Wilayah Rumah Tangga Salah Satu Lahan Ibadah Seorang Istri

Oleh: Sasa Esa Agustiana*

Bagi sebagian istri yang hanya menjadi ibu rumah tangga, ada yang kurang percaya diri ketika ada yang bertanya soal aktivitas atau pekerjaannya. Menjadi ibu rumah tangga yang saban hari berkutat dengan seputar rumah masih dianggap pekerjaan yang kurang memberi arti atau nilai lebih yang bisa dibanggakan. Untuk itu menjadi wanita karier dan lebih banyak beraktivitas di luar rumah dengan segudang kesibukan dianggap lebih memberi nilai lebih. Padahal sebagai muslimah mengurus rumah tangga adalah pekerjaan mulia dan bisa menjadi salah satu ladang ibadah. Sobat Mapi, Subhanallah, Maha-suci Allah yang telah menciptakan kita, manusia, atas fitrah-Nya,

promooktober1

(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tak ada perubahan pada fitrah Allah. (Q.S. Ar-Ruum [30]: 30).

Maka fitrah wanita, alhamdulillah, ia bisa menjadi pasangan suami sebagai seorang istri serta bisa menjadi ibu dari anak-anaknya, mengurus,mengasuh dan membesarkannya dengan didikan agama.Oleh karena itu mengurus rumah tangga (keperluan suami dan anak-anak) bukanlah hal yang sepele dan semua orang bisa melakukannya.

Sesungguhnya perintah agama bagi seorang wanita sangatlah sederhana, tidak memberatkan, yakni bisa menjaga kehormatannya, mendirikan shalat, berzakat, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengurus keluarga,

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan RasulNya.“ (Q.S. Al-Ahzab [33]: 33)

“Siapa yang di antara kalian, para istri dan ibu, ikhlas tinggal di rumah untuk mengasuh anak-anak dan melayani segala urusan suaminya maka ia akan mendapat pahala yang kadarnya sama dengan para mujahidin di jalan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sudah menjadi  sunatullah wanita  baligh mendapat siklus haid (sebelum memasuki masa menopause). Namun, sesungguhnya haid tidak mengurangi arti dari ibadah seorang wanita, karena pada masa haid, hanya hal-hal tertentu yang Allah Swt. larang, yaitu,

Pertama, melakukan shalat dan shaum (peny: bisa diganti dengan qadha shaum). Rasulullah Saw. pernah berkata kepada para wanita, “Bukankah wanita itu apabila haid tidak boleh shalat dan shaum?”. “Betul!” jawab mereka. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kedua, tidak boleh jima (Q.S. Al-Baqarah [2]: 222); Ketiga, tidak boleh berada di masjid. Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa, “Sesungguhnya  wanita haid tidak halal berada di masjid, demikan juga orang yang junub.”(H.R. Ibnu Majah dan Thabrani).Untuk larangan yang ketiga ini masih terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama,ada yang haramkan total dan ada yang membolehkan selama darah haidnya tidak mengotori masjid. Namun untuk amannya cukup di teras atau halaman masjid saja. Sementara keempat, dilarang thawaf.  Nabi Saw. bersabda, “Wanita yang sedang haid boleh melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji, kecuali  thawaf”  (H.R. Ahmad dan Ibn Abi Syaibah).

Sedangkan ibadah ghairu mahdah, yaitu aktivitas amal shaleh umum yang tata caranya tidak diatur, masih banyak dan tetap bisa dilakukan meskipun saat haid, seperti shadaqah, dzikir, membaca dan menghafal Al-Quran, dll. (peny: karena Al-Quran adalah pedoman hidup kita. Bahkan Siti Aisyah ra., beliau hafal Al-Quran, Al-Quran  inherent  (melekat) dalam ingatannya. Selain itu, tentu tidak  mungkin selama haid, seorang muslimah tidak mengingat dan mengamalkan Al-Quran. Tanpa mengurangi rasa hormat penulis, bagi yang berpendapat melarang sama sekali membaca dan menyentuh “mushaf” Al-Qur’an oleh wanita yang sedang haid.

Akhirul kata, semoga amal ibadah para muslimah khusus ibu-ibu, baik di dalam dan di luar rumah, menjadi  sarana mendekatkan  diri  meraih kasih sayang, berkah, dan ampunan Allah Swt. Insya Allah, berbekal rasa ikhlas, sabar, dan syukur sepanjang Ibu menjalankan kewajiban sehari-hari, kita memohon pada Allah Swt., fitrah itu, insya Allah dianugerahkan-Nya. Berkutat dalam mengurus rumah tangga adalah sebuah kemuliaan jika dalam ridho-Nya. Untuk itu wahai saudaraku,khususnya para bunda, senantiasalah berjuang meraih derajat takwa sampai akhir hayat menjemput . Amiin ya Rabbal’alamiin. Wallahu’alam bishawwab

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga,pegiat dakwah dan penulis buku

 

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

 

 

Bagi Sobat Mapi punya hobi menulis dan ingin karya tulis Anda dimuat di MapiOnline.com? Kirimkan tulisan anda ke email [email protected]  Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh. Gabunglah bersama kami. Info lengkapnya di sini

 

 

Promo Kalender

(Visited 21 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment