Jadi Eksportir Islami ? Mengapa Tidak,Ini Prinsipnya

Oleh: Arifin I.S.*

Di samping sebagai juru dakwah handal, Rasul kita adalah seorang pebisnis ulung. Kita tentu masih ingat dengan kisah ludes terjualnya barang dagangan Mumammad (kala itu belum diangkan menjadi Rasul) ketika melakukan ekspansi pasar ke negeri Syam. Rahasianya tentu saja kejujuran beliau sehingga mampu merebut hati customer, bukan hanya uangnya saja. Berkaca pada hal itu, sebagian umat Islam kemudian menerjemahkan secara bebas (bukan perintah syari) bahwa berbisnis (yang jujur tentu saja) adalah mata pencaharian yang direkomendasikan oleh Rasulullah Saw.

promooktober1

Berbekal tafsiran tersebut, saat ini di Indonesia sudah mulai bermunculan pebisnis muslim yang handal yang mencoba mempraktekkan rahasia bisnis Rasulullah. Tantangan muncul ketika kejujuran saja tidak cukup untuk mendongkrak penjualan. Kemasan produk, promosi, serta pangsa pasar mau tidak mau harus juga dikelola secara profesional untuk dapat bersaing dalam dunia bisnis saat ini. Mengenai pangsa pasar, sebagian pengusaha muslim yang menilai bahwa pangsa pasar dalam negri sudah terlalu penuh dengan beragam produk, mereka mulai melirik pangsa pasar luar negeri sebagai lahan pemasaran produk mereka.

Apakah kemudian permasalahan selesai? Ternyata tidak. Persoalan yang sering dialami para eksportir adalah sulitnya mendapatkan izin pengiriman barang ke luar negeri. Hal ini berkaitan dengan aturan birokrasi yang terkesan berbelit dan rumit. Selain itu, urusan bea keluar (ekspor) pun kerap menjadi kendala. Hal ini berkataian sistem pembayaran bea keluar ini diatur melalui oleh perpankan konvesional. Nah, saat ini telah hadir layanan pembiayaan ekspor dengan prinsip syariah yang diharapkan dapat menentramkan hati eksportir muslim di Indonesia.

Pembiayaan Ekspor Syariah (PEN) ini merupakan salah satu produk yang diperuntukkan bagi badan usaha maupun perorangan yang diharapkan dapat mendorong ekspor nasional. PEN sendiri dikelola oleh lembaga keuangan yang didirikan khusus, yaitu Indonesia Eximbank yang dibentuk berdasarkan UU tentang lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Secara spesifik, Indonesia Eximbank bertugas melaksanakan permbiayaan ekspor nasional, penjaminan, dan asuransi.  Indonesia Eximbank dapat memberikan pembiayaan ekspor nasional, baik secara konvensional maupun berdasarkan prinsip syariah.

Di samping itu, Indonesia Eximbank melakukan bimbingan dan jasa konsulasi kepada bank, lembaga keuangan, eksportir berskala kecil, menengah, dan koperasi. Hal ini dijelaskan dalam pasal 4, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2009, tentang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia. Bahwasannya menetapkan kebijakan dasar Pembiayaan Ekspor Nasional untuk: mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi peningkatan ekspor nasional; mempercepat peningkatan ekspor nasional; membantu peningkatan kemampuan produksi nasional yang berdaya saing tinggi dan memiliki keunggulan untuk ekspor; dan mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi untuk mengembangkan produk yang berorientasi ekspor. Sebagai pengetahuan, pembiayaan yang dilakukan di Indonesia Eximbank ini meliputi:

Pertama, prinsip murabahah, yaitu menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayar sebesar harga beli ditambah biaya-biaya yang harus dikeluarkan dan imbalan (margin). Dalam hal ini, Divisi Syariah Indonesia Eximbank membiayai nasabah yang akan membeli barang (investasi). Pembayaran nasabah eksportir kepada Bank dilakukan dengan cara cicilan.

Kedua, prinsip ijarah, yaitu transaksi sewa menyewa atas suatu barang dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau imbalan jasa. Dalam hal ini, Divisi Syariah Indonesia Eximbank sebagai pihak yang menyediakan barang untuk disewa. Nasabah eksportir bertindak sebagai pihak yang menyewa barang.

Ketiga, prinsip istishna, yaitu jual beli barang (barang modal) dalam bentuk  pemesanan pembuatan barang dengan kriteria dan persyaratan serta pembayarannya dilakukan sesuai dengan kesepakatan. Dalam hal ini, Divisi Syariah Indonesia Eximbank membiayai pembelian barang dengan pesanan yang diperlukan nasabah eksportir dari pihak ketiga (produsen/kontraktor) sebesar harga pokok ditambah imbalan (margin) yang disepakati. Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati di awal dengan pembayaran dilakukan secara bertahap sesuai kesepakatan.

Untuk mempercepat akselerasi ekspor nasional, pemerintah melakukan kegiatan promosi, pameran, serta misi dagang dam pengembangan kemitraan dengan sejumlah negara yang telah menandatangani kesepakatan ekspor impor. Selain untuk mencari pembeli asing, kegiatan tersebut juga dimaksudkan sebagai pembelajaran untuk meningkatkan daya saing terhadap produk negara pesaing.

Menurut catatan penulis setidaknya dalam lima tahun terakhir ada lima negara utama tujuan ekspor Indonesia terdiri dari Jepang (12,87 %), Amerika Serikat (10,75 %), China (9,96 %), Singapura (7,6%),  dan India 7,07%). Sisanya sebesar 51,75 % tersebar ke negara-negara lainnya. Hal ini membuktikan bahwa peluang dunia ekspor Indonesia masih dapat memberikan harapan besar.

Sekarang sudah tidak ada alasan yang menyebutkan bahwa pedangan muslim tidak mampu bersaing di pasar internasional. Ingat, kita mempunyari rahasia dagang ala Rasul, prosedur pembiayaan ekspor sesuai syariah, serta dorongan pemerintah. Jadi, ayo kita menjadi eksportir muslim yang berdaya saing tinggi! Tunggu apa lagi? [ ]

 

*Penulis adalah mantan Direktur Palaksana Senior Indonesia Eximbank

Editor: Sly

Ilustrasi foto: Norman

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

Promo Kalender

 

 

(Visited 4 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment