Pemimpin Itu Mengutamakan Rakyat Ketimbang Kelompoknya

Oleh: M. Hariyadi*

Berbicara soal kepemimpinan dalam level apa pun tidak lengkap dan sempurna jika tidak mengacu pada pola dan teladan kepemimpinan Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Meski banyak pemimpin yang dianggap telah berhasil,namun kepemimpinan Rasulullah jelas tidak ada bandingnya hingga sekarang.

promooktober

Begitu pun generasi berikutnya sepeninggal Rasulullah. Pasca Rasulullah Saw wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq dipilih dan disepakati oleh kaum Muslimin melalui musyawarah untuk menjadi pemimpin menggantikan posisi Rasulullah Saw. Dapat dibayangkan kesulitan Abu Bakar ra. dalam memimpin umat yang sebelumnya kuat dilandasi oleh ikatan kekerabatan (kabilah), tidak mengenal aturan, buta huruf, pelanggaran kehormatan, dan penyerangan terhadap saudara maupun kerabat.

Dapat pula dibayangkan beratnya Abu Bakar ra. dalam mentransformasikan konsep “Jamaah Islamiyah” menjadi “Daulah Islamiyah”.Sadar bahwa suatu bangsa tidak mungkin menjadi besar kecuali telah melampaui proses ratusan tahun, satu jalan alternatif untuk mempercepat akselerasi kebesaran itu antara lain dengan menjalin kesatuan hati dan pemahaman yang sama tentang konsep kekuasaan.

Maka Abu Bakar menerapkan konsep kepemimpinan yang benar, yaitu pemimpin yang ditaati kendati terkadang terdapat perbedaan pandangan dalam melihat beberapa permasalahan.

Program pertama yang digagas Abu Bakar ra adalah memerangi orang-orang murtad (keluar dari agama Islam) pascawafatnya Rasulullah Saw. Guna menyukseskan gagasan tersebut, Abu Bakar melakukan berbagai rangkaian pendekatan dan konsultasi kepada para sahabat. Sebagian kecil sahabat setuju, sementara sebagian besarnya menentang.

Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan berbeda pendapat dengan lugas, kemudian tidak menaati Abu Bakar ra. Mereka tetap taat kepada Abu Bakar rakarena sadar, sekiranya mereka berselisih, maka Islam tidak akan berdiri tegak. Perselisihan hanya akan membawa orang-orang murtad menyerang Islam dan melumpuhkan kekuatannya. Oleh karenanya, ketaatan kepada pemimpin menjadi perkara yang wajib bagi para sahabat karena mengandung kekuatan, kebaikan, kemuliaan dan keagungan.

Dalam perjalanannya Abu Bakar menunjuk Usamah memimpin pasukan kaum Muslimin. Sebagian sahabat lagi-lagi kurang setuju dengan penunjukan tersebut. Akan tetapi, ketika Abu Bakar meyakinkan pandangannya dan bertekad melaksanakan gagasannya, semua sahabat tanpa kecuali taat dan menjalankan perintahnya.  Tidak ada seorang pun dari sahabat yang berkata bahwa pendapatnya berbeda secara diametral lalu menentang Abu Bakar. Para sahabat tetap mengambil posisi taat kepada pemimpin karena rahasia kekuatan, kebaikan, kemuliaan dan keagungan yang terkandung di dalamnya.

Maka demikianlah, dalam waktu yang relatif singkat, kaum Muslimin berhasil menjalin persatuan yang kuat, disamping kebaikan, kemuliaan dan keagungan umat Islam. Orang-orang murtad berhasil ditumpas, kendati dengan pengorbanan gugurnya puluhan syuhada dari kelompok penghafal Alquran.

Namun begitu, Umar tetap mencontoh pendahulunya untuk hidup sederhana dalam mengemban tugas negara. Karena, menurutnya, Allah SWT telah memuliakan umat ini dengan Islam, maka tidak perlu lagi mencari kemuliaan dengan yang lain (Atsar sahih riwayat Ibnu Abi Syaibah). Pada waktu menjadi khalifah (pemimpin), kendaraan dinas Umar bin Khattab hanya seekor unta. Pada waktu pendeta Kristen negeri Palestina, Safraneus, menyerahkan kunci negeri Palestina kepada pemimpin besar Negara Islam, Umar bin Khattab bergantian menunggang untanya dengan pembantunya menuju Palestina. Dan, beliau juga mengembalikan hadiah makanan lezat yang dikirim dari Afrika. Karena, menurutnya, makanan itu lebih baik dinikmati oleh rakyatnya.

Usman bin Affan juga berbuat adil dalam menerapkan hukum Islam. Bahkan, beliau dengan tegas melaksanakan hukuman cambuk atas adiknya, al-Walid bin Aqabah, yang telah melakukan pelanggaran syariat Islam. Ali bin Abi Thalib juga pemimpin bijaksana, sederhana, dan adil dalam bertindak. Di hari raya, makanan yang tersedia di rumahnya hanya makanan rakyat kecil, berupa hidangan daging rebus bercampur tepung (al-khazirah). Karena, menurut beliau, menyitir sabda Rasulullah Saw,

Seorang pemimpin itu hanya berhak menerima gaji untuk makannya dengan keluarganya, dan makannya dengan tamunya.” (HR Imam Ahmad).

Islam telah menetapkan syarat tertentu yang mesti terpenuhi pada diri seorang pemimpin, agar amanah besar itu tidak menjadi ajang perebutan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Dan sebagai pemimpin, Rasulullah Saw dan Khulafa’ al-Rasyidin, begitu juga pemimpin adil pemerintahan Umawiyyah, Umar bin Abdul Aziz, telah memberikan teladan yang baik dengan hidup sederhana, adil, dan menjunjung tinggi supremasi hukum. Di bawah kepemimpinan mereka, Negara Islam menjadi maju, besar, dan disegani. Dan, umat Islam pada masa itu juga hidup damai, aman, dan sejahtera.

Demikianlah etika mulia dari para sahabat dalam kisah kepemimpinan yang memprioritaskan kepentingan umat dibanding kepentingan diri sendiri maupun kelompok.  Memberikan nasihat kepada pemimpin adalah hak orang yang dipimpin. Namun di dalam pelaksanaan hak dan kewajiban sesungguhnya terdapat pertimbangan kepatutan, sehingga dalam menyampaikan kritik membangun diperlukan cara-cara santun dan proporsional agar tetap patut dan tidak melahirkan cibiran orang. Wallahu a’lam. [ ]

 *Penulis adalah seorang dosen,pegiat dakwah dan penulis buku

 Editor: Iman

Ilustrasi foto : “Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq” by Imam Khairul AnnasOwn work. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons.

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

Promo Kalender

(Visited 12 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment