Memahami Pasangan Untuk Menghindari KDRT

 

Oleh: Hesti Kuraesin *

 

Mempunyai pasangan hidup (suami istri) yang saling pengertian adalah salah satu kunci kebahagian rumah tangga. Lewat pintu pernikahan yang dibangun bersama dua insan berlainan jenis sepakat menjadi teman suka dan duka dalam jangka waktu yang panjang atau hingga ajal memisahkan keduanya.   Pernikahan merupakan hasil kesepakatan bersama untuk memadu cinta menjadi sebuah kenyataan yang sebelumnya hanya menjadi khayalan.

iklan donasi pustaka2

Namun harus disadari bahwa setiap orang dilahirkan dan dibesarkan dalam kondisi yang berbeda. Setiap orang memiliki kepribadian yang unik baik dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam kehidupannya. Kebiasaan – kebiasaan pada masa sebelum menikah biasanya akan terbawa dalam kehidupan awal rumah tangganya. Meski begitu pasutri harus bisa memahami minimal dua hal utama ini sebagai sebuah pribadi:

  1. Bahwa setiap orang melihat dan memahami apa yang dihadapinya, sesuai dengan dasar kemampuan yang dimiliki. Setiap orang memunyai pilihan tertentu dalam hidupnya.
  2. Setiap orang memunyai kekurangan dan kelebihan dalam dirinya. Pernikahan bukan untuk melebur keunikan yang dimiliki atau untuk mengubah pasangan sesuai dengan yang inginkan salah satu pihak. Pernikahan adalah untuk memperkaya nuansa masing-masing sehingga bisa melahirkan keturunan yang lebih baik. Perkawianan juga dapat memperluas kekerabatan dan ikatan kekeluargaan.

Dalam perjalanannya sebuah rumah tangga terkadang tidak selamanya sesuai dengan impian awal. Suatu keadaan yang manis dan membahagiaan keduanya. Onak,duri,ombak hingga badai tak jarang muncul dalam mengarungi samudra rumah tangga. Perbedaan cara pandang dalam menyelesaikan suatu masalah justru mendatangkan masalah baru. Dalam menyelesaikan sebuah masalah atau timbulnya masalah dalam keluarga terkadang disertai dengan sebuah tindakan kekerasan atau lebih popular apa yang disebut dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Mirisnya dalam beberapa kasus , tindakan KDRT ini harus diakhiri dengan perpisahan di pengadilan agama (perceraian). Sebelum kondisi buruk tersebut terjadi ada beberapa  kiat yang bisa dilakukan untuk menghindari KDRT, antara lain:

  • Sebelum menikah ada baiknya masing-masing pihak memahami jati diri calon pasangan hidupnya sehingga terbebas dari beban masa lalu. Namun yang perlu ditegaskan bahwa proses memahami ini bukan berarti saling kenal dekat atau istilahnya pacaran terlebih dahulu,karena Islam sangat jelas mengharamkan pacaran yang lebih banyak menimbulkan mudlarotnya.
  • Jangan melawan atau menjawab tindakan pasangan yang sedang marah. Saat kondisi sedang marah biasanya luapan emosi sangat labil sehingga jika ditanggapi dengan emosi maka kemarahan akan semakin menjadi. Setelah emosinya mereda, barulah bicara dengan tenang sehingga dapat menurunkan emosinya yang sedang meninggi.
  • Usahakan pasutri dapat istirahat secara cukup setiap harinya seperti tidur nyenyak sehingga terjadi relaksasi diri sendiri . Istirahat yang cukup akan memulihkan atau mengembalikan kepada keadaan yang fresh dari hal-hal yang membebani pikiran. Kondisi ini juga akan mengubah kebiasaan melihat orang lain ke arah positif termasuk kepada pasangan.
  • Jika sedang mempunyai masalah dengan pasangan maka usahakan jangan bertengkar di depan anak-anak. Selesaikan secara pribadi dengan pasangan pasangan di tempat yang aman dari jangkauan anak-anak seperti di kamar tidur atau di luar rumah. Belajarlah menyelesaikan masalah hari itu juga sehingga pasutri dapat tidur tanpa menyimpan masalah. Dengan demikian, masalah tidak terus menumpuk yang dapat menyebabkan pasangan tidak objektif lagi melihat pasangan dan ingin mengakhiri perkawinan dengan perceraian.

Rumah tangga yang harmonis bukan berarti yang terbebas dari masalah,namun bagaimana setiap ada masalah bisa dikelola dengan pasutri untuk mencari solusi secara dewasa. Jadikan setiap masalah sebagai sarana instropeksi,saling menghargai,memahami dan saling menguatkan rasa cinta untuk menuju keluarga yang sakinah,mawadah dan penuh rahmah. Tanamkan tekad bahwa berumah tangga adalah bagian dari perintah Allah Swt dan Rasul-Nya sebagai ladang ibadah untuk mencari ridho-Nya. Namun sebagai seorang muslim tentu kekuatan doa yang harus senantiasa kita panjatkan. “Ya Allah, anugerahkan kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa.” (QS.Al-Furqan: 74). Semoga bermanfaat. Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga dan guru madrasah

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

Promo Kalender

 

(Visited 16 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment