Tips Menjemput Jodoh Dari Allah

poligami

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

Suatu hari ada seorang akhwat yang curhat bahwa ia tengah mendambakan seorang ikhwan (pemuda)  yang saleh sebagai suaminya kelak. Ia mengaku sudah lama menunggu tapi ikhwan saleh yang diharapkan belum juga kunjung datang.Disatu sisi usianya semakin bertambah dan kawatir suatu saat akan dianggap perawan tua. Suatu sebutan yang tentu saja sangat tidak mengenakan bahkan terasa menyakitkan. Diakhir curhatnya,akhwat cantik ini pun meminta saran dan nasehat,apa yang  harus  dilakukan untuk mendapatkan suami yang saleh?

Saya paham bagaimana perasaan seorang akhwat dalam menghadapi masa penantian mendapatkan jodoh. Namun perlu kita pahami bahwa ini merupakan hal ghaib yang tidak seorang pun tahu akan berlangsung  berapa lama.  Khusus buat  teteh tersebut dan bagi akhwat yang belum ketemu jodoh yang saleh ,semoga tidak  berputus asa dan tetap bersemangat  meraih  amal shaleh dalam arti seluas-luasnya. Pergunakan energi yang miliki untuk lebih mendekatkan diri dan mencintai Allah Swt., orang tua, dan berkarya untuk umat.  Dialah pemilik alam semesta. Yakinlah dengan keadilan-Nya bahwa  setiap manusia pasti memiliki rezeki (jodoh) masing-masing. Ini semua tentang persoalan waktu saja, ada yang dipercepat (di dunia) dan ada juga yang ditangguhkan (di akhirat).

Fitrah Insani

Salah satu tanda  kebesaran Allah adalah bahwa setiap manusia mempunyai  keinginan  untuk saling menyukai  lawan jenis  dan melangsungkan pernikahan. “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap  apa yang diinginkan berupa lawan jenis,  anak-anak, harta benda…” (Q.S. Ali Imran [3]:14)

Hal tersebut (ketertarikan pada lawan jenis) akan terlebih  membahagiakan ketika kita mendapatkan pasangan yang  shaleh, melahirkan keturunan yang shaleh, rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Anggota keluarga yang shaleh akan saling mengingatakan pada kebenaran dan kesabaran sehingga tercipta miniatur surga di dunia (baiti jannati) yang pada gilirannya dapat menjadi saran berkumpul di surga-Nya kelak. Karenanya kita dianjurkan untuk senantiasa berdoa, “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami  pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S Al-Furqaan [25] :74)

Namun demikian, sebelum hari H (pernikahan) itu tiba, semua orang berada dalam situasi yang sama. Kita tidak tahu persis siapkah  jodohn kita, kapan waktunya ia akan tiba, dimana akan dipertemukan, serta apakah  ia benar-benar orang shaleh? Semua jawaban pertanyaan itu adalah   wallahu’alam bishawwab, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

  1. Ada Aneka Peluang

Allah yang Maha Mengetahui  dan Maha Kuasa  telah menadirkan  jodoh bagi setiap orang. Namun demikian, manusia tidak bisa hanya berharap dan berdiam diri. Kita harus berusaha dengan melakukan ta’aruf atau memperluas network dengan lawan jenis  secara syar’i.

Dari sana kita bisa berupaya untuk saling mengenal, mengamati  fakta- fakta pendukung,  membantu diri dengan bertawasul  amal-amal shaleh seperti shaum sunah, berbakti kepada orangtua, dan berinfaq. Usaha  yang  konsisten yang disertai optimisme dan prasangka baik insya Allah akan  mengantarkan kita pada terbukanya peluang serta alternatif pilihan. Jika kita dihadapkan pada pilihan, silahkan memilih salah satu calon pasangan. Kalau memang tidak berkenan, jangan ragu untuk menolak semua pilihan yang ada tersebut. Hendaknya menikah tidaklah  berdasar pada keterpaksaan, rasa malu pada usia (yang sudah tidak muda lagi),  atau  desakan  keluarga dan lingkungan. Allah telah memberikan kepada manusia  akal  dan aturan agama untuk menimbang, mengingat, dan memutuskan. Dengan demikian, rumah tangga yang akan dibina berjalan dengan baik serta menjadi keluarga yang shaleh.

  1. Sadari Sejak  Dini  bahwa  Pernikahan  adalah Ujian

Hidup adalah ujian. Karenanya, kita harus menyiapkan mental sejak dini. Bisa saja, takdir jodoh kita adalah orang tidak shaleh. Hal ini seperti dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman. Sesungguhnya di antara pasanganmu  dan anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka… Sesungguhnya  hartamu dan anakmu, hanyalah ujian bagimu, dan di sisi Allah pahala yang besar.” (Q.S. At-Taghaabuun [64]: 14-15)

Seyogianya kita tidak berkecil hati ketika mendapat jodoh yang tidak shaleh. Hal tersebut tetap bisa menjadi kebaikan apabila dijadikan sebagai  lahan amal shaleh dan batu ujian untuk meningkatkan keimanan, tawakal, dan kesabaran. Insya Allah, hal tersebut bisa menjadi jalan ke surga.

  1. Santai di Masa Penantian

Hadapilah dengan tenang masa-masa penantian mendaoatkana pasangan (jodoh). Isilah waktu tersebut dengan sikap easy going, santai, tidak mudah emosi  atau sensitif, serta tidak larut dalam kesedihan. Yakinlah bahwa semua situasi dan kondisi ini akan membawa kebaikan. “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin. Segala keadaan dianggapnya baik, dan  hal  ini  tidak akan terjadi, kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu  tetap baik baginya dan apabila ditimpa penderitaan ia bersabar maka itu  tetap baik baginya.” (H.R. Muslim)

Demikian sejumlah tips sederhana dari saya. Semoga ini bisa membantu. Yakinlah bahwa semua kondisi adalah baik, berguna, dan berpahala bagi kita. Semua tergantung dari sudut pandang mana kita menyikapinya. Selamat menjemput jodoh namun harus tetap dalam koridor syar’i dan tetap sabar serta terus dalam balutan ibadah.Wallahu’alambishawwab. [ ]

*Penulis seorang ibu rumah tangga,pegiat dakwah dan penulis buku

Editor: Iman                                                            

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini.

(Visited 112 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment