Ini Nilai Lebih Jika Tunaikan ZIS Melalui Lembaga.

Oleh: Nanang Hidayat*        

Umat Islam sudah sangat faham tentang perintah untuk berzakat sebagi infaq wajib maupun bersedekah sebagai infak sunnah, karena begitu banyak firman Allah Swt mengenai hal ini, antara lain dalam QS. Al Baqarah 261:

iklan donasi pustaka2

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai dan pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi orang yang dikehendaki-Nya dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui

Kemudian janji Allah  yang akan mengganti harta yang diinfakkan bahkan Allah sebagai pemilik semua ciptaan-Nya memberi kesempatan untuk yang berinfak diperlakukan sebagai pemberi pinjaman kepada-Nya sebagai mana firman-Nya

Katakan, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” Allah akan mengganti apa pun yang kamu infakkan. Allah-lah Pemberi Rezeki yang terbaik.  ” (QS. Saba: 39)

Siapa pun yang memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipat ganda untuknya, dan baginya pahala mulia.”. (QS.Al Hadiid:11)

Dalam dua dekade terakhir umat Islam di Indonesia menunjukkan kecenderungan kesalehan individu yang tinggi, dan ini merupakan modal utama yang dapat dipicu menjadi kesalehan sosial yang berdampak terhadap sesama umat yang kurang beruntung. Terbukti kalau ada bencana begitu tingginya kesalehan dan solidaritas muslim ini, begitu banyak umat yang menyumbang melalui berbagai dompet kemanusiaan yang dibuka oleh berbagai institusi, dan karena masyarakat kita mayoritas muslim maka bisa dikatakan kontribusi umat Islam terhadap kepedulian tersebut juga besar. Tapi dalam kehidupan sosial lainnya kesalehan sosial untuk membantu yang lain ini jarang tersalurkan dengan maksimal, sehingga ada yang berseloroh apakah harus selalu terjadi musibah terlebih dahulu baru kesalehan sosial umat Islam dapat dimaksimalkan.

Begitu tingginya potensi kesalehan individu yang bisa ditransformasikan menjadi kesalehan sosial di berbagai kalangan antara lain karyawan di berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau Badan Usaha Milik Swasta (BUMS), para pekerja profesional seperti dokter, akuntan, arsitek, pengacara ataupun para pelaku bisnis. Mereka mempunyai taraf kehidupan yang relatif baik yang bisa digalang potensi kesalehan sosialnya.

Dengan pertimbangan bahwa yang perlu dibantu itu adalah yang paling dekat, seperti saudara kandung dan saudara se-iman yang lokasi tempat tinggalnya paling dekat,maka banyak yang menyalurkan zakat dan infaq sunnah ini secara langsung diberikan kepada mustahik.Hal ini bisa dibenarkan, namun kalau berfikir lebih luas, sebaiknya kesalehan tersebut tidak terbatas terhadap yang dekat saja.

Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan menitipkan sebagian dari jumlah yang diinfakkan melalui Lembaga Amil Zakat  (LAZ), karena umumnya LAZ mempunyai program yang lebih variatif dengan jangkauan lebih luas, tidak terbatas hanya pada santunan langsung yang bersifat charity (sosial). Terdapat beberapa nilai lebih dengan menitipkan sebagian zakat dan atau infaq sunnah (ZIS) kepada LAZ, karena biasanya LAZ mempunyai program yang terstruktur dan tersistem secara baik dan bertahap serta berkelanjutan, antara lain :

  1. Pada umumnya LAZ mempunyai program pemberdayaan ekonomi yang diharapkan bisa membantu dhuafa yang berwirausaha namun kesulitan dalam pendanaan. Program ini bertujuan agar dhuafa yang berstatus mustahik dapat mandiri bahkan suatu saat bisa menjadi muzaki.
  1. Bagi dhuafa pendidikan adalah salah satu aspek yang menjadi lingkaran tak berujung pangkal dari suatu ketertinggalan dan kemiskinan, dan LAZ biasa berkiprah dalam bidang santunan pendidikan.
  1. LAZ juga biasanya berkiprah membantu dhuafa yang terperosok dalam cengkeraman rentenir sebagai akibat keterbatasan penghasilan.
  1. Bahkan dengan melihat kenyataan bahwa banyak dhuafa yang menempati rumah tidak layak huni (rutilahu) bahkan sama sekali tidak memiliki rumah, maka kondisi ini juga memungkinkan dapat digarap LAZ, baik dalam bentuk bedah rumah atau bahkan membangun gedung untuk menampung dhuafa.

Secara umum dapat disimpulkan jika banyak aghniya yang menitipkan sebagian zakat dan infaq sunnah kepada LAZ, maka program pemihakan terhadap kaum dhuafa atau biasa dikenal dengan “Mengatasi Problem Keumatan” dapat terbuka dengan luas. Membantu mengatasi problem keumatan adalah upaya menegakkan syiar yang termasuk berjihad di jalan Allah, dan penghargaan Allah  untuk mereka tertuang dalam Al Quran:

Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan “. (QS At Taubah : 20)

Rasanya tidak ada seorangpun umat Islam yang tidak menginginkan penghargaan Allah tersebut. Penyaluran zakat dan infaq sunnah sendiri-sendiri ibarat membersihkan halaman dengan satu atau dua batang lidi, tentunya akan berbeda jika membersihkan halaman dengan satu ikat lidi. Itulah perumpamaan jika menyalurkan zakat dan infaq sunnah sendiri-sendiri dibandingkan dengan jika penyalurannya melalui Lembaga Amil Zakat. Jadi kenapa tidak ?. Wallahu’alam. [ ]

*Penulis adalah pegiat dakwah dan Direktur LAZ Zakatel Citra Caraka

Editor: Iman

Foto Ilustrasi : “Rupiah swath” by Jonny-mtOwn work. Licensed under CC BY 3.0 via Wikimedia Commons.

Sobat Mapi punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

Promo Kalender

(Visited 54 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment