Pornografi Kian Dekat dengan Anak-Anak Kita

Sungguh bukan suatu prestasi yang patut dibanggakan jika menempati peringkat atas untuk hal negatif. Selain terkenal sebagai negara paling korup, Indonesia ternyata juga masuk 10 besar negara pengakses situs pornografi sejak lima tahun lalu. Sepatutnya, kita wajib beristighfar sebanyak-banyaknya atas musibah ini. Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), setiap tahun peringkat tersebut selalu mengalami kenaikan. Bahkan yang membuat miris lagi, konon saat ini Indonesia sudah menduduki peringkat pertama dalam mengakses situs negatif tersebut.

Ironisnya lagi, menurut hasil sebuah survey,  diantara para pengakses situs porno itu diantaranya adalah anak-anak di bawah umur. Lebih mencengangkan lagi, berdasarkan hasil sebuah riset, sebanyak 68 persen siswa SD sudah pernah ikut-ikutan mengakses situs porno.  Jumlah yang lebih mencengangkan lagi terjadi di jenjang siswa SMP dan SMA, yaitu 97 persen data menunjukkan siswanya dinyatakan pernah menonton atau melihat konten berbau pornografi.  Astagfirullahaladzim.

promo oktober

Efek dari pornografi di kalangan anak dan remaja ini pun kian mengkhawatirkan. Pada akhir 2013 lalu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, setidaknya ada 84 laporan pornografi dan pornoaksi masuk ke lembaganya. Dari laporan yang mereka terima, ternyata seluruhnya dilakukan oleh anak-anak dari kalangan pelajar di bawah umur. Sementara tempat kejadiannya disebutkan, sebagian besar di kota-kota besar khususnya di Jakarta. Namun jika merunut dari informasi media, tidak menutup kemungkinan tindakan asusila tersebut juga merambah hingga ke pelosok desa.

Hasil survei di atas dikuatkan dengan fakta yang menyebutkan puluhan siswa SMP di sebuah kota di Jawa Barat, telah berprofesi menjadi pekerja seks komersial (PSK). Yang lebih mencengangkan dan membuat kita miris adalah data yang dihimpun program Save The Children Jawa Barat ini menunjukkan, di antara para PSK remaja tersebut rela hanya cukup dibayar dengan pulsa telepon selular.

Masih menurut KPAI, setidaknya ada tiga faktor besar yang menyebabkan angka tersebut tinggi. Pertama, pengaruh teknologi informasi yang kuat saat ini. Perkembangan teknologi bak dua sisi mata pedang, menguntungkan tetapi juga membawa risiko. Kemajuan teknologi informasi ini menjadi salah satu pintu masuk anak-anak mengakses situs amoral tersebut.

Kedua adalah maraknya budaya pergaulan bebas di kalangan anak-anak khususnya remaja. Permasalahan ini terkait dengan kurang atau tidak adanya pengawasan terhadap anak jika sedang berkumpul dengan teman-temannya. Orang tua masih abai dengan siapa (lawan jenis) berkumpul dan sedang membahas atau membicarakan apa. Media pergaulan bebas menjadi gerbang masuk kedua dalam menyebarkan media pornografi dan seks bebas.

Sementara faktor ketiga adalah lemahnya pengawasan dari lembaga keluarga dan lembaga pendidikan. Tidak utuhnya kedua lembaga itu dalam memberi informasi tentang tubuh dan seks menjadikan anak kurang mengerti apa arti hal-hal tersebut. Anak-anak tidak mendapat pengetahuan utuh dan tepat tentang peran, fungsi dan tanggung jawab anak laki-laki dan anak perempuan setelah dewasa. Sehingga, mereka mencari tahu di luar dengan merujuk dan mendapat “bimbingan” dari media yang salah.  Itulah sebabnya mengapa anak-anak, khususnya kalangan pelajar, memiliki rasa penasaran yang tinggi tentang hal tersebut.

Di antara ketiga faktor tersebut, faktor teknologi informasi memiliki dampak paling luar biasa bagi peredaran konten pornografi. Tak dapat disangkal, perkembangan teknologi informasi membuat media semakin mudah diakses. Anak-anak ingusan kini dapat mengakses konten-konten dewasa bukan hanya melalui akses internet, melainkan lewat konten yang disusupkan sehingga mudah diakses anak-anak. Sumber konten tersebut dapat berasal dari komik, game, DVD, gambar kartun, ponsel, dan media massa baik cetak maupun elektronik hingga alat-alat komputasi berteknologi canggih (gadget/tablet).

Apalagi dengan fenomena penggunaan gadget yang terkoneksi internet di kalangan anak-anak yang makin meningkat membuat mereka semakin mudah mengakses apa yang tak boleh mereka akses. Sehingga, tak mengherankan jika ada anak-anak yang sudah kecanduan seks/pornografi sedari dini.

Di sisi lain, pengendalian oleh pihak-pihak berwenang dan aparat penegak hukum  terhadap situs-situs porno di dunia maya pun masih rendah. Kita patut mengapresiasi pemerintah yang telah mengeluarkan Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Menyusul pemberlakuan undang-undang tersebut, para penyedia, pembuat, pengedar bahkan pelaku pornografi telah dijerat dan malah sudah mendapat vonis. Namun terkadang, vonisnya masih menimbulkan kegerahan di masyarakat dimana hukumannya masih terlalu ringan, tidak setimpal dengan efek dominan yang ditimbulkan khususnya rusaknya mental dan moral generasi penerus bangsa.

Pemerintah sendiri melalui Menteri Komunikasi dan Informatika mengakui bahwa kementeriannya hingga awal 2014 ini telah memblokir lebih dari satu juta situs porno. Namun ternyata, itu belum menjadi kabar gembira. Pasalnya, pekerjaan memblokir tersebut tidak selesai-selesai karena jumlah situsnya hampir tiga miliar yang bisa berubah nama dan sebagainya. Sehingga, jika dikaitkan dengan pepatah “Hilang satu tumbuh seribu”, maka jika hanya hilang satu juta akan tumbuh berapa?

Menurut Menkominfo yang pandai berpantun ini mengaku tidak mungkin menghilangkan situs-situs porno itu. Alasannya, hingga saat ini hanya Indonesia yang melarang (pornografi). Di ASEAN saja, hanya negara kita yang memblokir situs porno. Meski terdengar kabar di negeri tirai bambu (Tiongkok) juga tengah lakukan pembersihan konten-konten porno. Hingga akhirnya Pak Menteri hanya mampu berpesan bahwa yang paling efektif adalah memblokir di dada (hati) dan kepala (pikiran) kita. Persoalannya lantas bagaimana dengan otak anak-anak tersebut yang telah rusak dan kecanduan pornografi? Mampukah mereka memblokir jika kelak sudah menjadi orang tua?

Rasanya, kita tidak bisa berharap banyak pada orang lain dalam mencegah dan melindungi anak-anak kita dari ancaman pornografi. Selain kita memohon doa kepada Allah Swt., kita harus berjuang keras menyatukan niat, tekad, semangat untuk melakukan sesuatu. Anak-anak adalah tanggung kita sebagai orang tua. Sudah saatnya kita lebih banyak mencurahkan waktu dan pikiran kita untuk melindungi mereka dari “penjajah otak” yang bernama pornografi tersebut.

Langkah yang dapat kita lakukan di antaranya adalah mengawasi anak-anak dalam mengakses informasi, termasuk penggunaan gadget canggih seperti ponsel pintar atau tablet.  Karena dengan mengawasi dan membatasi penggunaan alat-alat canggih ini berarti kita akan tetap mengawal dan membimbing mereka menuju pintu gerbang informasi. [Iman/berbagai sumber]

Editor Bahasa: Desi

Ilustrasi Foto : “TV highquality” by Aaron Escobar – http://www.flickr.com/photos/aaronescobar/2323709171/in/set-72157602046046491/. Licensed under CC BY 2.0 via Wikimedia Commons.

(Visited 39 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment