Tips Mengatasi Telapak Kaki Kasar, Kering, dan Bersisik

Oleh: dr Poppy Diah P, SpKK*

Mempunyai kulit bersih,sehat dan cantik adalah dambaan semua orang ,khususnya kaum wanita. Namun terkadang karena kesibukan baik di luar maupun mengerjakan pekerjaan rumah tangga kaum ibu khususnya kurang memperhatikan dan merawat kulitnya termasuk kulit telapak kaki. Apalagi ketika si kecil sudah lahir, maka pekerjaan rumah pun ikut bertambah. Salah satunya pekerjaan rumah yang mengharuskan seorang ibu harus bolak-balik menyentuh air, menyebabkan telapak kaki  menjadi kasar, kering dan pecah-pecah seperti sisik. Untuk mengatasi hal tersebut terkadang, sisik atau kulit yang terbuka itu digunting dengan potong kuku, tapi pertumbuhannya tidak sama dengan kulit yang lama,malah semakin lebar. Kondisi seperti ini biasanya tengah mengalami suatu penyakit peradangan pada kulit.

promooktober1

Penyakit ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor dari luar (endogen) maupun faktor dari dalam (endogen), umumnya cenderung bersifat kronik dan kambuhan. Faktor eksogen misalnya bahan kimia; contohnya deterjen, asam, basa, oli, semen, cat rambut, bahan pelurus atau pengeriting rambut; fisik misalnya sinar, suhu. Sedangkan faktor dari dalam misalnya pada orang yang mengalami peradangan karena bakat atau kecenderungan alergi yang dimilikinya. Banyak penyebab yang belum diketahui, terutama apabila penyebabnya dicurigai suatu faktor endogen.

Jenis peradangan yang akhwat alami ini termasuk yang paling sering terjadi, dikenal sebagai suatu iritasi. Penyebabnya ialah kontak berulang-ulang dengan bahan iritan lemah, dapat berupa faktor fisik misalnya: adanya gesekan, trauma ringan, kelembaban rendah,  dan suhu panas atau dingin. Selain itu timbulnya telapak kaki atau tangan yang pecah dan kasar bisa disebabkan juga bahan-bahan seperti: deterjen, sabun, tanah bahkan juga air yang tidak bersih atau penuh kuman.

Namun faktor penyebab tidak selalu hanya satu jenis, namun bisa saja merupakan gabungan beberapa faktor. Bisa saja apabila satu jenis bahan secara sendiri tidak menyebabkan suatu iritasi, namun menjadi cukup kuat setelah digabungkan dengan faktor yang lain. Kelainan kulit baru nyata setelah terjadi kontak selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sehingga riwayat waktu dan jenis kontak tersebut merupakan faktor yang penting untuk diketahui. Dalam hal ini, berdasarkan riwayat seringnya melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan air, asumsinya mencuci pakaian, maka kemungkinan penyebabnya adalah deterjen dan air, setelah adanya kontak selama berbulan-bulan. Kemungkinan lain yaitu adanya gesekan dengan sandal yang dipergunakan. Bahan sandal yang biasanya terbuat dari karet dapat pula menyebabkan iritasi apabila dipergunakan terus-menerus.

Gejala klasik dari penyakit ini, timbul di bagian kulit yang sering terpapar bahan iritan yaitu berupa:

  • kulit kering
  • warna kemerahan
  • sisik
  • lambat laun kulit mengalami penebalan
  • kelainan kulit meluas
  • dapat terjadi luka retak
  • keluhan dapat berupa rasa gatal dan nyeri (pada daerah yang retak)

Kadang-kadang, kelainan hanya berupa kulit kering atau sisik tanpa warna kemerahan, sehingga diabaikan oleh pasien. Setelah dirasakan mengganggu, baru ada perhatian untuk melakukan pengobatan.

Penyakit ini sering berhubungan dengan pekerjaan, sehingga umumnya lebih sering ditemukan di tangan apabila dibandingkan dengan bagian tubuh yang lain. Namun, apabila kaki sering terendam dengan air dan deterjen, otomatis kaki dapat pula terkena. Contoh beberapa pekerjaan yang berisiko tinggi terkena iritasi ini yaitu: ibu rumah tangga, tukang cuci, tukang bangunan, montir, juru masak, tukang kebun, penata rambut dan sebagainya.

Upaya pengobatan yang paling penting adalah menghindarai pajanan bahan iritan baik yang bersifat mekanik, fisik, maupun kimiawi, serta menyingkirkan faktor yang memperberatnya. Apabila hal ini dilaksanakan dan tidak terjadi komplikasi (misalnya infeksi bakteri akibat adanya luka retak), maka iritasi akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan.

Berikut beberapa upaya atau tips yang dapat dilakukan:

  • Hindari kondisi kaki yang terendam air terutama yang mengandung deterjen saat mencuci
  • Gunakan sandal berbahan lembut untuk mengurangi gesekan sandal pada telapak kaki
  • Hindari mengelupaskan kulit yang mengeras atau sisik yang ada, karena dapat menyebabkan luka yang bisa menimbulkan komplikasi infeksi
  • Gunakan pelembab khusus untuk telapak kaki yang akan membantu melembutkan.
  • Perhatikan pula kemungkinan penyakit dapat terjadi pada kedua tangan sehingga upaya perlindungan dan menghindarkan tangan dari penyebab iritasi harus pula dilakukan

Apabila upaya ini belum berhasil atau karena keluhan lebih berat misalnya timbul warna kemerahan, timbul rasa gatal, maka anda dapat langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit. Umumnya dokter akan memberikan obat-obat oles berupa anti peradangan dan pelembab khusus, dan dapat pula memberikan obat-obat yang diminum berupa anti gatal dan anti alergi. Obat oles anti radang hanya dipergunakan sementara, biasanya paling lama 2 minggu, sedangkan pelembab dapat dipergunakan terus menerus.

Jika telah terjadi komplikasi berupa infeksi bakteri akibat kulit yang retak-retak, maka dokter akan memberikan pula salep atau obat minum antibiotik.Apabila tindakan pencegahan dan pengobatan dilakukan dengan baik, maka insya Allah keluhan ini dapat teratasi dengan baik. Semoga bermanfaat.

* Penulis adalah dokter spesialis kulit dan kelamin ,konsultan kecantikan serta penulis buku

 Editor: Iman

Ilustrasi foto : “Womens foot in shoes” by Kimberly Jaquez from NY, US – NEW SHOES 1. Licensed under CC BY-SA 2.0 via Wikimedia Commons.

Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

Promo Kalender

(Visited 40 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment