Jangan Ragu,Konsumsi Daging Baik Untuk Kesehatan Asal….. (Bag 1)

Oleh: Nur Fatimah, dr, SpGK, MS*

 Daging sapi dan kambing biasanya merupakan salah satu hidangan khas hari raya khususnya Idul Adha. Namun akhir-akhir ini, masyarakat banyak membatasi konsumsi daging dengan berbagai alasan kesehatan. Padahal, dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Darda dari Rasulullah Saw. disebutkan,

promooktober

Sebaik-baik makanan penduduk dunia dan surga adalah daging. Daging banyak disukai karena rasanya yang enak walaupun dengan pengolahan sederhana.”

Daging merupakan bagian penting dalam sejarah makanan manusia. Hal ini sejalan dengan perkembangan evolusi kehidupan. Manusia zaman purba merupakan pemakan daging, terbukti dengan penemuan fosilnya. Kandungan zat gizi yang terdapat dalam daging ternyata dapat memenuhi kebutuhan energi untuk aktivitas yang sesuai dengan lingkungan nomaden saat itu. Kecukupan konsumsi daging bergantung pada keberhasilan berburu hewan. Saat tidak tersedia daging, mereka mengonsumsi umbi-umbian dan buah-buahan, tetapi persentase konsumsi daging tetap tinggi, sekitar 1/3 asupan makanan, dapat dibandingkan dengan asupan makanan kita saat ini.

Adanya kemajuan peradaban saat manusia sudah mulai menetap. Mereka mulai bercocok tanam dan memiliki kemampuan mengolah makanan secara sederhana, mengawetkan makanan sesuai dengan kondisi iklim, maupun berkembangnya acara ritual dengan berbagai persembahan dan acara makan bersama. Konsumsi umbi-umbian dan padi-padian mulai meningkat, tetapi bahan makanan hewani tetap mendapat posisi penting.

Sesuai dengan keadaan lingkungannya, hewan tertentu menjadi ciri khas bahan makanan sumber hewani masyarakat tertentu, seperti ikan laut pada penduduk pantai, daging domba di lingkungan sabana, daging unta di daerah padang pasir, dan sebagainya. Selain itu, berbagai batasan agama juga menyebabkan terdapat beberapa jenis hewan tertentu yang tidak dikonsumsi. Daging sapi dan unggas yang dapat hidup di daerah tropis dan subtropis merupakan daging yang cukup banyak dikonsumsi oleh berbagai negara di dunia. Konsumsi organ dalam seperti hati dan ginjal juga dilakukan oleh berbagai masyarakat walaupun sudah ada pembatasan di beberapa negara karena lebih berisiko sebagai sumber infeksi dan kandungan lemaknya yang tinggi.

Sejalan dengan kemajuan peradaban saat ini, kita dapat dengan mudah memperoleh berbagai bahan makanan sumber hewani walaupun bukan habitat hewan tersebut. Bagaimana memilih makanan sehingga dapat memenuhi kebutuhan kesehatan, tetapi tetap aman dan terutama sesuai dengan agama? Semuanya akan dibahas dalam artikel ini.

Komposisi Daging

Daging yang dimaksud adalah semua jenis daging merah, baik sapi, kambing, maupun lembu. Komposisi dari daging sendiri bergantung pada perbandingan atara jaringan otot dan lemaknya, serta bagian tubuh mana yang dikonsumsi. Hal ini karena terdapat perbedaan kadar zat gizi pada jaringan ataupun bagian tubuh yang berbeda.

Tabel berikut menunjukkan komposisi yang terdapat dalam berbagai jenis daging dan unggas.

Komposisi zat gizi/100 g daging

Jenis daging Bagian tubuh Air(g) Protein(g) Lemak(g) Energi(kkal)
Sapi Otot 71,9 22,5 5,1 136
Lemak 35,0 18,9 53,6 558
Kambing Otot 70,6 20,2 8,3 156
Lemak 34,7 13,3 51,6 518
Lembu Otot 75,1 22,7 1,7 106
Ayam Otot 75,1 22,3 2,1 108
Lemak 42,7 9,7 48,3 474

Dilihat dari komposisi zat gizi dari paparan di atas, seorang dewasa muda dengan berat badan 60 kg membutuhkan sekitar 60g protein dan maksimal 50g lemak per 24 jam yang berasal dari semua bahan makanan dan minyak dari efek pengolahan. Maka, diperlukan pembatasan daging terutama dengan kadar lemak tinggi.

Daging dengan kadar lemak tinggi menjadi daya tarik tersendiri karena rasanya lebih enak dan harganya lebih ekonomis. Lemak dalam daging terdistribusi dalam jaringan lemak berwarna putih kekuningan yang terdapat di bawah kulit, sekitar organ dalam seperti ginjal dan usus, di antara serabut otot, dinding sel, jaringan saraf, dan bagian dari lemak darah. Kandungan vitamin dan mineral dalam lemak juga berperan dalam memenuhi kebutuhan mineral tubuh. Lemak sendiri sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus dihindari, karena menu tidak mungkin disusun tanpa kandungan lemak sama sekali.

Bila merujuk pada sabda Rasulullah Saw. dalam hadist Bukhari Muslim,  ”Sesungguhnya tubuhmu mempunya hak yang harus kamu penuhi. Di antara hak tubuh itu adalah memberinya makan jika lapar, mengistirahatkannya bila letih, melindunginya dari segala yang akan menyakitinya, menghindarinya dari penyakit, mengobatinya jika sakit, serta tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak mampu dia emban.” Inilah yang wajib dalam pandangan Islam, tidak boleh dilupakan apalagi diabaikan [ Bersambung……]

*Penulis adalah dokter dan konsultan gizi .

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

Promo Kalender

 

(Visited 9 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment