Islam, Sebuah Pilihan Pasti

Kurasa inilah waktunya. Saatnya mengambil keputusan penting dalam hidupku. Aku lelah dalam pencarianku. Kebencianku pada segala sesuatu di sekitarku dan ketidakterjawaban pencarianku akan kebenaran telah memuncak. Aku tidak akan melupakan kejadian malam itu.

Malam Natal 1988 adalah malam terburuk dalam sejarah hidupku. Bagaimana tidak.  Pada malam itu, sebagaimana malam-malam Natal sebelumnya, kami sekeluarga berkumpul untuk merayakan hari penting umat Kristiani, Natal Yang Agung. Namun kurasa tidak begitu agung bagi keluargaku. Atau mungkin lebih tepatnya mereka mengagungkan Natal pada satu saat dan pada saat yang bersamaan mereka juga merendahkan keagungan tersebut. Malam itu, mereka mengatakan kepercayaan kepada Tuhan, namun hal itu dikatakan dalam keadaan mabuk disertai sumpah serapah. Aku jijik melihat mereka.

iklan donasi pustaka2

Aku kecewa. Tidak tahan melihat situasi seperti itu, satu-satunya hal yang kuingat yang mungkin dapat meredakan gejolak batinku adalah pergi ke gereja. Aku pergi ke gereja terdekat. Namun apa yang terjadi? Harapan mendapatkan ketenangan di gereja ternyata tidak kudapatkan. Aneh, tidak merasakan apa pun selain kekosongan yang menyambutku.  Sekali lagi aku kecewa. Aku sedih karena merasa telah kehilangan iman Kristiani dalam hidupku.

Keesokan harinya aku segera menemui Adel, karib muslimku. Pertemana kami memang terbilang belum lama, namun kami sudah cukup akrab. Hanya saja aku selalu merasa ada yang kurang. Aku tak tahu apa. Yang jelas perbedaan keyakinan di antara kami seolah menjadi dinding penghalang kasat mata. Aku mencurahkan isi hatiku, termasuk kebulatan tekadku untuk memeluk Islam. Adel yang baik mendengarkan segala penuturanku. Ia memintaku tidak emosional, karena keputusan yang akan aku ambil akan mengubah hidupku selamanya. Namun aku meyakinkan dia bahwa keputusanku sudah final dan tidak ada alasan lagi untuk menunggu lebih lama. Binar mata keseriusan meyakinkan  Adel, ia akhirnya mau membimbingku mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat.

Dan sekarang di sinilah aku. Dalam kedamaian Islam yang tidak akan pernah aku lepaskan seumur hidup. Sebenarnya dua tahun yang lalu, ketika aku berusia lima belas tahun, aku pernah melakukan perbandingan agama dengan mengunjungi Malaysia, Singapura, dan Muangthai. Hasilnya dapat dilihat, aku semakin yakin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang layak aku ikuti.

***

Kisah di atas merupakan satu dari sekian kisah warga Australia yang akhirnya memutuskan memeluk Islam setelah melalui pergulatan batin yang hebat. Kekecewaan terhadap agama yang dianut sebelumnya serta kerinduan akan spiritualitas sejati membuat mereka mencari ‘agama’ dalam versi mereka masing-masing. Sebagian orang berpaling kepada paham atau aliran liberalisme, marxisme, bahkan komunisme.  Sebagaian yang lain memilih menjadi vegetarian atau memeluk agama-agama eksotis, seperti yang dianut beberapa selebritis dunia, di antaranya Tom Cruise yang menganut Scientologi serta Madonna dengan agama Kabala-nya.

Dari sekian pilihan pelarian atas ketidakpuasan akan nilai-nilai spiritualitas itu, Islam menjadi salah satu alternatif. Hal ini tidak bisa dikatakan remeh, mengingat setiap tahunnya jumlah muallaf di berbagai belahan dunia kian bertambah. Australian Muslim Times (27 Mei 1994) menulis bahwa 11.000 orang Amerika memeluk Islam setiap tahunnya. 40% dari kaum muslim Amerika adalah para pemeluk baru. Sebagian besar adalah warga Afro-Amerika.

Kemudian pertanyaannya adalah, mengapa mereka memeluk Islam? Islamic Horizon (November-Desember 1985) dalam salah satu artikelnya menyatakan, “Kami di Barat merasakan kehampaan dan kesepian hidup dalam masyarakat yang begitu materialistik, yang mengasingkan diri dari Tuhan dan sesama manusia. Sayang, tidak banyak orang yang membersihkan hidup mereka dari kesenjangan yang mengerikan itu, dan sementara mungkin tampak di mata orang-orang lain bahwa orang-orang Amerika sangat senang dalam hidup mereka, orang-orang Amerika sebenarnya menyembunyikan ketidakbahagiaan mereka dengan menggunakan obat-obatan, minuman keras, seks (fisikal, visual, dsb.), atau hal-hal lain yang memberikan kelegaan yang segera, meskipun bersfat sementara.”

Masih menurut Islamic Horizon (Agustus 1983), “Orang-orang Amerika, muda dan tua, saat ini sedang berputus asa mencari tuntunan hidup. Mereka mengetahui dari pengalaman pahit bahwa kebebasan pribadi, kesempatan-kesempatan yang mereka miliki dan nikmati adalah sia-sia, bahkan merusakkan diri sendiri tanpa bimbingan, pengarahan, dan tujuan hidup yang diandalkan. Sekulerisme dan materialisme tidak mampu menyediakan nilai-nilai moral yang positif dan konstruktif bagi bangsa Amerika, baik secara individual ataupun kolektif. Itulah sebabnya mengapa setelah agama Kristen dan agama Yahudi gagal menyediakan nilai-nilai tersebut, semakin banyak orang di Barat dewasa ini yang berpaling kepada Islam. Dalam Islam, para penganut baru menemukan kehidupan yang sehat, bersih, dan jujur. Bagi kaum muslim, segala sesuatu tidak berakhir pada kematian. Mereka menginginkan keabadian dalam kebahagiaan dan kedamaian yang sempurna.

Lebih detil Ward M. Long (seorang muallaf Australia) mengemukakan alasannya memeluk Islam. Beberapa poin penting yang ia lihat dan membulatkan tekadnya memeluk Islam adalah sebagai berikut.

1.    Kemanusiaan yang luas.
2.    Orang berdoa langsung kepada Tuhan tanpa lewat perantara, seperti pendeta.
3.    Sedekah dan kasih sayang kepada saudara-saudara seagama dan juga kaum non-muslim.
4.    Al Quran tidak pernah berubah sejak diwahyukan meskipun satu kata.
5.    Kami percaya kepada semua nabi, termasuk Ibrahim, Musa, dan Isa. Mereka diakui sebagai nabi-nabi Allah.
6.    Islam menjamin hak-hak wanita (hak milik, waris, dsb.).
7.    Keyakinan bahwa kita memeluk sesuatu sebaik mungkin dan hasilnya kita serahkan kepada Allah.
8.    Setiap orang sederajat di sisi Allah. Tidak ada Paus atau pemimpin agama semacam itu.
9.    Kesehatan umatnya disukai oleh Nabi Muhammad saw. yang memperhatikan kebersihan dan puasa-puasa khusus.
10.    Persaudaraan universal dalam Islam terlepas dari ras, warna kulit, negara asal, tingkat pendidikan, atau kekayaan.
11.    Islam adalah agama akal.
12.    Kata ‘Islam’ berarti berserah diri kepada Tuhan.
13.    Islam mengarahkan kehidupan kaum muslim melalui shalat harian, kajian Al Quran, dan hadis.

Keputusan memeluk Islam tentunya bukanlah sebuah keputusan tanpa risiko. Berbagai perubahan dalam rangka penyesuaian dengan tata nilai Islam adalah sebuah konsekuensi yang harus dijalani. Perubahan agama merupakan contoh transformasi ekstrim yang nyaris sempurna. Berger dan Luckmann menyebutnya alternation (1966: 176). Proses ini ditandai tidak saja dengan perubahan perilaku, tetapi juga lebih penting lagi dengan perubahan pandangan dunia. Perubahan cara berpakaian dalam bentuk demodernisasi (budaya tandingan) –dari pakaian modern ke hijab yang ‘tradisional– seperti yang dilakukan muallaf-muallaf wanita merupakan indikasi luar dari perubahan identitas dan pandangan dunia itu. (Musgrove, 1977: 168)

Keputusan yang diambil para muallaf itu adalah keputusan paling sulit dalam hidup mereka, karena menyangkut hidup dan mati, serta nasib mereka tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Karena itu setelah memeluk Islam, mereka lebih serius menjalani hidup. Mereka bukan budak-budak masyarakat yang secara membabi buta mengikuti adat istiadat masyarakat. Mereka lebih bergairah untuk mempelajari dan mengamalkan Islam, sering tanpa kompromi. Mereka ingin mempraktikkan Islam sebagaimana dulu diturunkan kepada Nabi. Mereka juga punya keberanian untuk menentang kepecayaan-kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam masyarakat. (Reeder, 1989)

Tentu saja, apabila dilihat dari kacamata susah dan mudah, maka keputusan berislam bisa dikatakan tidak mudah. Namun, bukan hal itu yang menjadi inti dari keputusan ini.  Berislam adalah sebuah pilihan yang lebih berlandaskan pada iman, bukan yang lainnya.  Hal ini menjadikan mereka (para muallaf) mampu menghadapi semuanya. Statemen menarik yang dikatakan Amin al-Ghani (seorang Muallaf Amerika) mengenai kemuallafannya ialah ketika ditanya apakah ia menyesal memeluk Islam? Jawabannya adalah, “Tidak. Aku bahagia menjadi seorang muslim. Bahkan jika aku hidup untuk kedua kalinya, aku masih ingin hidup menjadi seorang muslim, bukan lainnya.”

Muslik, disarikan dari buku ;
“Santri-Santri Bule” karya Prof. Deddy Mulyana, M.A.Ph.D

(Visited 9 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment