.

Sangat disayangkan, pola pengasuhan yang berorientasi pendidikan belum banyak diterapkan di rumah maupun di sekolah di Indonesia. Saat ini, anak hanya diberi pendidikan sebatas pengajaran bidang keilmuan yang belum berorientasi pada konsep. Padahal, anak pada usia 0 -14 tahun sangat membutuhkan pengasuhan. Di negara kita, belum ada satu lembaga pun, baik pemerintah maupun swasta, yang memberikan pengarahan kepada orangtua agar memperhatikan pengasuhan yang berorientasi pada pendidikan ini.

Pengasuhan memang harus diberikan oleh ayah dan ibu dan bukan salah satunya saja yang dalam hal ini tanggung jawab tersebut biasanya diserahkan pada sosok ibu. Bagaimana pun juga, konsep parenting memang juga harus melibatkan ayah (fatherhood) selain peran ibu (motherhood). Orangtua, telah di beri amanah besar untuk memberikan pengasuhan dan pendidikan langsung kepada anak. Namun begitu, kenyataan hidup saat ini membuat hal tersebut susah terwujud.

Kebutuhan hidup yang kecenderungan semakin meningkat, mengharuskan ayah bekerja esktra sehingga berkuranglah  waktu yang tersisa untuk mengasuk anak-anaknya. Masih dengan alasan ekonomi pula ibu yang menjadi harapan dapat memberikan pengasuhan dan pendidikan kepada anak akhirnya mengambil peran mencari uang tambahan penghasulan untuk menutupi biaya hidup. Di sinilah mulai muncul malapateka bagi anak-anak. Anak-anak tidak hanya kehilangan fatherhood (sosok ayah) tapi juga motherhood (sosok ibu) dan akhirnya satu-satunya yang tersisa untuk memberikan pengasuhan adalah mbak-hood (pembantu rumah tangga) atau mbah-hood (nenek).

Dalam kacamata Islam, anak usia 0-12 atau 14 tahun tidak boleh dititipkan kepada orang lain. Semua hal yang berkaitan dengan pengasuhan dan pendidikan (yang inti) tidak boleh dimandatkan kepada orang lain. Hal ini dikarenakan anak yang masih berada dalam usia yang rentah. Dalam rentang usia tersebut, pembinaan spiritual dan emosional oleh orangtua sangat dibutuhkan oleh anak.

Bersama teman-teman di Yayasan Kita dan Buah Hati, kami pernah melakukan sebuah penelitian di 20 kota secara online.  Hasil peneltian membuktikan bahwa rata-rata anak menghabiskan delapan jam waktunya berada di sekolah. Sepulang sekolah, mereka mamiliki waktu dua jam untuk mengerjakan PR tanpa ayah dan ibu dan dua jam pula untuk melakukan sesuatu (bermain), juga tanpa ayah dan ibu. Praktis selama 12 jam mereka beraktivitas tanpa kehadiran sosok ayah dan ibu. Ketika orangtua (ayah dan ibu) sampai di rumah sepulang kerja, mereka sudah terlalu capek untuk diajak bermain atau dijadikan teman curhat berbagai permasalahan anak-anaknya. Kalau sudah begini, bagaimana mereka akan menerapkan konsep pengasuhan yang berorientasi pendidikan kepada anak-anaknya?

Demikianlah realitas pendidikan dan pengasuhan di negara kita saat ini. Sungguh sebuah kenyataan yang kalau tidak segera mendapatkan penangananan yang tepat, maka akan berakibat bencana bagi masa depan mereka. Ya, ketika anak tidak mendapatkan sosok orangtua dalam hidupnya, maka mereka akan mencari sosok lain sebagai panutan. Beruntung kalau mereka mendapatkannya pada orang atau sesuatu yang benar dan positif. Bagaimana kalau tidak? Akhirnya, marilah kita sebagai orangtua membenahu pola asuh yang selama ini kita praktikkan. Luangkan waktu yang berkualitas dengan anak-anak agar mereka merasakan kehadiran sosok orang tua dalam diri mereka.  [ ]

*Penulis adalah Konselor Anak Remaja, Pendamping, & Fathering Skill Trainer

Editor: Iman

Ilustrasi foto:  Autism” by No machine-readable author provided. Kevinfruet assumed (based on copyright claims). – No machine-readable source provided. Own work assumed (based on copyright claims).. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons.

Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

Promo Kalender

(Visited 15 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment