Yuk Lakukan Rumus 4K Agar Anak Patuh

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari*

Ibu Lena kerap dibuat bingung ketika anak semata wayangnya susah disuruh mandi. Setiap pagi dan sore hari, dia harus membujuk Rio agar mau mandi dengan beragam iming-iming. Dari dibelikan mobil-mobilan baru, sampai diajak ke pasar karnaval minggu depan. Namun, semua itu tidak serta merta membuat Rio bergegas ke kamar mandi. Kalaupun akhirnya Rio beranjak ke kamar mandi, dia asyik berendam di ember besar beserta bebek-bebek plastik kesayangannya.

iklan donasi pustaka2

Kisah ibu Maya beda lagi. Anak bungsunya hanya mau taat pada perintahnya jika suaminya ada di rumah. Dengan kata lain, sang anak lebih patuh pada perintah ayahnya daripada aturan ibunya. Satu dua kali, hal tersebut tidak mendatangkan masalah. Tetapi, lama kelamaan, ibu Maya merasa seperti dimanipulasi oleh anaknya tersebut. Bagaimana tidak? Setiap curhat tentang kelakuan anaknya, sang suami seolah tidak percaya karena memang di depannya, anaknya selalu tampil “manis”.

Ya, mendisiplinkan anak adalah tantangan tersendiri bagi orangtua. Beragam cara dan metode banyak dikemukakan para ahli, tetapi toh pada kenyataannya, mendisiplinkan anak tidak semudah seperti yang didiskusikan dalam seminar parenting. Pertanyaannya, di mana letak kesalahannya? Teorinya ataukah implementasinya?

Tanpa bermaksud menyalahkan salah satu pihak, penulis sampai pada satu kesimpulan bahwa mengajarkan kepatuhan kepada anak tidak perlu dengan cara kekerasan dan paksaan. Untuk mendisiplinkan anak, kita bisa memulainya dengan rumus 4K.

Keakraban. Ciptakan keakraban dalam interaksi dengan anak. Dua sarana yang dapat menciptakan keakraban antara anak dan orangtua adalah curhat dan lebih banyak meluangkan waktu bersama mereka. Dalam forum curhat, jadilah teman yang dapat menampung segala unek-unek dan isi hati anak. Ini akan meningkatkan kepercayaan anak terhadap orangtua yang pada gilirannya akan membuatnya terbuka mengenai alasannya tidak taat atau kerap mengabaikan perintah orangtua. Disarankan pula agar kita meluangkan waktu bersama anak, paling tidak setengah jam per hari. Tentu saja, meluangkan waktu di sini lebih pada kualitas dan bukan ditentukan oleh kuantitasnya. Saat bersama anak, berinteraksilah dengan mereka secara intens dan bukannya sekadar hadir, tetapi pikiran dan perhatian Anda terfokus pada pekerjaan atau yang lainnya.

Konsistensi. Definisinya adalah tegas kepada anak (tapi bukan keras) dan adanya penerapan aturan dan konsekuensi yang tegas. Jika anak berbuat salah yang mengharuskannya menerima konsekuensi atas perbuatan tersebut, lakukan hal tersebut secara tegas. Sekali bilang ya, maka kita jangan pernah bilang tidak, demikian pula sebaliknya. Jangan pernah membuat konsekuensi spontan yang pada gilirannya hanya akan membuat anak bingung karena menilai kita tidak konsisten.

Kepahaman. Maksudnya adalah kepahaman kita pada anak. Jika kita menghormati anak, maka dia akan menghormati kita. Jika berbuat salah, jangan langsung menyalahkan anak. Pasti ada alasan pada setiap tindakan anak dan sudah menjadi tugas kita sebagai orangtua untuk memahami hal itu dan bukannya main tuduh. Jika menyuruh, lihatlah terlebih dahulu kondisi anak. Sangat mungkin, mereka tidak melaksanakan perintah kita bukan karena sengaja mengabaikan perintah tersebut.

Adanya Keterlibatan anak dalam menetapkan solusi. Dengan mengajak anak berunding dalam menyelesaikan masalahnya, kita memberi ruang kepada anak untuk mengeluarkan pendapat dan mungkin juga solusinya. Tampung dan diskusikan pendapat anak tersebut sebelum akhirnya kita sampai pada sebuah solusi bersama. Perlu diketahui bahwa anak akan lebih bertanggung jawab bila ide atau solusi permasalahan yang dihadapinya muncul dari dirinya sendiri.

(*Penulis adalah inspirator,fasilitator dan trainer serta penulis buku-buku parenting)

Ilustrasi foto : “Kids playing pog” by Jewel457Own work. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons.

 

(Visited 23 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment