7 Kunci Menjaga Keikhlasan

muslimah

Oleh: Dadang Khaerudin*

Kata ikhlas berasal dari bahasa Arab yang bersumber pada akar kata khalasha yang artinya bersih, jernih, murni, dan tidak bercampur. Secara istilah, Rasulullah Saw. memberikan gambaran melalui sabdanya, “Berbahagialah orang-orang yang ikhlas, yaitu orang-orang yang apabila hadir, mereka tidak dikenal, dan apabila tidak ada, mereka dicari. Mereka itulah lampu-lampu hidayah. Dengan mereka, nampaklah segala fitnah orang-orang yang zalim.” (H.R. Baihaqy)

promooktober

Sayyid Sabiq mengartikan ikhlas melalui penggambaran berikut. “Seseorang berkata, beramal, dan berjihad untuk mencari ridha Allah Swt., supaya dia dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan amal dan kerendahan akhlak, serta dapat berhubungan langsung dengan Allah Swt. Tanpa mempertimbangkan harta, pangkat, status, popularitas, prestasi, ataupun prestis.”

Ikhlas karena Allah Swt. maknanya adalah seseorang beribadah semata untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Swt. dan mendapatkan keridhaan-Nya. Ikhlas merupakan pekerjaan abstrak yang tidak membutuhkan banyak energi. Namun pada kenyataannya, justru amalan seperti inilah yang banyak gagal dilakukan oleh manusia karena acapkali ketulusan dan keikhlasan tersebut bercampur baur dengan hal-hal lain yang membuatnya ternoda. Kalau sudah begini, bagaimana nasib keikhlasan tersebut?

Perhatikan rincian berikut. Pertama, jika niat ibadah bercampur dengan keinginan mendapat keuntungan lain namun tetap dalam bingkai kemashlahatan, maka niat seperti ini tidak akan mengurangi pahala keikhlasan selama yang lebih dominan adalah niat beribadah. Karenanya, kita harus hati-hati berniat karena kalau tidak, hal tersebut bisa saja mengurangi kesempurnaan pahala ibadah. Sebagai contoh adalah orang yang menunaikan ibadah haji yang memang berniat ibadah namun dalam hatinya terlintas harapan untuk dapat melihat dan mentadabburi tempat-tempat bersejarah para Nabi dan Rasul. Allah Swt. berfirman, “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 198)

Kedua, jika amal ibadah dilakukan dengan harapan dapat meraih tujuan duniawi semata (seperti kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan), bukan untuk tujuan bertaqarrub kepada Allah, maka amalan seperti ini jelas akan gugur. Mengenai hal ini, Allah Swt. berfirman, “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuai neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Hud [11]: 15-16

Ketiga, jika yang diinginkan dari amalnya adalah pujian, maka niatnya tersebut selain akan menggugurkan amal tapi juga dapat dihukumi dengan perbuatan syirik kecil atau yang lebih populer disebut riya. Sabda Rasululla Saw., “Aku adalah Dzat Yang paling tidak butuh kepada persekutuan para sekutu; barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan-Ku dengan sesuatu selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya berserta kesyirikan yang diperbuatnya.” ( H.R. Muslim )

Untuk menjaga keikhlasan hendaknya kita memperhatikan tiga unsur berikut. Pertama, khlashun niyyah yang artinya mengikhlaskan atau meluruskan niat. Niat adalah tujuan sesuatu yang disertai pelaksanaannya. Jika hanya sebatas tujuan, maka hal itu baru disebut sebagai kemauan yang kuat, belum mencakup pengertian niat secara sempurna. Rasulullah Saw. Bersabda, “Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung kepada niat. Dan sesungguhnya setiap orang memperoleh sesuatu sesuai dengan niatnya. Siapa yang hijrah pada jalan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena ingin memperoleh keduniaan atau untuk menikahi wanita, maka hijrahnya adalah ke arah yang ditujunya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kedua, itqanul ‘amal yang artinya mengerjakan amal dengan sebaik-baiknya. Keikhlasan seseorang dalam berniat salah satunya harus dibuktikan dengan amal yang sebaik-baiknya. Dengan kata lain, ia mampu membuktikan kualitas amalnya tersebut dengan memiliki etos yang tinggi dan sejalan dengan mekanisme yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala mencintai seseorang apabila beramal secara itqan.” (H.R. Baihaqy)

Ketiga, jaudatul adaa yang artinya pemanfaatan hasil usaha. Sebagai contoh, shalat yang disertai keikhlasan hendaknya mampu meminimalisir perbuatan fakhsya dan munk­ar. Orang yang ikhlas dalam mengerjakan shalat, ia tidak akan mengamalkan yang wajib tetapi mengerjakan pula yang sunah. Contoh lain adalah orang berilmu yang harus mampu memanfa’atkan ilmunya semata-mata demi  kemashlahatan ummat. Orang tersebut belum dikatakan ikhlas kalau ilmunya dipergunakan hanya sebatas mencari kehidupan duniawi semata.

Lantas, apa saja faktor pembentuk keikhlasan? Paling tidak ada tujuh hal, yaitu:

  1. Orang yang ilhlas (mukhlis) harus senantiasa mendasarkan amalnya pada pandangan dan penilaian Sang Khalik, bukan pada pandangan dan penilaian makhluk. Yakinilah bahwa pandangan dan penilaian Allah bersifat abadi dan hakiki. Allah akan membalas keikhlasan amal kita dengan pahala berlipat tanpa batas. Sementara pandangan dan penilaian manusia bersifat semu, menipu, dan sementara. Niat yang disandarkan pada penilaian makhluk hanya akan membuat rugi dan berujung pada kekecewaan.
  2. Sinkronisasi antara lahir dan batin. Artinya, apa yang nampak pada zahirnya semestinya menggambarkan isi batin sehingga keduanya berjalan seiring tanpa ada ketimpangan.
  3. Menganggap sama antara pujian dan celaan yang diberikan oleh manusia. Bagi seorang mukhlis, keduanya tidak berarti sama sekali bila dikaitkan dengan amalannya.
  4. Tidak memandang diri sebagai orang ikhlas sebab hal itu hanya akan melahirkan sikap ta’ajub kepada diri sendiri.
  5. Melupakan pahala di akhirat karena orang ikhlas tidak akan merasa aman dan puas terhadap amalnya. Ia akan terus berupaya untuk beramal sebaik mungkin.
  6. Menjauhkan diri dari sifat riya dan sum’ah.
  7. Mampu mengendalikan hawa nafsu . Wallahu’alam [ ]

 

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

Sobat PercikanIman punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di PercikanIman.id? Kirimkan tulisan anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. 

(Visited 125 times, 2 visits today)

REKOMENDASI

2 Thoughts to “7 Kunci Menjaga Keikhlasan”

  1. Ida rullijanti

    Maaf yang untuk point ketiga jaudatul adaa, tertulis orang yang ikhlas dalam mengerjakan shalat ia tidak akan mengamalkan yang wajib tetapi mengerjakan pula yang haram. Yang mau ditanyakan haram atau sunat? Saya kurang paham kenapa haram bukan sunat?

  2. Ida rullijanti

    Makasih tulisannya sudah diralat jadi sunah bukan haram ya! Jd td saya sempet baca berkali2 takut saya salah baca!

Leave a Comment