Ini Jawaban Praktis Bagi Penghujat Poligami

kereta api, jalan

Pembahasan poligami sepertinya hal menarik dan tidak akan ada habisnya. Pembahasan ini bukan hanya melibatkan masyarakat awam saja melainkan oleh ulama,artis, hingga para pejabat bahkan seorang presiden. Pro kontra selalu ada ,bagi yang pro selalu merujuk pada tuntunan syariat.

Sementara yang kontra atau anti berargumen bahwa poligami bertentangan dengan hati nurani dan hanya menyakitkan serta merendahkan kaum wanita. Parahnya mereka yang anti ini sampai menuduh bahwa poligami adalah bukti bahwa Islam bukan datang dari Allah Swt melainkan ajaran manusia yang mengedepankan ego kaum pria ketimbang memperhatikan perasaan wanita. Namun sejatinya mereka sedang berupaya merontokkan keimanan umat Islam dengan mengedepankan logika sesat.

Untuk menjawab pertanyaan atau hujatan tersebut, ada jawaban yang bisa membuktikan bahwa pemahaman mereka tentang poligami dalam Islam adalah salah. Berikut beberapa point yang bisa mematahkan argument mereka yang menghujat poligami :

  1. Dari kitab suci di dunia ini, hanya Al Quran yang mengatur batasan Istri

Al Quran satu-satunya kitab suci yang mempunyai aturan yang menyebutkan “menikah hanya satu kali saja” (Q.S. An-Nisa ayat 3). Tidak satu pun kitab suci di dunia ini yang memerintahkan seorang laki-laki menikah dengan satu orang perempuan saja. di dalam kitab suci agama lain, baik dalam Weda, Ramayana, Mahabarata, Talmud, bahkan Injil sendiri, tak akan ditemukan batasan-batasan istri. Akan tetapi baru pada abad terakhir ini bapak-bapak pendeta gereja/tokoh Kristen dan Hindu menetapkan batasan istri menjadi satu saja. Jadi, bukan berdasarkan kitab suci.

Sebelum Islam lahir, pria Kristen diperkenankan memiliki istri yang banyak, hal itu terjadi karena tidak ada batasan kepemilikan istri dalam Alkitab. Baru beberapa abad yang lalu, pihak gereja mulai menetapkan batasan tersebut menjadi satu istri saja.

Poligami juga diperbolehkan dalam agama Yahudi, menurut keterangan kitab Talmud. Atau agama Kristen dalam Alkitab. Nabi Ibrahim a.s. memiliki tiga orang istri, Nabi Sulaiman a.s. memiliki seratus istri. Praktik poligami ini terus berlangsung sampai akhirnya Biarawan Gershom bin Yehudah (960-1030) mengeluarkan keputusan penganut agama Yahudi dilarang praktik pologami. Komunitas Sephardic (salah satu suku Yahudi) yang hidup di beberapa negara Islam terus melakukan poligami samapi akhir tahun 1950. sampai akhirnya dikeluarkan Act of The Chief Rabbinate of Israel yang melarang seorang laki-laki memiliki istri lebih dari satu.

Jadi, kesimpulannya bukanlah kitab suci mereka yang mengatur jumlah istri tersebut melainkan hanya pendeta atau pimpinan gereja terdahulu atau undang-undang negara –seperti yang terjadi di India atau di China.

 

  1. Menurut Al Quran, poligami bukan hukum, melainkan pengecualian

Dalam Al Quran surat An-Nisa ayat 3 dinyatakan, ”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Sebelum Al Quran diturunkan, saat itu sama sekali tidak ada pembatasan tentang jumlah istri, banyak dari kaum pria berlomba mendapatkan banyak istri, bahkan sudah sampai ada yang mencapai ratusan. Islam memperbolehkan seorang laki-laki menikahi perempuan sebanyak satu, dua, tiga, atau empat sekaligus dengan syarat ia harus berlaku adil terhadap istri-istrinya. Dalam surat An-Nisa ayat 129 dinyatakan, “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dari ayat di atas, jelas poligami bukanlah sebuah hukum yang wajib dijalankan seorang muslim, akan tetapi sebuah pengecualian. Secara umum, Islam memiliki lima kategori hukum, yaitu:

  1. Fardu yang artinya kewajiban
  2. Mustahab yang artinya disunnahkan atau dianjurkan
  3. Mubah yang artinya diperbolehkan
  4. Makruh yang artinya tidak dianjurkan
  5. Haram yang artinya dilarang

Poligami berada di urutan hukum yang paling tengah, yakni mubah atau diperbolehkan. Hal itu tidak dapat diartikan bahwa seorang muslim yang memiliki istri dua, tiga, atau empat lebih baik derajatnya daripada yang memiliki istri satu.

 

  1. Kitab suci harus sempurna dan memberikan semua solusi umum bagi permasalahan manusia

Poligami menjadi salah satu alternatif terbaik bagi banyak masalah:

Menjadi salah satu solusi kelebihan jumlah wanita dari jumlah pria, sehingga dimungkinkan memberi kesempatan kepada semua wanita untuk merasakan kehidupan seutuhnya dengan menikah.

  • Menjadi salah satu solusi memeratakan kehidupan ekonomi.
  • Menjadi salah satu solusi bagi peningkatan harkat dan nilai kaum wanita di hadapan kaum pria. Maksudnya bila jumlah wanita berkurang karena poligami, wanita akan memiliki nilai tawar yang lebih baik di hadapan pria. Yang pada akhirnya pria juga akan terdorong untuk menjadi pribadi yang lebih baik karena semakin sulit mencari pasangan. Seperti diketahui saat ini pria terkadang menganggap enteng, bahkan cenderung melecehkan wanita, sebab ada perasaan pede kaum pria bahwa masih banyak wanita lain.
  • Menjadi salah satu solusi bagi mengurangi terjadinya perzinaan, perselingkuhan, dan sejenisnya.
  • Bila jumlah wanita terserap, akan mengurangi wanita yang berkeliaran di tempat-tempat maksiat, yang saat ini jumlahnya makin membengkak.
  • Mengaitkan dengan tiga poin di atas, otomatis akan mengurangi risiko terjadinya pernikahan perempuan muslim dengan pria nonmuslim (kafir). Selain ia berzina selamanya, akhirnya kebanyakan dari mereka murtad.
  • Akan berkurangnya wanita yang bersedia menjadi wanita simpanan (perzinaan).
  • Bila suami di jalan yang benar, lebih banyak yang mendoakan. Tadinya hanya oleh seorang istri, sekarang oleh lebih dari seorang istri, plus oleh banyak keturunannya.
  • Membantu para janda, anak yang tidak berayah, perawan tua, yang pada akhirnya dapat terwujud kebersamaan sosial dan saling menanggung. Dengan demikian, sejumlah besar wanita akan terjaga kebutuhan lahir dan batinnya.
  • Pada umumnya, suami yang telah diizinkan menikah lagi oleh istri petamanya, akan lebih sayang kepadanya, disebabkan ada perasaan penghargaan, pengorbanan, dan kesabaran besar dari istrinya tersebut.
  • Istri lebih banyak waktu untuk mengumpulkan amal ibadah: (1) membuka peluang ibadah berupa kesabaran dan akan terus melatih wanita untuk menjadi seorang yang penyabar, “Dan ketahuilah sesungguhnya kesabaran membawa kepada pertolongan, bersama kesusahan ada kegembiraan, dan sesudah kesulitan ada akan kemudahan.” (H.R. Tirmidzi). (2) lebih ada waktu untuk ikut berbagai kegiatan agama.
  • Akan adanya sikap selalu ingin tampil baik di hadapan suami karena secara psikologis ada dorongan untuk bersaing dengan istri-istri yang lain.
  • Jalan untuk menjaga kesucian dan mempersempit pintu zina. Apalagi orang yang sudah memiliki kecukupan harta duniawi, sulit menahan hawa nafsunya. Maka poligami dapat dianggap sebagai pendidik dan penyubur iman dan takwa (pengontrol hawa nafsu). Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang dari kamu sehingga hawa nafsunya tunduk (sesuai) dengan ajaran yang kubawa.
  • Menjadi jalan bagi pria yang mengalami impoten secara psikologis, misalnya pada kenyataanya banyak pria yang tidak bisa menjalani kewajiban kepada istri.
  • Dan berbagai manfaat lainnya.

Penulis : Muslik

Editor: Iman

 

 

 

 

(Visited 59 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment