Bermaksiat Kok Malah Dapat Nikmat ? Ini Rahasianya

maksiat

Sobat PercikanIman.id, mungkin kita pernah merasa heran dan sedikit “iri” melihat seseorang atau bahkan kelompok yang hidupnya tidak taat kepada Allah alias penuh kemaksiatan, namun mendapat nikmat dibanding yang taat. Mereka tetap sehat, berlimpah harta dan kebahagiaan lainnya yang tidak dimiliki orang yang taat. Sebagai seorang mukmin, kita tidak perlu iri atau heran sekiranya kita tahu rahasianya.  Apakah itu? ya, sejatinya mereka yang  mendapat nikmat namun dalam maksiat itu sedang dalam kondisi istidraj.

Secara umum arti istidraj yakni  suatu keadaan (sebenarnya jebakan) berupa kelapangan rezeki dan segala bentuk kenikmatan duniawi padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah Swt. Jadi, ketika Allah membiarkan seorang hamba yang sengaja meninggalkan shalat, sengaja meninggalkan puasa wajib, tak  merasa berdosa atau menyesal ketika bermaksiat, mengabaikan atau menganggap sepele semua atau mungkin sebagian perintah Allah dan segala kemaksiatan lainnya hingga lupa akan kematian. Namun di satu sisi, Allah tetap memberikan ragam kenikamatan hidup seperti harta yang berlimpah, kesenangan terus menerus,dikagumi dan dipuja puji banyak orang, tidak pernah sakit,tidak pernah mendapat musibah dan segala kesenangan berupa hidupnya aman-aman saja. Kondisi ini tersebut sejatinya merupakan istidraj.

promooktober1

Dengan Maha Kuasa-Nya ,ini merupakan bentuk kesengajaan dan pembiaran yang dilakukan Allah pada hamba-Nya yang sengaja berpaling dari perintah-perintah-Nya. Allah sengaja menunda segala bentuk hukuman dan azab-Nya di dunia. Meski demikian, Allah pasti akan menurunkan dan memberikan azab-Nya, sehingga mereka baru sadar bahwa selama ini mereka lalai.  Seperti yang Allah kabarkan dalam firman-Nya:

“Ketika mereka melupakan pe-ringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami mem¬bukakan semua pintu kesenangan duniawi untuk mereka. Ketika mereka bergembira dengan pemberian itu, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Maka, ketika itu mereka terdiam putus asa.  Maka, orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. “ (QS. Al An’am: 44-45)

Allah membiarkan hamba tersebut semakin lalai dan semakin diperbudak dunia, Allah membuatnya lupa pada kematian. Banyak kisah yang dapat kita ambil hikmah dan pelajaran dari orang-orang yang bisa dikategorikan dalam istidraj tersebut. Seperti misalnya kisah Sa’labah dan Qarun dengan diberi bergelimangnya harta dan yang fenomenal tentu perjalanan hidup Fir’aun. Begitu juga kalau kita simak kisah hidup orang zaman modern ini yang bahagianya semasa hidupnya dengan bergelimang kenikmatan, namun di akhir hidupnya mendapat siksaan yang teramat pedih. Semisal Ariel Sharon (mantan Perdana Meteri Israel) yang dikabarkan mengalami koma selama bertahun-tahun, sebelum Allah mencabut nyawanya.

Janganlah kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap perbuatan orang yang zalim. Sesungguhnya, Allah menangguhkan siksaan mereka sampai hari yang membuat mata mereka terbelalak, mereka datang tergesa-gesa memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedangkan mata mereka tidak berkedip dan hati mereka kosong. “(QS. Ibrahim: 42-43)

Untuk itulah, kita harus berhati-hati jika mendapat kenikmatan hidup. Jangan dulu merasa aman, nyaman, tentram dengan hidup kita saat ini, seolah hidup kita penuh berkah dari Allah, karena bisa jadi semuanya itu malah istidraj. Jangan sampai semua kesenangan yang Allah berikan atau titipkan tersebut tapi justru membuat kita semakin jauh dari Allah dan melupakan segala perintah-perintah-Nya. Jika demikian maka sudah siapkah kita menerima konsekuensinya? . Karena yakin janji Allah itu Maha Benar.

Mengenai istidraj, Rasulullah Saw sudah mengingatkan ummatnya, seperti yang disampaikan Ubah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Apabila kalian melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.” (HR. Ahmad dan Thabrani yang disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah).

Sikap yang terbaik adalah selalu berusaha taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan niat takwa. Segala apa yang tengah kita alami dan hadapi,jalani dengan rasa syukur dan sabar. Bersyukur sekiranya itu kita merasakannya sebagai sebuah nikmat,karena dengan bersyukur Allah akan menambah kenikmatan itu.

Ingatlah, ketika Tuhanmu memberitahukan, “Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, pasti azab-Ku sangat berat.”. (QS.Ibrahim: 7).

Lalu, bersabar sekiranya keadaan tersebut tidak kita inginkan. Semoga kenikmatan yang kita rasakan betul-betul karunia dari Allah dan dijauhkan dari istidraj. Wallahu’alam. [ ]

Penulis: Iman

Editor: Candra

Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di PerciimanIman.id? Kirimkan tulisan anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami.

 

 

 

(Visited 36 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment