Awas Jerat Pornografi dari “Gadget” Anak! (Bag 1 )

Apa yang anda baca atau pahami dari tulisan yang tertera dari layar sebuah gambar ponsel di atas? Sebagian mungkin menganggap hanya tulisan iseng atau malah tidak bisa membaca alias bukan bacaan karena tidak ada artinya.

Tapi tunggu dulu dan jangan anggap itu tulisan sepele. Cobalah sedikit kreatif dengan cara dibalik untuk membacanya. Para orang tua bisa jadi kaget, marah, tidak percaya dan sebagainya. Jika kita balik layar ponsel tersebut maka akan terbaca:

promooktober1

My Luppi Tks ya udah mo nyoba . Benerkan sakitnya cuman sebentar? Besok Ku ke rumahmu kita coba lagi..Ku beliin pengamannya, mau rasa apa.

Orang tua mana yang tidak terbelalak, merah muka, marah, bingung dan mungkin tidak percaya atas bunyi pesan dalam ponsel anaknya yang baru saja terbaca. Ya ini kejadian nyata, ponsel itu milik siswi SMP yang masih berusia 15 tahun tersebut yang sudah melakukan hubungan suami istri dengan teman sekolahnya. Kasusnya sendiri sempat ditangani Elly Risman,Psi, psikolog sekaligus pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati.

Menurut Bunda Elly, demikian ia akrab disapa ini, dalam acara seminar “Tantangan Mendidik Anak di Era Digital” di Gedung Auditorium FK Unpad, beberapa waktu lalu, menyampaikan bahwa anak-anak melakukan perbuatan orang dewasa tersebut karena sudah kecanduan pornografi. Sementara menurut hasil penelitian lembaganya,salah satu pintu masuk anak mengenal pornografi adalah lewat perangkat elektronik yakni komputer, laptop, ponsel dan gadget seperti alat komunikasi lainnya yang dapat terhubung dengan internet.

“Saat ini, para orang tua terlalu memanjakan buah hatinya dengan membelikan hp dan gadget terbaru dengan tujuan untuk membahagiakannya. Agar anak tidak ketinggalan informasi, sejajar dengan temannya dan sebaginya. Padahal, si anak belum tentu bisa mengoperasikannya, belum tahu fungsinya dan orang tua kadang juga kadang belum tahu fungsi dan cara mengoperasikannya. Akhirnya si anak minta diajari oleh orang lain atau temannya, padahal justru dengan teknologi tersebut si anak bisa terjerumus lubang pornografi,” jelasnya.

Bunda Elly menambahkan, pada mulanya anak-anak mengenal pornografi lewat gambar, artikel atau cerita porno hingga film yang didapat secara tak sengaja. Hasil penelitian lembaganya menunjukan bahwa 84 persen dari 1.199 siswa SD antara kelas 4 dan 6 sudah pernah melihat film porno. Sementara media yang biasa digunakan: 21 persen dari situs internet (komputer,laptop,gadget), 15 persen dari video game, film bioskop, VCD atau DVD, 14 persen dari komik, 8 persen dari tayangan televisi dan media cetak, sementara 5 persen dari ponsel.

Hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati tersebut selaras dengan yang lain. Berdasarkan riset dari Norton Online Family tahun 2010,  sebanyak 96 persen anak-anak Indonesia pernah membuka konten negatif di internet.  Parahnya lagi, sebanyak 36 persen orang tua tidak tahu apa yang dibuka anaknya karena pengawasan yang minim. Hanya satu dari tiga orang tua tahu tentang yang dilihat anak-anak mereka ketika buka jaringan internet (online), padahal anak-anak menghabiskan 64 jam untuk online setiap bulannya.

Untuk itu, Bunda Elly mengingatkan agar para orang tua mewaspadai juga situs-situ yang akrab dikunjungi anak seperti Facebook, Twitter, Google, Youtube hingga game online. Hal ini karena situs-situs tersebut acap kali muncul konten tak senonoh meski kita tidak mencarinya.  Bahkan,beberapa film superhero buatan Amerika yang biasa ditonton anak-anak seperti Batman, Spiderman, Superman, Transformer, X-men dan sebagainya terselip adegan yang tidak pantas ditonton anak di bawah umur. Mulai dari kekerasan, adegan mesra lawan jenis hingga berciuman.

Selain itu 1 dari 3 pelaku pelecehan seksual dan pemerkosa anak disebabkan oleh seringnya mereka melihat pornografi, baik melalui film, internet, majalah, video, dan sebagainya. Semakin sering seseorang melihat pornografi, semakin rendah kepuasan yang mereka dapatkan terhadap bentuk pornografi ringan. Akibatnya mereka akan mencari lagi kepuasan yang lebih besar, dan bisa saja kepuasan tersebut berbentuk kekerasan seksual. Jika sudah demikian, maka anak tersebut sudah masuk kategori kecanduan pornografi.

Hal ini berdasarkan penelitian Mark B. Kastleman, seorang psikolog dan pegiat anti pornografi dari Amerika yang melaporkan bahwa tujuan dari pelaku industri pornografi adalah untuk menciptakan perpustaan porno dalam otak anak dan remaja. Untuk hal ini, Bunda Elly menjelaskan dengan adanya perpustakaan porno dalam diri anak dan remaja, maka yang bersangkutan akan bisa mengakses kapan dan dimana saja. Selain itu, dampak negatif lainnya dengan kecanduan dan tersimpannya perpustakaan tersebut anak-anak akan mempunyai mental model porno yakni apapun akan dikaitkan dengan pornografi versi mereka.

Selain itu Mark juga mengungkapkan, seperti yang disampaikan Bunda Elly, dampak dari kecanduan pornografi terjadinya kerusakan otak yang bisa bersifat permanen. Sementara tujuan lain dari industri pornografi menurut Mark adalah kelak anak akan menjadi pelanggan seumur hidup, meski anak tersebut sudah dewasa bahkan telah berumah tangga.

Untuk itu, dirinya meminta para orang tua untuk lebih berhati-hati sekaligus mengawasi aktivitas anak-anaknya dalam menggunakan perangkat komunikasi (komputer, laptop, ponsel, dan gadget lainnya). Selain itu, orang tua juga diminta untuk mengawai situs internet yang sering dibuka dan game yang sering dimainkan oleh anak. Karena saat ini pornografi juga sudah masuk meski hanya sebuah game untuk anak namun banyak isinya yang sangat berbahaya.

“Salah satunya game GTA (Grand Theft Auto), permainan ini banyak berkisahnya, curi mobil dari warga sipil yang lugu, tembak-tembakan gangster berbahaya dan jika berhasil hadiahnya berhubungan dengan WTS. Meski dalam bentuk animasi namun bentuk dan mimiknya sangat mirip seperti orang,seperti film. Jadi menurut saya ini game berbahaya untuk dimainkan anak-anak,belum lagi game lainnya,”ujarnya.

Bunda Elly juga mengungkapkan bahwa setidaknya ada tiga target utama industri pornografi pada anak. Pertama, sasarannya adalah anak laki-laki. Hal ini karena umumnya kaum lelaki termasuk anak-anak mudah fokus dan konsentrasi pada apa yang menjadi kegemarannya. Kedua adalah anak-anak yang belum baligh (di bawah umur). Ketiga adalah anak dalam kondisi istilahnya “BLAST” yaitu Boring (bosan), Lonely (kesepian), Afraid (pemarah,penakut), Stress (sedang stress) dan Tired (capek). Anak dalam kondisi demikian akan mencari hiburan atau suasana rilek. Sehingga dengan mudah akan menjadi sasaran pintu masuknya pornografi lewat game (permainan) dan hiburannya lainnya.  (bersambung…..)

Penulis  : Iman

(Visited 24 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment