Ini Pengaruh Cinta dan Benci Terhadap Otak

Oleh: Ir.H. Bambang Pranggono MBA*

Perasaan cinta dan benci adalah sifat manusiawi yang dimiliki siapa saja. Saat menyukai sesuatu atau sesuatu yang bisa membuatnya bahagia ia akan memberikan rasa cinta. Demikian juga sebaliknya jika sesuatu itu tak membuatnya nyaman atau sangat menganggu bahkan sampai menimbulkan sakit hati segala maka ia akan menimbulkan rasa benci. Namun dalam Islam perasaan cinta dan benci mempunyai aturan atau kaidahnya,yakni cinta karena Allah demikian juga jika membenci karena Allah juga.

promooktober

Rasa cinta dan benci adalah anugerah sekaligus karunia dari Allah yang patut kita syukuri. Kita menumpahkan rasa cinta pada yang Allah sukai atau ridhoi. Sementara rasa benci juga wajib kita miliki dan berikan pada sesuatu yang dibenci Allah dan Rasul-Nya. Namun yang perlu dipahami adalah sesuatu yang dicinta belum tentu baik bagi kita,bisa jadi malah buruk. Sebaliknya sesuatu yang kita dibenci belum tentu  buruk bagi kita,yang pasti Allah akan dan telah memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Hal ini seperti yang dijelaskan Allah dalam Al Quran:

“…Dan bisa jadi kamu benci sesuatu padahal dia baik untukmu, dan bisa jadi kamu cinta sesuatu padahal dia buruk bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 216)

Asbabun nuzul ayat di atas adalah berkenaan dengan kebencian pada berperang di jalan Allah. Tapi coba perhatikan ayat tersebut di atas dengan saksama, kata benci dan cinta disatukan dalam satu ayat. Tentu saja, ini membuat penasaran. Seolah-olah dalam ayat tersebut diisyaratkan adanya kedekatan makna di antara dua hal yang bertolak belakang tersebut. Sebuah pepatah mengatakan, “Batas antara cinta dan benci hanyalah setipis rambut.” Bagaimana dengan temuan ilmiahnya?

Semir Zeki dan John Romaya dari University College (London) telah membuat peta sirkuit syaraf otak orang-orang yang terlibat cinta. Mereka berdua meneliti 17 orang yang sedang membenci seseorang, sebagian besar dari orang yang dibenci tersebut adalah orang yang pernah dicintai. Kepada masing-masing responden ditunjukkan foto orang yang dibenci selama 16 detik dan pada saat yang bersamaan alat scanner memetakan aktivitas otak mereka. Hasilnya menunjukkan adanya dua wilayah (sektor) otak yang sama-sama aktif ketika ada rangsangan emosi benci maupun cinta. Dua sektor tersebut dinamakan Putamen dan Insular Cortex.

Putamen berfungsi mempersiapkan gerakan tubuh sehingga bisa menjadi aktif saat bersiap membela yang orang dicintai atau bersiap menyerang orang yang dibenci. Sedangkan Insular Cortex berhubungan dengan perasaan tertekan seperti rasa cemburu. Selain itu, ditemukan pula fakta bahwa Frontal Cortex (sektor yang berhubungan dengan  kegiatan pertimbangan dan alasan) bekerja kurang aktif ketika berhadapan dengan orang yang dicintai. Ini mengakibatkan daya kritis berkurang pada mereka yang jatuh cinta. Sebaliknya, sektor ini tetap aktif ketika berhadapan dengan yang dibenci.

Zeki dan Romaya mendapati bahwa aktifitas otak selaras dengan tingkat kebencian atau kecintaan terhadap satu obyek. Akhirnya, Zeki pun mengusulkan agar brain scanning digunakan dalam pengadilan untuk mendeteksi apakah ada rasa benci (yang tinggi) yang dimiliki tersangka terhadap korban dalam kasus pembunuhan.

Kesimpulannya, sektor otak yang digunakan untuk emosi cinta dan benci adalah sama. Maka berhati-hatilah, jangan terlalu cinta pada sesuatu dan juga jangan terlalu benci karena hal itu sewaktu-waktu bisa berbalik. Ya jangan terlalu cinta kecuali kepada Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam.[ ]

 *Penulis seorang pegiat dakwah dan penulis buku

Editor: Iman

Ilustrasi foto:

Bagi Sobat Mapi  punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email : [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

Promo Kalender

 

 

(Visited 19 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment