Melacak Virus Sekularisme dan Cara Menangkalnya

Oleh: Acep Hermawan*)

Gerakan renaissance pada abad ke‑16 telah mengubah potret peradaban dunia Barat, khususnya kawasan Eropa. Ilmu pengetahuan pada abad ini berkembang pesat seiring dengan menguatnya rasionalisme yang dimotori oleh para filosof sekuler. Namun, sebutan sekularisme saat itu belum banyak dikenal. Yang dikenal adalah Founding Fathers sebagai semangat herois menentang otoritas dan dogmatisme gereja.

iklan donasi pustaka2

Istilah sekularisme baru mengemuka sekitar abad ke-18 yang dibawa oleh seorang sarjana Inggris bernama George Holyoake (1817‑1906). Saat itu, dia mengajarkan tiga prinsip sekularisme, yaitu peningkatan kehidupan adalah tujuan yang bersifat material, sains adalah sesuatu yang disediakan Tuhan milik manusia, dan kebajikan saat ini adalah sesuatu yang paling baik. Namun, setelah banyak menyampaikan ceramah sekularisme yang berbau atheisme, dia akhirnya ditangkap dan dipenjara karena berseberangan dengan paham gereja.

Ide sekularisme yang ditawarkan oleh Holyoake ternyata cukup ampuh. Sebagai lambang kejayaan kaum intelektual modern Barat, sekularisme akhirnya dapat mengubur status quo agama yang sempat berkuasa pada abad pertengahan. Sejak itulah, sekularisme menjadi sebuah kekuatan ideologi yang menembus batas ruang dan waktu hingga menjadi entitas sistem pengelolaan negara, pembentukan paradigma ilmu pengetahuan, tradisi pemanfaatan teknologi, dan model perilaku.

Titik-titik Noda Sekularisme

Sekularisme sebagai paham yang memisahkan agama dari kehidupan, tak jarang mendapat kritik tajam dari kaum agamawan. Namun ironisnya, paham ini sekarang telah dibuktikan oleh sejumlah negara kampiun sekuler seperti Amerika Serikat, Prancis, Australia, dan lain-lain yang mampu membuat mayoritas rakyatnya hidup sehat, makmur, dan demokratis. Bahkan, kemakmuran yang dicapai melebihi kemakmuran negara-negara yang setengah hati atau menolak tegas sekularisme.

Melihat fenomena ini, kita tak memiliki cukup alasan untuk mengkritik negatifnya sekularisme. Namun, sesungguhnya sebuah sistem negara berfondasi sekularisme telah melahirkan banyak persoalan akut.

Sekularisme telah membuka ruang bagi kebebasan individu untuk berpikir dan berkreasi, serta membangun ilmu pengetahuan dan teknologi. Akselerasi ilmu pengetahuan dan teknologi kemudian memberikan kehidupan yang lebih baik sehingga masyarakatnya tidak peka agama. Pada saat yang sama, ketika kebebasan beragama dipegang oleh setiap pribadi, keberagamaan sering tertutupi oleh semangat sekularisme yang disahkan. Oleh karena itu, krisis nilai kehidupan menjadi fenomena yang lumrah di negara sekuler.

Ketika mayoritas rakyat di negeri sekuler memeroleh kenikmatan dunia surgawi, peran agama sebagai pembentuk karakter malah dinonaktifkan. Anak‑anak yang pergi ke sekolah, misalnya, harus melacikan moral religius mereka di rumah atau di tempat ibadah. Akibatnya, kekeringan moral beragama terjadi pada individu yang hidup dalam sistem sosial yang sekuler.

Pengakuan terhadap hak individu yang dibingkai dalam mazhab sekuler juga telah menyebabkan anâniyah personal melebihi kekuasaan Tuhan. Manusia seolah menjadi penguasa sepenuhnya atas dirinya sendiri dan merasa berhak untuk membawa nafsu serakah untuk merampas seluruh wilayah ketuhanan dan keduniawian bagi kepentingan diri sendiri.

Akibat mengisolasi agama, sekularisme tak jarang menelurkan kapitalisme. Di negara maju, kapitalisme menyebabkan tumbuh suburnya konglomerasi kelas kakap di tengah kesengsaraan rakyat banyak. Kalaupun dikatakan makmur, pada dasarnya hanya kemakmuran semu. Kesejahteraan ekonomi hanyalah nama lain dari kekuatan gross national product atau income per capita yang dianggap lebih baik ketimbang apa yang terjadi di negara lain yang miskin. Batas antara kemakmuran rakyat banyak dan kepemilikan konglomerat tetap menjadi fenomena yang sangat menonjol meski dikendalikan dengan adanya sistem perpajakan yang sangat ketat.

Saat demokrasi ditegakkan di lahan sekularisme, itu pun menjadi kurang menarik jika kapitalisme mencengkeram sistem ekonomi. Dua istilah ini kelihatannya memiliki titik api yang sama, tetapi sesungguhnya berbeda dalam praktik. Demokrasi mengusung hak‑hak sosial rakyat, sementara kapitalisme membela hak kepemilikan pribadi.

Sekularisme juga mengundang pandangan dikotomis berkepanjangan tatkala syumûliyah agama tidak dipahami dengan benar. Pemisahan ilmu dari urusan ukhrawi melalui pemikiran sekuler telah menggiring para pemikir pada area konflik integrasi ilmu. Ilmu yang turun dari langit dan yang tumbuh dari bumi dengan labelisasi yang berbeda membuat para pemikir terjebak pada struktur muka keilmuan atau lebih tertarik pada perubahan label-label keilmuan. Padahal, integrasi ilmu sesungguhnya akan memoles tatanan nilai yang kuat dan mewujudkan kebijakan publik yang berkeadilan.

Sterilkah Umat Islam dari Sekularisme?

Sampai saat ini, umat Islam masih “mencurigai” konsep sekularisme sebagai pemisah antara agama dan politik, atau lebih luas lagi, antara agama dan kehidupan publik. Namun, mengherankan memang, di tengah bangkitnya kesadaran beragama, sekularisme  justru makin luas berkembang. Adalah suatu paradoks yang mencengangkan jika di satu sisi umat Islam mengampanyekan bahwa Islam adalah solusi atas segala hal, lengkap, dan universal, tetapi di sisi lain justru mengabaikan soal-soal publik yang sangat mendesak seperti soal penanganan kota. Ini gambaran bahwa mereka justru mempraktikkan sekularisme dalam keberagamaan tanpa disadari. Tindakan ini dilakukan bukan saja oleh kalangan awam, tetapi kalangan elit Islam, lewat retorikanya dalam membenci sekularisme.

Bisa dicontohkan di sini, soal banjir, jelas terkait dengan banyak variabel, mulai soal tata kota, kebijakan kependudukan, rancangan permukiman, peruntukan lahan, hingga aspek-aspek yang menyangkut dimensi mental dan kebudayaan. Sikap-sikap mental masyarakat dalam menghadapi soal ruang, misalnya, tak kalah menentukan dalam penanganan banjir. Legislasi saja tidak cukup, sebab kota adalah permukiman berbudaya, bukan sekadar tempat tinggal untuk mencari nafkah. Bahkan, kota adalah polis yang beradab.

Selama ini, jika perdebatan menyangkut soal pornografi, perjudian, atau narkoba, para tokoh Islam begitu semangat menanggapinya, sebab dua hal itu memang jelas-jelas memiliki aturan tekstual dalam kitab suci. Tetapi begitu menyangkut masalah yang sama sekali tak disinggung kitab suci (Al-Quran atau hadits), misalnya soal rancang bangun kota yang “genah, merenah, tur tumaninah” sehingga anti-banjir, suara tokoh-tokoh Islam tampaknya tak terdengar. Dengan demikian secara tak langsung, mereka mengatakan bahwa ada wilayah yang jelas berkenaan dengan agama (baca: Islam), dan ada wilayah yang sama sekali di luar pembicaraan agama. Sikap yang kurang atau tidak menunjukkan keprihatinan mendalam terhadap soal tata-kota dengan anggapan tidak langsung berkenaan dengan Islam, jelas mengandaikan adanya wilayah agama dan non-agama. Bukankah ini sekularisme?

Suatu konsep kadang-kadang disangkal pada tataran retorika, tetapi diterima tanpa suatu keberatan dalam tataran praktik. Sumber utama masalah ini adalah lemahnya dimensi kemanusiaan dalam memahami Islam yang berkembang saat ini. Hilangnya dimensi kemanusiaan itu menimbulkan sikap yang amat mengherankan, yakni bahwa ajaran agama ditaati semata-mata kerena ia adalah perintah Tuhan. Pada akhirnya, jika suatu masalah tak punya ketentuan jelas dari Tuhan, meski menyangkut kepentingan kemanusiaan yang luas, maka umat Islam diam saja. Kalaupun ikut bicara, tidak dengan derajat semangat yang menggebu seperti dalam kasus-kasus yang jelas-jelas tersentuh kitab suci secara langsung.

Virus-virus sekularisme ternyata sangat membahayakan tatanan hidup, bahkan bisa mematikan sendi-sendi kehidupan yang hakiki. Memahami agama dengan benar akan menjadi solusi untuk membrsihkan virus-virus ini. Maka yang harus dilakukan adalah melakukan “lompatan paradigmatik” dengan memandang ajaran-ajaran agama yang berkaitan dengan wilayah sosial adalah terkait dengan pertimbangan kemanusiaan. Ajaran-ajaran itu menjadi penting bukan semata-mata karena Tuhan mengatakan demikian, tetapi karena secara kemanusiaan ajaran itu relevan.

Masyarakat yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. adalah masyarakat etis (al-mujtama’ al-akhlaaqii), dalam pengertian kesadaran nilai-nilai moral yang diajarkan Islam tertanam dengan mendalam di sanubari mereka. Masyarakat etis mengahayati agama bukan karena “paksaan hukum”, tetapi karena keinsyafan mendalam dan bersifat sukarela. Wallahu a‘lam. [ ]

 

*Penulis adalah pegiat dakwah dan dosen di STAI Al-Azhary Cianjur

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto:Norman

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 Promo Kalender

 

 

(Visited 43 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment