Awas Jerat Pornografi dari “Gadget” Anak! (Bag 2)

Pornografi merusak otak

Apapun yang namanya, kecanduan berdampak sangat fatal, begitu pula dengan pornografi. Padahal, kecanduan pornografi adalah kecanduan yang paling sulit untuk diobati, karena kecanduan ini menyerang “jantung” kemanusiaan yakni otak. Layaknya kecanduan bahan kimia, pecandu pornografi cenderung menggantikan sesuatu hal yang penting dengan seks atau bentuk lain dari pornografi. Orang yang kecanduan pornografi biasanya menggunakan media seperti majalah, video porno atau yang paling sering adalah internet.

promooktober1

Kecanduan pornografi sama saja dengan kecanduan bahan kimia yang dikategorikan sebagai penyakit otak. Selain itu, otak manusia ternyata bisa tidak berfungsi jika terlalu sering melihat sesuatu yang berbau porno. Kecanduan pornografi adalah perilaku berulang untuk melihat hal-hal yang merangsang nafsu seksual, dapat merusak kesehatan otak dan kehidupan seseorang, serta pecandu pornografi tidak sanggup menghentikannya.

Dr Donald Hilton Jr. MD ahli bedah saraf Methodist Speciality and transplant Hospital San Antonio, Amerika yang pernah datang ke Indonesia atas undangan Kementerian Kesehatan dan Yayasan Kita dan Buah Hati menyatakan bahwa kerusakan otak karena ketagihan pornografi lebih sulit disembuhkan dibandingkan kecanduan makan (kegemukan) dan obat-obatan. Donald menambahkan jika kecanduan tersebut dibiarkan maka akan terjadi penyusutan otak sehingga lama-kelamaan kerusakannya akan permanen. Pengobatan terhadap kecanduan pornografi juga lama. Membutuhkan waktu kira-kira 1,5 tahun untuk menyembuhkannya. Ia juga menjelaskan otak yang kecanduan pornografi, mekanisme kontrol menjadi kecil terhadap rangsangan seksual.

Menurut ahli bidang kecanduan pornografi, ada lima bagian otak yang mengalami kerusakan akibat pornografi, terutama pada pre frontal corteks (bagian otak yang tepat berada di belakang dahi). Sedangkan kecanduan narkoba menyebabkan kerusakan pada tiga bagian otak.

Pada dasarnya, orang yang kecanduan pornografi merasakan hal sama dengan pecandu narkoba, yaitu ingin terus memproduksi dopamin dalam otak. Tapi pecandu pornografi bisa memenuhi “kebutuhan” barunya itu dengan lebih mudah, kapan pun dan di manapun, bahkan melalui ponsel. Akhirnya, ini akan lebih sulit dideteksi dan diobati ketimbang kecanduan narkoba.

Pada pecandu pornografi, otak akan merangsang produksi dopamin dan endorfin, yaitu suatu bahan kimia otak yang membuat rasa senang dan merasa lebih baik. Dalam kondisi normal, zat-zat ini akan sangat bermanfaat untuk membuat orang sehat dan menjalankan hidup dengan lebih baik. Tapi dengan pornografi, otak akan mengalami hyper stimulating (rangsangan yang berlebihan), sehingga otak tidak bekerja dengan normal bahkan sangat ekstrem, yang kemudian bisa membuat otak mengecil dan rusak.

Bila bagian otak limbik selalu digunakan untuk pornografi pada anak dan remaja, maka bagian otak yang bertanggung jawab untuk logika akan mengalami cacat, karena otak hanya mencari kesenangan tanpa adanya konsekuensi.

Dengan rusaknya otak, maka anak dan remaja akan mudah mengalami bosan, merasa sendiri, marah, tertekan dan lelah. Selain itu, dampak yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan prestasi akademik dan kemampuan belajar, serta berkurangnya kemampuan pengambilan keputusan.

Mirisnya lagi, seperti yang disampaikan dalam hasil penelitian Elly bahwa kerusakan otak akibat kecanduan pornografi sama dengan kerusakan otak akibat kecelakaan mobil yang hebat bahkan bisa lebih parah lagi. Selain itu kerusakan otak akibat pornografi juga bisa bersifat permanen sehingga sulit untuk dikembalikan pada keadaan semula atau pun bisa namun dengan membutuhkan waktu yang lama.

Perlu diketahui juga, faktor pendorong anak kecanduan selain berasal dari lingkungan juga berasal dari nature dan nurture di keluarga. Jadi, cara orang tua dalam mendidik anak dan suasana di dalam keluarga akan sangat berpengaruh.   (Bersambung….)

Penulis : Iman

Promo Kalender

(Visited 18 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment